GARA-GARA 3 MILLIAR

GARA-GARA 3 MILLIAR
24. Jasmin Diam (2)


__ADS_3

Sudah dua jam Ren mondar-mandir di kamar, kadang sesekali fokus denabb Hpnya untuk memencet nomor Jasmin, tapi yang dihubunginya tak kunjung mengangkat.


"Apakah ia benar-benar marah?" Aghhh, Ren semakin uring-uringan.


Krek. Pintu kamar terbuka, Jasmin masuk. Ren langsung mendekat, tersenyum pada Jasmin sambil menanyakan dari masa saja ia, kenapa gak menjawab telepon darinya.


"Jas, ditanya kok nggak jawab?" tanya Ren lagi dengan nada lembut sebab ia sadar bahwa di sini ialah yang bersalah.


"Apasih?" Jasmin melirik ke arah Ren, lalu menyambar handuk, masuk ke kamar mandi dan menguncinya rapat-rapat.


Selesai mandi, ternyata Ren masih seperti sebelumnya, terus saja mengikuti kemanapun Jasmin pergi hingga akhirnya ia jengah juga.


"Kakak itu kenapa, sih? Sekarang sudah sadar bersalah, makanya ngikutin aku terus?" Jasmin mulai kesal.


"Heheheh, baiklah, aku mengaku salah Jasmin. Aku benar-benar menyesal, tapi kamu harus tahu bahwa apa yang dikatakan Joko itu tidak benar. Aku sangat peduli dengan kamu. Dan dengan Mia, ia hanya sebatas sahabat. Bagaimana mungkin aku bisa mengabaikannya padahal aku tahu ia dalam bahaya. Kita kan makhluk sosial, pasti punya empati pada ornag lain." Ren mencoba membela diri.


"Lalu bagaimana setelah kakak tahu kalau ia pernah beberapa kali mau mencelakai aku dan lebih parahnya lagi ia punya niatan mau menghancurkan rumah tangga kita. Bagaimana kak? Benar kan apa yang aku katakan dulu. Tidak, bukan hanya aku yang bicara, tapi ibu juga. Tapi kakak mengabaikan kami dan malah memilih percaya padanya. Aku sungguh-sungguh kecewa!" Jasmin hendak berlalu, tapi Ren cepat-cepat menangkap tangannya.


"Iya, aku yang salah. Aku mengaku, jadi tolong maafkan aku. Masa Joko yang sudah segitu jahatnya bisa kamu maafkan, tapi aku suamimu yang menikahi kamu dan mencibtai kamu tidak dimaafkan? Tidak adil sekali. Jas, bagaimana pun juga kita kan saling mencintai. Kalau aku salah, maafkan aku."


"Enak sekali. Kakak tidak tahu bagaimana rasanya sakit hati ini sebab ulah kakak dan Mia. Kalau kakak mau care sama Mia, kenapa dulu menikahi aku, bukan Mia saja? Lagipula sudah kukatakan kalau perasaan cintaku pada kakak perlahan sudah mulai pudar. Mungkin sekarang hanya tersisa sepuluh persen."


"Astagfirullah, Jasmin. Kenapa jadi begitu sedikit. Jangan begitu. Tolong jangan biarkan perasaan cinta kamu hilang!".


"Apa kakak tahu bagaimana rasanya jadi aku? Capek kak. Sakit juga! Aku lelah, tapi kakak tidak perduli. Selama ini aku berjuang sendiri, kakak sibuk mensupport Mia. Aku juga punya batas kesabaran. Aku sudah memutuskan tak akan menghabiskan sisa usiaku dengan lekaki yang tidak mencintaiku!"

__ADS_1


"Kata siapa? Aku mencintaimu Jasmin!"


Mati-matian Ren membujuk Jasmin. Awalnya istrinya tetap mau mengabaikan sebab ia sudah sangat lelah. Tapi melihat kesungguhan Ren, akhirnya Jasmin memberikan satu kesempatan lagi.


"Hanya satu, kalau kakak tetap berhubungan dengan Mia atau perempuan lain tanpa sepengetahuan aku, maka tak akan pernah lagi ada kesempatan. Paham!" ancam Jasmin.


"Iya, aku mengerti Jas. Aku tak akan pernah melukai kamu lagi. InsyaAllah." Ren menunjukkan jari kelingkingnya. "Sekarang kamu mau apa?" tanya Ren.


"Aku mau makan di luar. Bosan masak mie instan terus. Sementara ibu belum juga kembali." ungkap Jasmin.


