GARA-GARA 3 MILLIAR

GARA-GARA 3 MILLIAR
177. Mia Bertengkar Dengan Joko


__ADS_3

"Mia, itu tadi tulisan kamu, kan?" tanya Joko, setelah mereka berada agak jauh dari kamar mandi, tetapi Mia bisa mengawasi siapapun yang berada di sekitar kamar mandi.


"Apasih." Mia mencoba menepis Joko yang terus meminta jawaban darinya.


"Itu tulisan kamu, kan?"


"Iya Joko. Lalu kenapa kamu berisik sekali? Jangan bilang kamu kepo."


"Ada siapa di dalamnya?"


"Di dalam mana?"


"Jangan pura-pura tidak tahu Mia, aku yakin ada seseorang yang kamu kurung dalam kamar mandi itu. Ayo jawab!"


"Enggak ada siapa-siapa!"


"Baiklah, aku akan ke sana dan memeriksa sendiri!"


"Joko ... tunggu. Kamu mau ngapain?" Mia berusaha menghalangi langkah Joko.


"Jawab jujur atau aku benar-benar marah dan membongkar semuanya!"


"Iya iya iya. Di dalam sana ada Jasmin."


"Hah, gadis itu lagi. Kenapa sih kamu jahat sekali padanya?"


"Kamu mau tahu? Sebab dia sudah merebut Ren dari sisiku. Gara-gara dia, aku nggak bisa mendapatkan cintanya Ren. Aku kecewa Joko. Aku patah hati, padahal aku sudah berusaha semaksimal mungkin untuk mendapatkan cintanya Ren, tapi dia nggak pernah menyadarinya.


Ren nggak akan pernah menganggap aku ada selama ada gadis itu di sekitar Ren. Itulah sebabnya aku menguncinya di sana, ku harap ia mati kehabisan oksigen sebab kamar mandi itu pakai pengaturan!"


"Gila kamu Mia. Itu namanya kamu mau bunuh orang!" Joko kembali hendak pergi menuju kamar mandi, tetapi lagi-lagi Mia berusaha menghalanginya dengan air berurai air mata. "Lepas Mia, lepaskan. Biarkan aku membuka kamar mandinya, kalau nggak gadis itu bisa mati kehabisan oksigen." Joko tahu bahwa kamar mandi tempat Jasmin terkurung adalah kamar mandi dengan desain yang cukup rumit. Apabila dikunci, maka secara otomatis semua jendela dan ventilasi akan tertutup. Siapapun yang berada di dalamnya akan kehabisan nafas.


"Enggak, aku nggak akan mengizinkan kamu melakukannya Joko. Biarkan saja dia di sana. Tolong jangan lepaskan gadis itu!" pinta Mia sambil menarik lengah Joko.


"Mia, pikir baik-baik dengan hati yang tenang. Hilangkan dulu rasa cemburu kamu. Di dalam sana, perempuan itu, kalau dia terkurung lebih lama lagi maka akan lemas. Dia akan kehabisan oksigen dan lama-kelamaan bisa mengakibatkan kematian.

__ADS_1


Kalau dia mati, kamu juga yang akan dapat masalah. Keluarganya nggak akan mungkin membiarkan masalah ini begitu saja. Mereka pasti akan mengusutnya dan kamu akan ketahuan. Ingat bahwa kampus ini sangat canggih, CCTC di mana-mana.


Jangan samakan kasus ini dengan apa yang sudah kita lakukan kemarin. Pihak rektorat memaafkan kamu hanya karena mereka segan dengan ayah kamu. Makanya mereka memilih tutup mulut. Pura-pura enggak tahu dengan kejadian kemarin. Semua rekaman CCTC juga sudah dihapus. Tapi aku nggak yakin, kalau sampai hal buruk terjadi pada gadis itu, pihak kampus akan tetap melindungi kamu sebab sudah berhubungan dengan hukum. Paham kamu!"


"Tapi Joko ...."


"Udah, nggak ada tapi-tapi. Cemburu boleh, tapi pakai juga otak kamu." hanya sekali tepis, tangan Mia langsung terhempas dari lengan Joko. Lelaki itu berlari kecil menuju kamar mandi tempat Jasmin terkurung. Setelah memastikan bahwa tidak ada yang melihatnya, Joko segera mengambil kertas pengumuman tersebut, lalu membuka pintunya. Setelah itu ia segera berlalu kembali pada Mia.


Dari kejauhan, Joko melihat pintu terbuka. Ia melihat gadis itu keluar dengan tubuh yang sudah sangat lemas.


