
Tidak ada yang lebih menyenangkan bagi seorang Jasmin selain ia bebas melakukan apapun yang dia mau tanpa direcoki oleh ibu. Salah satunya tentu bebas latihan kungfu. Sejak pagi, Jasmin sudah asyik mengulang jurus-jurus yang telah dihafalnya.
Setelah dirasa cukup, ia lanjut ke belakang, melihat kakek sedang menangkapi ikan. Jasmin menawarkan diri untuk membantu sebab ia gemas melihat ikan-ikan yang sudah besar-besar.
"Mau diapakan ini, kek?" tanya Jasmin, setelah pekerjaan selesai.
"Sebagian di jual, lalu ada yang untuk kita, juga dibagi ke pondok ya." kakek menjelaskan.
"Siap!"
"Yang untuk dijual, letakkan di sana saja, Jas." Kakek menunjuk box berukuran besar. "Nanti akan diambil oleh pak Karman, dia yang biasanya menjual ke pasar atau pengepul."
"Iya kek." dengan lincah Jasmin memindahkan ikan-ikan tersebut dalam box yang kakek tunjuk. Setelah itu Jasmin buru-buru mandi sebab ia sudah mencium aroma masakan nenek. Pasti waktu sarapan sudah dekat. Setiap ke rumah kakek, selera makan Jasmin pasti meningkat sebab masakan nenek sangat lezat.
Ibu sebenarnya juga sangat pintar memasak, tapi karena sibuk membantu ayah jualan, makanya jarang memasak. Di keluarga Jasmin, pekerjaan memasak adalah hak yang biasa mereka lakukan, semua orang punya bakat memasak.
Waktu mandi Jasmin harus diburu karena ia mendengar suara teriakan nenek. Karena khawatir, Jasmin segera menyudahi mandinya. Usai memakai pakaian dan kerudung, ia langsung keluar dan betapa kagetnya Jasmin mendapati nenek menangis di samping kakek yang terbaring tak sadarkan diri.
"Kakek kenapa, nek?" tanya Jasmin.
"Entahlah, nenek juga tidak tahu. Ini baru pertama kalinya. Tiba-tiba saja dia pingsan." jawab nenek.
"Lalu sekarang harus bagaimana? Apa kita bawa ke rumah sakit?"
"Cepat ke pondok, Jas. Di sana ada dokter muda. Dia pasti bisa membantu kakekmu."
"Hah, iya iya." tanpa menunggu perintah kedua, Jasmin kari tunggang langgang ke pondok yang hanya berjarak beberapa kilometer dari rumah kakek. Jalanan yang mendaki membuat Jamsin hampir tergelincir sebab ia berlari sangat kencang sekali.
Sampai di depan gerbang pondok, Jasmin kebingungan, harus ke arah mana sebab ia sudah agak lama tidak mampir ke sini. Jasmin juga lupa bertanya ke nenek nama dokter yang harus ia temui
"Tolong ... tolong ... tolong!" Jasmin berteriak dengan keras sehingga menarik perhatian semua orang. Ia yakin ini adalah cara paling efektif untuk segera mendapatkan bantuan.
"Ada apa, teh?"
"Ada yang bisa dibantu?"
"Teteh tidak apa-apa, kan?"
Hanya dalam hitungan detik, Jasmin sudah dikerubungi santriwan, santriwati, juga para ustad dan kyai.
"Itu, tolong kakek saya. Di rumah bawah. Kakek saya pingsan!" kata Jasmin, sambil menunjuk rumah neneknya.
"Pak Wijaya maksudnya?" tanya pak kyai.
__ADS_1
"Iya pak kyai. Kakek saya pingsan, saya nggak tahu harus minta tolong kes papa. Kata nenek di pondok ada dokter. Saya minta tolong sama pak dokter untuk memeriksa kakek saya." kata Jasmin.
"Oh ya. Sebentar ya nak. Tolong panggilkan dokter Ren." pak Kyai memerintahkan salah seorang santrinya.
Tidak berapa lama, keluarlah seseorang memakai baju Koko. Yang membuatku melongo, ternyata ia adalah pemuda dengan kata biru yang kemarin membuatku kesal sekaligus salah tingkah sebab penampilannya yang good looking.
"Mas Ren, tolong pak Wijaya di bawah pingsan." kata pak kyai.
