GARA-GARA 3 MILLIAR

GARA-GARA 3 MILLIAR
74. Penderitaan Jimmi Dan Jamm


__ADS_3

"Kau!" Riana benar-benar berang dengan sikap Jimmi barusan. Wajahnya terlihat memerah menahan amarah. "Kekanak-kanakan sekali. Kau persis ibumu!" seru Riana.


"Jangan bawa-bawa ibuku!" ucap Jimmi.


"Kenapa? Kau tidak suka disamakan dengan ibumu? Tapi sikapmu barusan benar-benar jahat. Kau tega membuang es krim Jamm ...," Riana terdiam.


Kini pandangan kami tertuju pada Jamm yang dengan polosnya mengambil es krim yang tumpah di lantai, lalu ia memakannya.


"Jamm, jangan!" kataku. Aku menahan tangan Jamm saat ia hendak memasukkan es krim yang tumpah itu ke mulutnya.


"Huaaaaaaa!" Jamm langsung menangis histeris.


"Kau!" Jimmi dengan cepat menerjangku. Ia menendangku kuat hingga aku jatuh tersungkur.


"Hei!" Riana hendak menerjang Jimmi, tapi Jamm menghalangi. "Minggir Jamm!" pekik Riana.


"Habislah kau!" tanpa ampun, Jimmi menendang tulang rusukku untuk kedua kalinya. Ia benar-benar tidak memberiku kesempatan untuk bangkit. Tendangan dengan lutut dilancarkannya tiga kali. Aku benar-benar dibuat tidak berdaya.


"Tolong ... tolong ... tolong!" pekik Riana yang tidak bisa bergerak sebab Jamm memeluknya erat.


Entah sudah berapa kali Jimmi menendang dan memukulku. Aku sampai pusing saat pukulan mendarat di kepalaku. Aku sampai mau muntah dibuatnya.


"Hei!" samar-samar aku melihat paman Rudi datang. Ia menarik Jimmi yang masih menunjuku. "Lepaskan!" pekik paman Rudi. Tapi Jimmi menepis paman Rudi cukup keras hingga paman Rudi terhempas.


"Qret ... Jimm!" ayah segera menghampiri kami.


"Qret!" terdengar suara ibu memekik.


"Apa yang kau lakukan, hentikan Jim!" ucap ayah.


"Lepaskan, Pa!" seru Jimmi. "Biarkan aku menghajarnya!"

__ADS_1


"Jangan Jimm, ia itu anak Papa!" ungkap ayah.


"Anak? Aku dan Jamm juga anak papa. Tapi papa tidak mempedulikan kami. Sementara ia, baru dipukul segini papa sudah histeris membelanya. Papa tidak adil!" Jimmi berteriak kesal.


"Jimm, papa tahu kau marah pada papa. Kalau kau mau memukul, pukul papa. Tendang dan terjang papa saja Jimm. Papa tidak akan marah. Papa akan menerima dengan senang hati!" ungkap ayah sambil menangis.


"Qret," ibu menangis, berusaha membantuku untuk bangkit.


Ada aroma amis tercium begitu nyata. Aku juga merasakan asin. Rupanya darah mengalir di bibirku.


"Kau membuat bibirku berdarah!" kataku. "Tenang Bu, Qret tidak apa-apa." aku berusaha tersenyum ke hadapan ibu meski rasanya nyeri sekali.


"Apa yang kau lakukan, Jimm. Lihatlah itu!" ayah menunjuk aku dan paman Rudi yang terluka karena Jimmi.


"Mereka membawa Jamm," ungkap Jimmi.


"Tidak benar. Jamm yang datang sendiri ke sini. Iya kan?" tanya Riana padaku.


"Lalu bagaimana Jamm bisa ke sini sendiri?" tanya Riana.


"Jim ... Miiii!" seru Jamm, membuat kami semua sadar bahwa Jimmi ternyata memata-matai kami.


"Oh jadi kau memata-matai kami?" tanya Riana.


"Aku hanya lewat." ungkap Jimmi.


"Lewat? Berapa kali kau lewat dalam sehari, berapa lama? Oh aku ingat, jangan-jangan mobil yang kemarin berhenti tidak jauh dari rumah Qret adalah mobilmu?" Riana menceritakan tentang penemuannya kemarin, saat ia memergoki mobil berwarna putih berhenti lama di dekat rumah. "Dua kali aku memergokinya!" ungkap Riana.


"Jimm, ada apa?" tanya ayah.


