
Serpihan potongan kertas itu kini berada di dalam genggaman Jimmi, sambil tertawa terbahak-bahak, ia memamerkan padaku.
"Tidak! Jimmi, tidak! Kau cari mati, Jim? Kembalikan Jim, kembalikan!" aku langsung berusaha menggapai-gapai, tetapi Jimmi berada agak jauh dari jangkauanku. Sehingga ia tidak bisa kuberi pelajaran.
"Kamu marah, Qret?" tanyanya, dengan tatapan tanpa rasa bersalah.
"Mendekat Jim!"
"Kenapa?"
"Supaya aku bisa mematahkan tangan, kaki juga kepalamu!"
"Wow, kau sadis sekali, Qret. Hanya gara-gara kertas ini kau ingin mematahkan seluruh anggota tubuhku? Ckckck, aku takut sekali. Qret, aku ini saudara kecilmu, bukankah itu yang kau katakan sebelum-sebelumnya? Masa kau begitu marah? Saudara itu tidak akan sedendam ini, Qret. Yang namanya saudara, justru rela berkorban untuk saudaranya. Benar, kan?" tawa Jimmi kembali menggelar.
Lalu, Jimmi melemparkan kertas itu ke udara, hingga berhamburan ke lantai. Aku benar-benar habis kesabaran. Kedua tangan kukepalkan, gigi menggertak. Sedangkan Jimmi tidak terlihat merasa bersalah sama sekali. Ia masih tertawa terbahak-bahak.
Aku benar-benar jengkel dibuat oleh anak ini. Tetapi tidak bisa berbuat apa-apa selain berdoa, semoga ia terpeleset, lalu aku bisa meraihnya!
"Aww!" teriak Jimmi.
Hanya beberapa detik setelah doa itu kulafalkan, anak ini benar-benar terpeleset, sebab ia melompat-lompat bahagia karena berhasil membuatku kesal setengah mati. Sepertinya ia benar-benar merasa menang. (Adegan ini disengaja oleh author :D)
Langsung saja kuraih lehernya, kemudian aku menarik ia hingga menempel ke jeruji besi yang memisahkan sel kami.
"Habis kau Jim!" giliran aku yang tertawa.
"Qret ... Qret ... Qret aaaak!" panggil Jimmi yang berusaha melepaskan lehernya sebab aku mencekik dengan lengan.
"Jangan banyak omong. Lebih baik kau ucapkan salam perpisahan pada dunia karena aku akan menghabisimu, Jim!"
"Jangan Qret ... Qret ... Et ... Aghhhhh!"
Ayo tertawa yang lebar seperti tadi,"
"Ti ... ti ... dak bi ... saya," susah payah Jimmi bicara, tetapi ia terdengar kesulitan.
Sebenarnya aku tidak benar-benar akan mencekik Jimmi, aku masih sadar, pernah juga mendengar nasihat Heri tentang dosa membunuh orang secara sengaja begitu besar. Bahkan hampir dikafirkan, sebab membunuh satu nyawa hampir sama dengan membunuh semua orang. Sedangkan menjaga satu jiwa hampir sama dengan menjaga jiwa seluruh manusia.
Aku hanya ingin memberi Jimmi sedikit pelajaran, meskipun ini agak berlebihan. Ia harus tahu, tidak boleh seenaknya merusak benda milik orang lain.
"Qret, aku bisa mati kehabisan nafas!" Jimmi bicara dengan susah payah.
"Biar, aku memang ingin kau mati!" kataku.
__ADS_1
"Jangan begitu Qret. Aku kan saudara kecilmu!"
"Aku tidak peduli. Kau kan juga tidak peduli!"
"Tapi ini takdir Tuhan, Qret!"
"Sudah tahu begitu, kenapa kau masih juga suka mencari masalah denganku? Kau kan tahu aku ini siapa? Aku bekas ketua geng, tidak peduli dengan penilaian dunia. Kau mau mengujiku, hah?"
"Aaaaaaa!" Jimmi berteriak sebab aku mengeratkan cekikikan di lehernya.
"Sekarang, kau punya dua pilihan!"
"Apa?"
"Pertama, persiapkan dirimu menghadap Tuhan. Kedua, kau harus lakukan apa yang kukatakan!"
"Aku pilih kedua!"
"Bagus, kau harus janji padaku, tidak boleh ikut campur lagi urusanku dengan Yasmin dan katakan kalau kau bangga dan senang menjadi adik kecilku!"
"Tidak akan!"
"Oo, kau mau mati berarti?"
"Kalau tidak, cepat katakan. Aku hitung sampai tiga, kalau kau tidak bicara juga, habislah kau. Satu ... dua ... tiga!"
