
Sudah dua kali Yasmin ikut terapi, ia terlihat begitu bersemangat, bahkan terlalu semangat hingga tampak seperti memaksakan diri. Mungkin karena paham bahwa aku mengamatinya, maka Yasmin memintaku untuk pergi dari tempat terapi, kembali dengan pekerjaanku.
"Mas tenang saja, aku akan menjalani terapi dengan baik. Sekarang pulanglah dan jemput aku nanti tiga jam lagi." kata Yasmin, sambil memintaku kembali ke rumah.
"Tiga jam? Apa itu tidak berlebihan, Yas?" tanyaku. Mengingat saran dokter Irene agar menjalankan terapi selama satu jam tiap sesi.
"Tidak. Malah sebenarnya kurang, mas. Ingat kata dokter Irene beberapa hari lalu saat membuka gipnya, bahwa seharusnya hanya tiga kali terapi aku sudah bisa jalan. Tapi lihat? Ini sudah yang ketiga kalinya tapi rasanya masih nihil. Mungkin karena aku terlalu santai dan aku tidak mau lagi seperti itu. Aku harus berusaha keras agar bisa segera berjalan!"
"Yas, jangan terlalu memaksakan diri." pintaku.
"Enggak mas. Aku tahu bagaimana diriku sendiri. Aku merasa ini belum apa-apanya. Makanya mas percaya saja. Aku akan tunjukkan hasil terbaik." Yasmin menepuk pelan pundakku, memberi isyarat agar aku segera meninggalkannya. "Aku akan baik-baik saja. Aku hanya butuh waktu untuk bisa berlatih dengan penuh semangat!" Yasmin mekambaikan tangannya, lalu ia memutar kursi rodanya menuju aula tempatnya menjalankan terapi. "Sudah mas, pulanglah." tidak lupa diberinya senyuman untukku.
"Iya Yas. Hati-hati ya. Aku akan datang tiga jam lagi. Kalau ada apa-apa segera hubungi aku. Kau mengerti, kan?"
Sebenarnya aku masih khawatir padanya, tetapi melihat Yasmin yang penuh semangat, akhirnya kuberikan ia kebebasan menjalankan terapi. Aku tidak mau ia terbebani karena keberadaanku di sisinya.
Tiga jam menanti Yasmin, kuputuskan kembali ke rumah menyelesaikan tugas memasak. Ada seratus cup cake yang belum ditopping, sementara besok pagi semuanya harus selesai. Makanya kuputuskan untuk menyelesaikan semuanya meski Yasmin sudah berpesan agar menyisakan pekerjaan untuknya, tetapi aku tidak mau melihat Yasmin terlalu lelah. Biarkan sepulang terapi nanti ia beristirahat.
***
Perempuan yang menjadi pemilik hatiku itu terduduk di lantai. Sekuat tenaga ia berusaha bangkit, namun kembali jatuh. Kedua manik matanya berkaca-kaca. Mungkin ia terlalu putus asa.
Ingin sekali aku berlari mendekatinya, memeluk kuat agar ia tahu bahwa aku akan selalu ada untuknya. Tapi aku ragu, apakah kehadiranku benar-benar ia harapkan atau justru jadi beban untuknya.
Masih sambil mengintip, aku terus menyaksikan bagaimana ia Memaksakan dirinya untuk bisa melangkah meski dibantu oleh dua penopang di tangan kanan dan kiri.
"Yas, tolong jangan begitu." bisikku dengan hati yang teramat remuk melihatnya kembali terjatuh.
__ADS_1
Ia pasti begini karena memikirkan perkataan Jimmi. Aku jadi merasa tidak berguna sebab tidak bisa melindungi perempuanku dari kejahilan lisan Jimmi.
Terkadang heran juga, kenapa masih ada saja orang-orang yang suka membuat orang lain sakit hati meski ia tidak pernah disakiti.
Ditolak oleh orang yang kita cintai bukan berarti harus mengganggu hidupnya. Cinta itu tidak dapat dipaksa, ia selalu tahu kemana harus berlabuh. Jika memang tidak jodoh maka sekeras apapun berusaha bahkan memaksakan tidak akan
***
Sejak pulang dari tempat terapi, Yasmin lebih banyak diam. Entah apa yang dipikirkan olehnya. Aku sendiri tidak tertarik untuk bertanya tentang terapinya sebab khawatir akan jadi beban untuknya.