Pemuda itu, mengabaikan Jasmin, ia segera turun ke bawah diikuti seorang ustad dan tiga orang santri. Sementara Jasmin ditinggalkan begitu saja.
"Pak kyai, saya pulang dulu!" seru Jasmin, lalu ia segera turun ke bawah, berlari dengan hati-hati sebab bebatuan yang cukup licin, bekas hujan semalam.
Sampai di rumah, Jasmin melihat dokter good looking tersebut memeriksa kakek. Beberapa saat kemudian kakek membuka mata. Meskipun terlihat lemah, tapi Kakek sudah bisa menjawab pertanyaan dokter Ren dengan sangat baik.
"Saya akan resepkan obat dan vitamin untuk kakek Wijaya. Jangan lupa obatnya diminum ya." kata dokter tersebut sambil menulis resep di selembar kertas yang diberikan nenek.
Selesai memeriksa kakek, dokter Ren hendak pamit kembali ke pondok. Sementara ustadz dan santri yang tadi sudah kembali duluan sebab kakek sudah sadararkan diri
"Kamu mau kemana?" tanya Jasmin, saat dokter tersebut hendak keluar.
"Ke pondok." jawabnya dengan sangat dingin.
"Oh ya, namaku Jasmin. Kamu dokter Ren ya. Eh maaf, belum jadi dokter, masih anak koas, kan?"
"Enggak apa-apa. Cuma mau bilang terimakasih sudah membantu membuat Kakek siuman. Oh ya, kamu kuliah dan praktek di mana?"
"Bukan urusan kamu!"
"Wow, galak sekali. Tapi enggak apa-apa. Aku pasti bisa mencari tahu informasi tentang kamu."
"Ckckck, dasar gadis aneh. Lebih baik kamu merawat kakekmu. Jangan ganjen!"
"Siapa yang ganjen?"
"Kamu!"
"Lho, aku nggak ganjen kok. Masa cuma ingin tahu tempat kuliah dan praktek kamu saja enggak boleh."
"Heran. Kenapa pak Wijaya cucunya seperti ini."
"Aku juga heran, kok ada cowok segalak kamu. Tapi orang cakep mah bebas, kan?
Ren tidak mengabaikan Jasmin, ia berlalu begitu saja meski Jasmin memanggil bahkan melambaikan tangannya.
__ADS_1
"Apa dosaku, sampai Harus bertemu perempuan aneh seperti itu. Mana ganjen!" begitu batin Ren sambil beedoa semoga tidak bertemu lagi dengan Jasmin.
***
"Pak Karman, pemuda yang kemarin itu siapa namanya?" tanya Jasmin pada pak Karman saat lelaki paruh baya itu sibuk memanen sayuran di pekarangan rumah kakek.
"Siapa neng?" pak Karman mengerutkan keningnya.
"Itu lho, dokter koas yang barengan naik delman waktu itu "
"O, itu mas Ren."
"Bapak kenal dekat dengannya?"
"Lumayan neng. Kenalnya sejak mas Ren lulus SMA hingga sekarang lagi jadi dokter koas."
"Bagaimana ceritanya mas Ren bisa ke sini?"
"Mas Ren itu sejak lulus SMA pengen hijrah. Akhirnya terdampar ke sini. Sambil kukaih sambil nuntut ilmu agama. Makanya bolak-balik Jakarta Bogor."
"Memang kuliah di mana, pak?"
"Itu lho neng, kampus kuning."
"O. Kalau koasnya?"
"Di rumah sakit bakti negeri."
"Oo. Makasih ya pak Karman!"
"Memangnya ada apa, neng? Hati, neng Jasmin senang ya sama mas Ken? Tapi cocok lho, neng."
"Masa?"
"Iya. Sama-sama cantik dan cakep."
"Hahaha, bapak bisa saja. Itu, penjualan sayurannya, duitnya buat bapak saja."
"Lho, kenapa neng?"
"Hadiah dari saya!"
Sambil bersenandung, Jasmin masuk ke dalam rumahnya. Sekarang ia sudah tahu mau kuliah di mana dan mengambil jurusan apa.
__ADS_1
"Dokter Ren, kamu.adalah berkah dalam hidupku. Aku sangat yakin sekali kamu adalah pelindungku. Gara-gara kamu, aku jadi terinspirasi untuk kuliah dimana!" tukas Jasmin sambil tersenyum lebar. Kini ia yang sudah tidak sabar ingin segera pulang agar bisa lanjut kuliah.