
Adi tidak langsung menjawabku. Ia diam sesaat, lalu menarik nafas panjang. Membuatku jadi deg-degan. Rasa bersalah itu semakin bertambah-tambah. Bagaimana mungkin aku bisa berharap maaf setelah semua kekacauan yang aku lakukan pada hidupnya.
Ia tidak hanya kehilangan tempat tinggal dan seluruh hartanya. Tapi juga kehilangan pekerjaan dan sikapnya yang menjadi buruk. Rasanya aku tidak berani mendengar jawabannya.
"Mas, sebenarnya dulu saya memang begitu membenci, mas. Bukan hanya benci, tapi sampai dendam. Tetapi lama-kelamaan saya menyadari bahwa setiap yang ditetapkan oleh Allah pasti ada hikmahnya. Saya pribadi juga salah di sana, makanya saya sudah tidak menyimpan kemarahan ataupun dendam sama sekali. Justru saya sudah melupakannya.
Saya bersyukur, dengan kehilangan pekerjaan, saya jadi lebih dekat dengan keluarga. Pekerjaan saya dulu gajinya memang besar, tapi saya nyaris tidak punya waktu untuk istri dan anak-anak.
Istri saya bisa sembuh tanpa harus bolak-balik ke rumah sakit lagi, berkat terapi-terapi yang saya tekuni." tutur Adi.
"Sungguh, Di?" saat ia menganggukkan kepala sambil menyunggingkan senyum, aku makin yakin bahwa ia memang sudah tidak menyimpan dendam lagi.
"Mas Qret juga harus sabar, yakin saja bahwa setiap ujian itu hanya diberikan pada orang-orang yang mampu. Sabar ya mas!"
Pertemuan pagi ini dengan Adi membuatku begitu lega. Setidaknya satu ganjalan di hati sudah terselesaikan. Kini waktunya kembali ke rumah. Aku bisa fokus lagi untuk menyelesaikan hutang-hutangku.
***
"Yas!" panggilanku membuat perempuan yang sudah kunikahi hampir satu tahun itu langsung beralih padaku. Kini aku dapat melihat sepasang matanya sedang menangis sebab air mata yang terus berlinang membasahi pipinya. "Yas." aku mendekat, lalu hendak memeluknya, tetapi Yasmin menepiskan tanganku. "Kenapa Yas?" tanyaku lagi.
"Kenapa? Harusnya aku yang bertanya. Kenapa mas masih mempertahankan aku di sini padahal mas sudah mendapatkan banyak masalah." ungkapnya.
"Ya Allah Yas. Sudahkah, aku tidak tertarik untuk membahasnya lagi."
"Tidak bisa. Hutang itu ada. Bagaimana mungkin kita akan melupakannya. Atau mas memang siap kehilangan semuanya?"
"Aku akan berusaha, Yas."
__ADS_1
"Tolong beritahu aku bagaimana caranya?"
"Yasmin ... Qret!" panggilan dari luar membuat perdebatan kami berhenti. Aku yakin itu suara Riana. Entah mengapa kehadirannya saat ini membuatku begitu bersyukur. Aku lelah bertengkar terus dengan Yasmin, apalagi membahas sesuatu hal yang sudah terjadi.
Sebenarnya aku paham untuk ketidaknyamanan Yasmin. Mungkin ia memang merasa bersalah. Tetapi usulannya untuk menjual tanah bagiku bukan solusi, sementara bagi Yasmin hanya itu jalan satu-satunya untuk keluar dari lilitan hutang rentenir tersebut.
"Aku akan mencuci muka dulu." kata Yasmin, bergegas ia memutar kursi rodanya kemarahan kamar mandi. Saat aku hendak menolong, ia menepiskan tanganku sehingga membuatku benar-benar kaget. "Mas buka saja pintunya. Aku tidak ingin mereka curiga kalau kita bertengkar."
Ya Allah Yasmin, kenapa kau sekarang berubah jadi manusia yang super ribet? Aku benar-benar tidak memahami karaktermu yang ini. Kalau memang tidak enak kenapa harus berpura-pura?
Tetapi demi menghindari pertengkaran berikutnya, aku segera membuka pintu rumah sebelum Riana menjebolnya dengan dobrakan maut sebab sudah berulang kali menggedor dan memanggil nama kami.