Ibunya dan bibi Riana sedang ke Bogor, melihat rumah kakek dan neneknya, sekaligus memantau Riu yang sedang praktek mengajar di pondok pesantren yang berada di dekat rumah kakeknya, sekaligus pondok tempat Ren pernah ngaji.


"Baik, kalau begitu kita makan di luar!" seru Ren.


Jasmin sangat suka suasana di cafe ini, dulu ia selalu berharap kelak setelah punya pasnagan bisa makan romantis di sini.


Suasana cafe dengan nuansa putih, dikelilingi hutan buatan membuat semuanya jadi romantis. Apalagi ada balon-balon berwarna biru dan pink yang mempercantik cafe.


Jasmin dengan sigap memesan menu makanan kesukaannya, lalu diikuti oleh Ren. Sambil menunggu pesanan datang, mereka berdua mengenang kembali perjalanan cintanya.


"Ahhh kenapa jalan cinta kita nggak ada kenangan manisnya?" kata Jasmin, ia membuang muka. Sejak dulu ialah yang selalu berjuang, semnetara Ren menjadi lelaki dingin yang tak pernah peduli padanya.


"Siapa bilang aku yak perduli." sanggah Ren. "Aku perduli kok."


"Mana buktinya? Tidak ada kan? Ughhh, kasihan sekali aku ini!" Jasmin kembali mengeluh kesal.

__ADS_1


Tiba-tiba Ren maju, lalu naik ke atas panggung, mengambil gitar dan mulai memetiknya. Sejujurnya Ren keringat dingin sebab sudha lama tidak memainkan alat musik, selama ini ia lebih sering bermain denhan alat bedah. Terakhir Ren main gitar saat ujian kesenian kelas satu SMA.


"Bagaimana ini!" Ren agak bingung, saat harus memetik kunci gitar sebab ia tak terlalu hafal kuncinya. Padahal ia sudah terlanjur maju ke atas panggung dan memberi pengumuman pada pengunjung akan mempersembahkan sebuah lagu untuk kekasih halalnya.


Treng. Tiba-tiba terdengar suara piano. Saat Ren melirik, ianterkejut sebab Jasmin yang memetiknya.


Kenapa ia ikut-ikutan naik panggung? Tapi debgan adanya Jasmin menyelamatkan muka Ren yang sudah memerah akibat malu.


Tiba-tiba suara tepuk tangan penonton membuat Ren tersadar. Cepat-cepat ia turun, menyusul Jasmin yang sudah lebih dulu berlalu. Ren mengira Jasmin akan kembali ke tempat duduk, ternyata tidak, ia keluar dari cafe.


"Jas!" Ren mengejar langkah Jasmin, setelah sejejer, ia kembali melempar senyum.


"Kamu ... bisa main piano juga?" tanya Ren.


"Hm," jawab Jasmin, masih dengan malas-malasan. Entah, harus berapa lama ia bersikap cuek seperti ini, tetapi Jasmin merasa lebih nyaman seperti ini, bukan sekedar untuk membalas Ren, mungkin karena ia sudah lelah mengejar, makanya memutuskan untuk berlalu.


"Sampai kapan kamu mau seperti ini?"


"Entah. Tapi biasanya kalau aku sudah kesal apalagi muak pada seseorang memang akan seperti ini. Lagipula bukannya kakak suka aku yang seperti ini. Tidak ribut di samping kakak dan terus-menerus meminta perhatian."


"Oke Jas, aku minta maaf. Tapi sekarang aku mohon, kembalilah seperti Jasmin yang dahulu. Jujur aku tidak nyaman kalau kamu terus menghindar. Aku lebih suka Jasmin yang berisik dan terus mengikutiku."


"Sayangnya aku sudah tidak mau. Lelah kak, berada tetap di sisi seseorang tapi ia tak perduli, justru memikirkan perempuan lain. Kakak lebih peduli kesusahan orang lain oadahal ternyata semua adalah kebohongannya saja.


Sementara aku yang jujur, diabaikan. Kakak tidak tahu banyaknya kesulitan yang aku jalani. Rasanya sakit!" Jasmin bicara dengan suara bergetar hingga akhirnya ia tak sanggup lagi. Bukit itu kembali turun. Lalu ia segera berlalu, tak ingin membiarkan Ren melihatnya menangis. Biarlah, untuk smenetara waktu mereka berpisah, memberi jeda agar bisa sama-sama instrospeksi.

__ADS_1


__ADS_2