GARA-GARA 3 MILLIAR

GARA-GARA 3 MILLIAR
18. Riu Diledek


__ADS_3

Dari luar kamar terdengar suara penghulu memulai acara. Jasmin buru-buru menyalakan layar yang terhubung dengan kamera di luar sehingga mereka bisa memantau apa yang terjadi di luar. Mereka berempat menyimak dengan seksama hingga masuklah padabacara inti, dimana Jimmi memegang tangan pak Bagus, lalu mereka melakukan ijab kabul dengan lantang dan penuh percaya diri.


Alhamdulillah. Baarakallaahu laka, wa baaraka 'alaika, wa jama'a baynakumaa fii khair. Jimmi dan Alifa telah resmi menjadi suami istri.


"Ibu, selamat. Aku benar-benar bahagia!" ungkap Jasmin, ia memeluk Alifa sambil berurai air mata.


"Alifa, selamat ya." kata Yasmin dan Riana, mereka bergantian saling berpelukan erat sambil mengucapkan doa-doa.


"Baiklah, sekarang ayo kita keluar!" ajak Jasmin.


Di sisi kanan Jasmin menggandeng Alifa, sedangkan sisi kiri ada Yasmin dan Riana. Mereka berempat jalan beriringan keluar dari kamar, dimana Jimmi sudah menanti di meja tempat ijab kabul berlangsung.


"Bu," Ren menghambat langkah mereka. Ibu dan anak itu langsung berpelukan. Mereka saling meneteskan air mata. Ren sudah merelakan pernikahan ibunya. Ia sudah tak bersikeras lagi agar ayah dan ibunya kembali bersatu. Selama ini, meski ia tahu tak baik juga bagi Alifa untuk kembali pada mantan suaminya, tapi sejujurnya Ren terus berdoa agar mereka bersatu. Tapi setelah berbincang dengan Jasmin, ia menyadari kebahagiaan ibunya jauh lebih penting dari apapun itu. "Semoga ibu bahagia selalu, ya." bisik Ren lagi.


"Pasti Ren, ibu akan selalu bahagia." jawab Alifa.


"Bu, dengarkan aku, kalau nanti lelaki itu mengecewakan ibu seperti ayah, maka ibu tak boleh ragu untuk menghubungi aku. Ibu harus memberitahu agar aku bisa bertindak cepat. Aku tak akan biarkan satu laki-laki pun menyakiti ibu." pesan Ren lagi pada ibunya.


Kenangan masa kecil ketika akhirnya ibunya kabur dengan wajah babak belur hingga meninggalkan dirinya sendiri bersama ayah yang pemabuk sebenarnya menyisakan trauma pada diri Ren. Tetapi tetap saja ia tak ingin ada lelaki lain yang mendampingi ibunya, mungkin karena ia takut akan ada yang menyakitu ibunya lagi.


Sudah cukup ayahnya saja yang pernah menyakiti ibunya. Ren tak mau ada lagi yang melakukan hal yang sama.


"Ren, Jimmi adalah lelaki yang baik. InsyaAllah aku meyakini itu semua. Sekarang harusnya kau juga mengatakan hal itu pada dirimu sendiri. Jangan biarkan ada lelaki manapun yang menyakiti Jasmin, membuatnya kecewa atau sampai menitikkan air mata, meski lelaki itu adalah kau." nasiaht Alifa sambil tersenyum.

__ADS_1


Sesaat Ren terdiam. Ia mencoba mencerna perkataan ibunya. Kemudian ia yang masih termenung langsung tersadar sebab ibunya menarik pelan tangannya agar kembali melangkah menuju meja tempat akad nikah dilaksanakan.


Apa maksudnya ibu berkata seperti itu? Ren terus saja berpikir. Ia tahu, ibu tak akan sembarang berbicara. Pasti ada maksudnya dan Ren berusaha menemukan jawabannya.


Ia belum juga mampu memahami, maksud dari perkataan ibunya sebab Ren selalu merasa bahwa apa yang ia lakukan tidak salah. Lalu kenapa ibunya sampai bicara seperti itu?


Sebentar, Ren menatap Jasmin yang berdiri tak jauh darinya. Jasmin tampak tertawa kecil ketika melihat Alifa dan Jimmi dipersatukan.


"Apakah ia sedang bersedih? Kecewa atau malah marah padaku?" Ren bertanya dalam hatinya. Tapi, ia melihat istrinya tampak baik-baik saja.


Baiklah, Ren mengaku memang beberapa kali agak galak pada Jasmin, tapi semua ada sebabnya. Karena ia dekat dengan lelaki lain dan itu adalah Riu.


Kini tatapan Ren beralih pada Riu. Lelaki itu memang sahabat kecil Jasmin, mereka begitu dekat. Tapi Ren juga tahu kalau lelaki itu juga menyukai istrinya. Bahkan sebelum ia menikahi Jasmin, mereka sempat bersaing. Siapa yang tahu, bisa saja kan sampai sekarang lelaki itu masih menyukai istrinya. Buktinya ia selalu ada untuk Jasmin, tahu segala hal tentang Jasmin bahkan menyatakan sendiri kepeduliannya pada Jasmin. Itu semua membuat Ren kesal. Iantak suka ada yang dekat-dekat dengan istrinya.