"Riana, sampai kapan kau datang ke rumah orang seperti itu? Bersikap seenaknya saja. Kalau kau bukan anaknya laman Rudi dan istrinya Deni, aku pasti sudah marah!" kataku.
"Eh, justru karena aku anaknya ayah dan istrinya temannya makanya berani berbuat seperti ini." kata Riana dengan santai, sambil berlalu masuk sebelum aku persilakan. Sementara di belakangnya Deni hanya geleng-geleng kepala melihat kelakuan istrinya. "Mana Yasmin?" tanya Riana.
Selang beberapa detik, Yasmin langsung keluar. Riana langsung menghampiri dan mereka terlihat asyik berbincang.
Sejak sakit, sikap Yasmin memang berubah seratus persen. Ia melakukan hal-hal di luar nalar ku. Kadang aku sampai harus mengurut dada melihatnya yang berubah jadi judes dan keras kepala. Berbeda sekali dengan ia yang dulu. Tapi begitulah pernikahan, kita tidak hanya melihat kebaikannya saja. Tapi juga hal-hal buruk yang ada di dalam dirinya.
"Bagaimana rencana kedai hari ini, Qret?" tanya Deni, saat kami sudah duduk di ruang tamu.
"Kalian handle dulu ya. Besok aku akan mulai bekerja. Aku harus mengatur semuanya sebab tidak mungkin meninggalkan Yasmin sendirian di rumah." kataku.
"Kalau memang masih harus di rumah, tidak apa-apa Qret. Tinggal sebutkan apa yang perlu dikerjakan. Atau jika kau ingin keluar, bisa minta bantuan Riana untuk membantu menjaga Yasmin. Aku yakin ia bisa diandalkan."
"Aku percaya Den. Hanya saja ada beberapa hal yang memang harus aku kerjakan terlebih dahulu."
__ADS_1
"Kalau begitu kau tidak perlu khawatir untuk urusan kedai. Tenang kami akan berusaha melakukan yang terbaik."
"Ayo kita ke kedai!" seru Riana, saat aku dan Deni sedang berbincang.
"Ayo!" kata Deni. Mereka berdua berlalu menuju luar.
"Mas tidak ke kedai." tanya Yasmin, ia melihatku dengan bingung.
"Tidak dulu. Aku sedang tidak mood." jawabku, lalu berlalu ke ruang kerja.
***
Hari kedua di rumah hanya dengan Yasmin. Aku benar-benar menghindarinya. Takut terjadi perkelahian lagi. Setidaknya sampai aku menemukan solusi untuk melunasi hutang-hutang tersebut. Meski Yasmin juga berusaha keras bicara denganku. Hingga akhirnya pertagananku tumbang juga.
"Yas, plis tidak perlu berdebat lagi. Bagaimana kalau kita jalan keluar saja." aku mengajukan sebuah usulan untuk kencan keluar. Sejak awal menikah kami memang jarang jalan berdua walau hanya sekedar makan. Kini mumpung tidak ada siapa-siapa, aku ingin mengajaknya keluar
Barangkali dengan sedikit perhatian yang aku berikan bisa membuat Yasmin jadi lebih tenang. Ia tidak marah-marah lagu atau memaksakan kehendaknya.
Tanpa menunggu persetujuan darinya, aku membantu Yasmin bersiap-siap. Setekah itu kami keluar menuju salah satu mall di Jakarta Selatan.
Sampai di mall, sebenarnya Yasmin tidak ingin turun. Ia malu memakai kursi roda, tetapi karena aku bisa meyakinkan, akhirnya ia menurut saja. Ditambah kamu berdua sudah sama-sama kelaparan sebab sejak pagi tidak makan apapun.
"Di sini banyak pilihan menu makanan laut. Rasanya juga enak." kataku, setelah kamu masuk ke sebuah resto seafood. "Mau makan apa?" tanyaku, sambil memberikan buku menu.
Yasmin menyerahkan pilihan padaku sehingga aku harus berusaha memilih makanan lezat yang tentunya tidak mengecewakan ia. Kalau sampai salah bisa-bisa jadi masalah baru seperti saat kami makan bakso di Singapura.
"Bagaimana, rasanya enak kan?" tanyaku, saat Yasmin terlihat menikmati udang dan cumi-cumi. Ku harap ia memang benar-benar suka, bukan hanya karena sudah lapar.
__ADS_1