"Qret, aku bangga dan bersyukur sekali menjadi saudara kecilmu!"
"Apa? Ulangi, aku tidak dengar!"
"Qret, aku bangga dan bersyukur sekali menjadi saudara kecilmu!"
"Hahaha ...." tawaku langsung pecah mendengar pengakuan dari Jimmi yang kuyakini ia begitu kesal sekali menyebutnya. Aku tidak peduli, biar dia juga merasakan tidak enak sepertiku juga.
"Sudah belum?"
"Hei, kau belum janji?"
"Aku tidak mau, Qret!"
"O, kalau begitu aku akan menghabisimu!"
"Qrettttt! To ... longggg!"
__ADS_1
Aku mengeratkan cekikikan, sementara Jimmi berusaha melepaskan. Kami berdua sama-sama berusaha melakukan apa yang kami inginkan.
Sedang bertengkar seperti itu, tiba-tiba datang polisi penjaga. Melihat posisi kami, yang satu mencekik, yang satu tercekik, polisi tersebut langsung panik.
"Ada apa ini? Tolong, ada apa ini?" tanyanya, panik.
"Tolong!" pekik Qret.
"Eh pak polisi!" aku langsung melepaskan Jimmi hingga ia terjatuh ke lantai sambil terbatuk-batuk. "Ini pak, kami sedang bercanda. Pak polisi punya saudara, kan? Nah, pasti pernah melakukan hal seperti ini, kan?"
"Apa maksudmu?" ucap Jimmi.
"Apa adik kecil? Kau jangan marah-marah lagi. Aku capek tarik-menarik denganmu. Aku tidak ingin lagi bermain gulat. Kita sudah tua, adik kecil!" aku tertawa kecil.
"Hei Qret!" Jimmi mengepalkan tangannya.
"Oh jadi mas Qret dan pak Jimmi sedang bercanda? Iya, mas Qret, saya dengan Abang saya juga suka bergulat seperti ini!" kata polisi tersebut.
"Hahaha, iya. Kami sudah lama tidak bertemu. Jadi saling rindu, makanya meski di penjara, jadi saling kangen dan ingin lanjut bercanda!" kataku, dengan penuh rasa percaya diri.
"Hei, siapa yang bercanda?" Jimmi menunjukku dengan tatapan penuh kemarahan. "Kau mau mencekikku. Iya, kan?"
"Nah itu, saudara kecil memang suka begitu. Iya kan pak polisi?" tanyaku, pada polisi tersebut.
"Iya mas Qret!" ia ikut tertawa denganku.
"Ngomong-ngomonb ada apa, ya pak polisi?" tanyaku.
"Ada tamu untuk mas Qret." katanya. Ia membuka pintu sel, lalu mengajakku keluar. "Saya tidak menyangka, mas Qret seakrab itu dengan pak Jimmi. Padahal kalian saudara tiri."
"Hahaha," aku tertawa lagi.
"Awas kalian berdua!" cetus Jimmi sambil mengacungkan tinju ke arah kami berdua.
***
Namanya Alifa Maulida. Ia putri dari pak Bagus. Putri tunggalnya. Berprofesi sebagai seorang pengacara, dari kartu nama yang ia berikan, aku yakin ia bukan orang biasa. Selama ini ia tinggal di luar negeri, baru beberapa bulan ini ia bolak-balik Indonesia dan Australia, sebab suami dan putranya masih menetap di sana.
Alifa, tiba-tiba aku ingat sebuah nama yang ada di dalam Al-Qur'an tersebut. Jangan-jangan itu miliknya.
"Maaf, Alifa, sepertinya Qur'an milikmu ada pada saya." kataku. Aku memang memanggilnya Alifa, seperti permintaannya, sebab usianya dua tahun di bawahku.
"Oh iya, ayah juga kemarin mengatakannya padaku. Aku tidak mengerti mengapa ayah menyerahkannya padamu, padahal itu Qur'an kesayangannya. Itu pemberianku. Biasanya tidak ada yang boleh meminjamnya. Kalau kamu bisa menyentuhnya, berarti kamu istimewa bagi ayah." kata Alifa, saat kami mulai berbincang dengan akrab.
__ADS_1
Istimewa? Seorang yang tengah dituduh sebagai penjahat sepertiku? Mungkin ini penilaian yang terlalu berlebihan dari Alifa. Tetapi melihatnya penuh keyakinan, aku jadi sedikit geer. Siapa yang tidak senang dianggap istimewa oleh seorang seperti pak Bagus. Aku sendiri, entah mengapa langsung menghormati bapak tersebut. Selain karena ia membantuku, juga sikapnya yang begitu adil.