"Kamu lihat perbuatan kamu. Sebenci apapun kamu padanya, jangan pernah mengotori tangan sendiri. Queen, kamu punya aku yang siap melakukan apapun untukmu. Jadi jangan nekat lagi ya." pinta Joko.


Dari kejauhan, dua pasang mata itu masih memperhatikan Jasmin yang berdiri sambil bertopang pada dinding kamar mandi. Ia sedang berusaha mengumpulkan banyak oksigen dalam paru-parunya. Tiba-tiba Jasmin jatuh, tetapi tubuhnya segera tertangkap oleh seseorang yaitu Ren. Tentu saja apa yang baru saja terjadi membuat Mia semakin murka.


"Lihat apa yang sudah kamu lakukan. Benar-benar kamu Joko, kamu sudah membuat Jasmin dan Ren semakin dekat. Kamu niat nggak sih bantuin aku? Lihat, Ren menggotong gadis itu!" Mia berteriak sambil memukul lengan Joko.


***


"Jas, apa yang terjadi. Kenapa kamu bisa pingsan. Jas, ayo bangunlah." pinta Ren, sambil berusaha mengipas Jasmin.


"Tapi kenapa dia nggak bangun-bangun juga?"


"Ya sabar, namanya juga orang pingsan."


Tidak berapa lama Jasmin bergerak pelan. Ia membuka kedua matanya, lalu mulai menggerakkan bibirnya. Ren yang berada di sisi Jasmin bernafas lega saat melihatnya


"Kamu sudah bangun?" tanya Ren.


"Dimana ini? Aku kenapa?" tanya Jasmin.


"Kamu di klinik. Tadi kamu jatuh pingsan."


"Hah?"


"Kamu kenapa Jas, apa kamu sakit?"

__ADS_1


"Enggak. Aku tadi terkurung di kamar mandi. Tapi sebelum terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, tiba-tiba pintu kamar mandinya terbuka sendiri. Sepertinya kamar mandi itu rusak."


"Astagfirullah, makanya kalau kemana-mana jangan sendirian. Bawa teman agar ada yang membantu saat kejadian seperti ini."


"Teman?"


"Ya, teman. Oh iya, aku lupa, kamu kan makhluk individu."


"Aku? Bukannya kakak juga?"


"Maksudnya?"


"Ya, kakak kan juga makhluk individu. Kemana-mana selalu sendiri. Iya, kan?"


"Heh, sudah ditolong malah meledek orang lain."


"Aku nggak minta kakak tolong."


"Ya sudah!" Jasmin berusaha bangkit, tetapi ia nyaris terjatuh karena tenaganya habis. "Eh, kalau masih sakit jangan memaksakan diri. Kalau kamu kenapa-napa bagaimana?"


"Apanya yang bagaimana?"


"Maksudku, apa kamu nggak kasihan dengan ibu dan ayahmu? Kamu kan anak mereka satu-satunya."


"Kakak ini benar-benar tidak punya pendirian. Katanya tidak peduli, tapi masih saja memaksakan kehendaknya. Sekarang malah membawa-bawa ayah dan ibuku. Dengar ya, kalaupun aku kenapa-napa, itu bukan urusan kakak!"


Jasmin dan Ren kembali terlibat perdebatan. Sementara dari balik jendela, tampak sepasang mata Mia menyaksikan dengan hati membara menahan api cemburu yang berkobar-kobar. Ia benar-benar kesal melihat ini semua.


"Ke ... kenapa mereka malah semakin dekat?" tanya Mia. "Harusnya aku yang di sana. Kenapa Ren malah memilih hadis itu? Aku sangat mencintainya!"


"Mia, kamu mau sampai kapan seperti itu? Sekarang buka kedua matamu, Ren tidak menyukai kamu, tetapi wanita itu. Lihatlah bahwa mereka saling mencintai.


Jangan buang-buang waktu kamu lagi. Segera lupakan dia dan lanjutkan hidupmu. Mengerti!"


"Nggak, nggak akan pernah. Aku nggak akan bisa melepaskan Ren. Aku mencintainya dan kamu nggak berhak melarang. Lagipula sebelum bicara harusnya kamu ngaca dulu Joko, bukannya kamu melakukan hal yang sama? Aku nggak pernah mencintai kamu tapi kenapa kamu masih ngejar-ngejar aku? Mikir kamu Joko!" Mia bicara dengan lantang. Ia tidak pernah bisa menerima nasihat untuk meninggalkan Ren sebab lelaki itu adalah cintanya.

__ADS_1


__ADS_2