"Hai, jangan menuduhku sembarangan." Jimmi masih tetap tidak mau mengaku.

__ADS_1


"Jamm, jawab ya, apa Jimmi pernah mengajakmu ke sini?" tanya Riana. Ajaibnya, Jamm menganggukkan kepalanya, sambil bertepuk tangan gembira. "Tuh kan, kau yang memberitahu tempat ini pada Jamm. Entah bagaimana ceritanya, tiba-tiba ia ada di sini. Mungkin saja kau mengatakan bahwa di sini Qret tinggal. Iya, kan?"


"Sok tahu! Aku hanya mengatakan di sini ada ayah kami." ungkap Jimmi yang secara tidak sengaja memberitahu bahwa ia memang suka mengintip ke sini.


"Tuh kan benar?" Riana bersorak senang sebab apa yang ia katakan benar.


"Kalian sembarangan menuduhku. Aku mau pulang saja. Ayo Jamm kita pulang!" Jimmi mengajak Jamm pulang, tapi Jamm menolak. Ia malah menunjuk es krim yang sudah jatuh ke lantai.


"Lihat kan perbuatan yang kau lakukan. Kau sudah membuat adikmu kehilangan es krimnya!" ungkap Riana.


"Bukan urusanmu! Ayo Jamm kita pulang. Aku bisa membelikannya es krim yang lebih banyak dan lebih enak dari ini. Bahkan pabriknya pun bisa kubelikan." ungkap Jimmi dengan sombongnya.


"Dasar sombong!" seru Riana.


"Jimm, ayo masuklah. Kita bicara sebentar di dalam ya." ajak ayah.


"Hah, masuk ke dalam rumah perempuan yang sudah menghancurkan keluargaku? Papa pasti bercanda. Cukup hanya papa yang nyaman di sana, tidak dengan aku dan Jamm. Kami masih punya otak dan hati. Bagaimana mungkin kami berada di sana sambil tertawa-tawa bahagia padahal pemiliknya adalah orang yang membuat keluargaku hancur!" ungkap Jimmi dengan mata berapi-api.


"Jimm, tolong jangan bicara seperti itu." pinta ayah.


"Kenapa? Papa tidak nyaman jika aku bicara keras pada keluarga baru papa?" tanya Jimmi.


"Jim, kau boleh memakiku, tapi kau harus tahu, semua tidak seburuk yang kau bayangkan." ungkap ayah.


"Oh ya? Apa papa tahu, apa akibat perbuatan papa. Papa di sini pasti bersenang-senang dengan keluarga baru papa. Tapi gara-gara papa, kami berdua yang jadi korbannya. Jamm yang parah, pa. Lihat ini baik-baik!" Jimmi membuka baju Jamm di bagian belakang, tampak bekas luka bakar. "Lihatlah, ini akibat dosa papa. Jamm menderita pa. Ia disetrika panas oleh mama karena mama sangat geram pada papa. Belum lagi ini dan ini!" Jimmi memperlihatkan luka lain di tangan dan kaki Jamm.


Kami tidak bisa berkata apa-apa. Bahkan ibu sampai menitikkan air mata melihat bekas luka di tubuh Jamm.


"Sudah tahu kan, kenapa aku sangat membenci Keluarga baru papa. Harusnya, kalau papa memang tidak mencintai Mama, jangan mau dinikahi olehnya apapun alasannya. Atau jangan pernah membiarkan aku dan Jamm lahir. Kami menderita pa. Sangat menderita sekali. Sampai kapanpun kami tidak akan bisa lepas dari mama. Itu semua karena papa dan perempuan itu. Kalian berdua harus menanggung dosanya sampai kapanpun. Bahkan sampai ke neraka!" ungkap Jimmi.


"Jimm!" aku membentakknya. Butiran-butiran itu mengalir lewat netraku. Lagi-lagi tanpa permisi, membuatku jadi tidak nyaman padahal sudah kutahan semaksimal mungkin.

__ADS_1


"Apa Qret. Kau tidak terima aku mengatai ibumu? Lalu bagaimana keadilan untukku? Kau tahu usiaku berapa sekarang? Dua puluh lima tahun, Qret. Tapi aku seperti bayi berusia tiga tahun yang apapun tidak bisa kulakukan sesukaku. Aku seperti seorang tahanan seumur hidupku. Itu semua karena lelaki yang kau panggil ayah!" Jimmi mengeluarkan semua derita yang ia dan Jamm tanggung.


__ADS_2