Acara telah berakhir. Semua tamu undangan sudah pulang, bahkan kedua pengantin juga sudah pergi untuk berbulan madu ke Bali. Rencananya mereka akan berlibur selama sepekan. Hanya tinggal pak Bagus, Ren, Jasmin, Yasmin, Riana, Deni dan Riu. Mereka baru saja melepas kepergian pengantin.


"Riu, kulihat dari tadi kamu puas sekali makannya!" celetuk Ren pada Riu. Semua orang langsung melirik pada Riu.


"Aku? Kau memperhatikan aku? Oh, memangnya kenapa kalau aku makan banyak? Apa sebagai tuan rumah kau keberatan? Ckckck, aku tak tahu kalau kau itu orang yang pelit, Ren. Padahal aku ikut membantu acara bibi Alifa, jadi apa salahnya kalau aku makan?" tanya Riu, dengan agak kesal sebab gara-gara celotehan Ren ia jadi dilihat semua orang.


"Memang kamu makan apa saja, Riu?" tanya Jasmin.


"Hanya bakso, dua potong puding dan segelas es buah." jawab Riu.

__ADS_1


"Kalau segitu masih wajar. Aku saja makan lebih. Nasi sepiring, bakso, dua potong risoles mayonaise, es krim, dua.gelas sirup dan snak yang ada di sana, entah berapa, aku lupa menghitungnya." timpal Jasmin.


"Tuh, kau tak mau mengatakan Jasmin rakus juga? Dia makan lebih banyak dari aku. Dia tidak kerja fisik, smenetara aku membantu mengangkat meja dan kursi, menatanya jadi Serapi ini. Aku tak minta bayaran, kulakukan dengan ikhlas, tapi kau malah mengungkit apa yang aku makan. Sungguh membuatku kesal saja!" Riu langsung buang muka.


"Ren, kamu kenapa Nak?" tanya pak Bagus. "Biarkan Riu makan apapun yang dia mau, ayo sana Riu, makan lebih banyak lagi." kata pak Bagus, mungkin ia merasa tidak enak dengan perkataan cucunya yang terdengar tidak sopan.


Ren diam, semua orang juga diam. Kini semua memperhatikan Ren dengan tatapan yang membuatnya tidak nyaman.


"Hmm," Ren berdehem. "Jadi, maksudku bukan begitu. sepertinya kalian semua salah paham." ungkap Ren.


"Nak, coba kau jelaskan supaya kami tidak salah paham. Apa masalahmu dengan Riu, kenapa tiba-tiba kau mengungkit makanan yang ia makan. Apa kau mau mempermalukan kami?" Riana ikut berkomentar sebab ia juga terpancing dengan perkataan Ren barusan. "Kalau kau tidak mau kami memakam makanamu, katakan sejak awal. Tidak perlu mengundang kami meski kau adalah menantunya Yasmin dan suaminya Jasmin yang sudah kami anggap saudara kami sendiri. Sebenarnya aku juga tidak suka kita berkelahi sebab awalnya aku bersimpati padamu, bahkan saat anakku dan kau bersaing, aku malah mendukungmu. Aku benar-benar menyesal untuk itu sebab kau terlihat tidak bisa menghormati orang lain padahal kau cucu pak Bagus yang terkenal baik dan bijaksana, putra seorang Alifa, pengacara baik hati yang juga sudah menjalin hubungan baik dengan kami." ucap Riana, ia membeberkan semua agar hatinya tenang.


"Nak Ren, sebenarnya ada apa?" Yasmin terpaksa ikut campur tangan sebab ia takut terjadi perselisihan antara Ren dan Riana. Dua orang ini sama-sama berharga bagi Yasmin.


"Hahaha, sepertinya semuanya salah paham. Aku tak bermaksud begitu. Jadi ibu, bibi, paman dan kakek, sebenarnya aku bicara begitu pada Riu untuk mencandainya, aku ingin bertanya padanya, kapan ia akan menjamu kita semua. Maksudnya, kapan Riu akan menikah juga? Sejak acara tadi aku memperhatikan Riu, ia terlihat menyimak dengan seksama, barangkali sebenarnya dalam hatinya juga ingin segera menikah tapi masih malu mengungkapkan pada kita semua, makanya aku memancingnya.


Ibu, bibi, paman dan kakek ... maafkan jika aku menyinggung kalian. Aku cuma ingin mencandai Riu, agar hubungan kami makin dekat seperti ia dekat dengan Jasmin, bahkan kalau bisa lebih dekat lagi. Tapi sepertinya aku tak bakat bercanda. Jadi aku minta maaf sekali lagi jika perasaan kalian tersakiti. Aku janji tak akan bercanda lagi jika kalian tidak suka." Ucap Ren, sambil menautkan kedua tangannya.


"Oh, jadi maksudnya bercanda? Syukurlah. Ibu sampai deg-degan, takut kalian benar-benar berkelahi." ujar Yasmin.


"Hahaha, aku juga begitu. Tapi nak Ren, aku tak melarangmu untuk bercanda, hanya saja lain kali kau harus belajar lagi. Tadi kau benar-benar membuat kami semua naik darah." timpal Riana.


Melihat wajah kakek, mertua dan orang tua Riu sudah rileks, Ren baru bisa bernafas lega. Sejujurnya ia benar-benar deg-degan, takut mereka benar-benar marah, tapi setidaknya apa yang ingin ia sampai akhirnya tercwtus juga.

__ADS_1


__ADS_2