Pagi ini, saat aku sedang sibuk dengan pesanan-pesanan untuk nanti sore, sementara Yasmin berbaring di atas sofa. Hal yang tidak biasa ia lakukan sebab Yasmin adalah orang yang tidak biasa diam.
"Yas, mau coba risol mayonaise buatannya?" tanyaku, sambil membawa satu risol di atas piring kecil.
"Tidak." katanya.
"Tidak mau mas, leherku sedang sakit."
Aku segera menggenggam tangan Yasmin, lalu beralih ke dahinya. Panas. Khawatir terjadi sesuatu padanya, makanya kuajari Yasmin ke rumah sakit, tetapi ia menolak.
"Aku mau istirahat saja." katanya. "Mas lanjutkan saja pekerjaan mas, maaf aku tidak bisa membantu." Yasmin memejamkan matanya.
"Kalau begitu aku buatkan minuman hangat ya, supaya tenggorokan kamu lega." aku segera berlalu ke belakang, meracik ramuan tradisional yang jadi andalan kami kalau sedang meriang. Jahe dan serai, direbus hingga mendidih, lalu ditambah sedikit madu.
Yasmin menghabiskan satu gelas minuman yang kubutakna, setelah itu ia tertidur. Kuputuskan untuk kembali bekerja, nanti kalau ia bangun dan belum ada perubahan barulah akan kubawa ke rumah sakit.
***
__ADS_1
Aku terpaksa menitipkan Yasmin yang masih tertidur pada Riana sebab harus mengantarkan makanan untuk pengajian sore ini.
"Kau tenang saja Qret, Yasmin aman bersamaku." ungkap Riana penuh percaya diri.
"Tapi tolong jangan ganggu tidurnya. Biarkan saja hingga ia puas." kataku.
Setelah pamit, aku segera berlalu menuju daerah sebelah. Tanpa pernah kuduga, ibu yang memesan nasi dan snak untuk sore ini ternyata tertarik untuk menjadi langganan tetapku.
"Kalau mas Qret bisa menyanggupi, saya mau pesan risoles dan bolunya setiap hari untuk dijual di cafe saya. Setiap hari saya pesan seratus buah dulu. Kalau penjualannya bagus, bisa jadi pesanan akan naik. Tapi saya mau kualitas yang sama dengan apa yang saya beli sekarang " kata ibu tersebut.
"Siap bu. Saya senang sekali dengan kerja sama ini. InsyaAllah saya tidak akan menurunkan kualitas." aku menyanggupi perjanjian yang kami buat.
Rasanya sudah tidak sabar ingin memberitahu Yasmin tentang pelanggan baru kami. Sampai di rumah, kulihat rumah tertutup rapat. Saat aku memanggil-manggil Yasmin dan Riana, tidak tampak ada tanda-tanda ada mereka di dalam.
Ya Tuhan, ada apa ini? Aku berubah gusar, tidak ingin membayangkan hal-hal buruk, tetapi bayangan itu tiba-tiba saja muncul tanpa permisi.
Teringat saat Yasmin mengalami kecelakaan. Wajahnya yang ditutupi darah. Lalu ketika ia duduk di lantai dengan keadaan kacau, sementara sekeliling rumah pun juga berantakan.
Ada apa ini? Semoga saja tidak ada apa-apa pada Yasmin.
Buru-buru aku ke rumah sebelah, mencari Riana. Tadi aku meninggalkan Yasmin bersama Riana. Kalau aku bisa menemukannya, harusnya bisa bertemu dengan Yasmin juga.
"Lho, bukannya Riana ada di rumahmu?" Deni balik bertanya padaku, sehingga membuat kedua kaki ini lemas seketika.
"Kemana dia? Rumah kosong. Yasmin tidak ada di sana." aku mulai dihinggapi rasa takut.
Lalu teringat kejadian saat di Singapura, ketika tiba-tiba Yasmin menghilang, kemudian aku menemukannya di pinggir jalan raya. Ia bersiap untuk menabrakkan dirinya ke kendaraan yang lalu-lalang.
__ADS_1
"Tidak Yas, aku mohon jangan lakukan itu akhirnya!" aku menjerit, laju bergegas pergi untuk mencari Yasmin.