
Seorang remaja laki-laki berdiri di depan jendela kamarnya, menatap jauh ke depan, seolah menembus dinding kamar, terus hingga ke rumah sebelah, menembus jendela kamar yang berhadapan dengan kamarnya.
Ia, Riu tahu bahwa persis di depan kamarnya adalah kamar Jasmin, gadis yang selisih usianya hanya satu tahun darinya. Gadis yang sejak masih kanak-kanak sudah ia sayangi, lambat laun berubah menjadi cinta.
Bagi Riu, Jasmin adalah cinta pertama dan diharapkan adalah tulang rusuknya yang hilang. Karena cinta, makanya Riu tak pernah rela gadis yang cuek tersebut berkeliaran dengan baju kaus, celana jins, tanpa kerudung. Ia tak pernah rela bila ada lelaki yang bukan mahram melihat kecantikan Jasmin.
Riu mati-matian memaksakan kehendak agar Jasmin mau menutup auratnya. Baginya Jasmin adalah sebuah harta berharga yang tak sembarang orang boleh melihatnya.
Tetapi, sikap posesifnya tersebut yang membuta Riu dan Jasmin sering berkelahi. Memang bukan hal mudah menyuruh seorang Jasmin yang terkenal keras kepala, tetapi meskipun begitu, Riu tetap berusaha agar Jasmin mau menurut.
Sejak dulu, sebenarnya Riu selalu berusaha menuruti semua keinginan Jasmin. Ia tak akan pernah keberatan jika Jasmin memalak uang belanjanya. Bahkan dengan senang hati diserahkannya.
Tetapi Riu akan sangat marah jika Jasmin menggunakan untuk membelanjai teman laki-lakinya. Kadang Riu heran juga, mengapa Jasmin mau saja berteman dengan banyak anak laki-kaki yang kadang terlihat tidak beres. Apakah ada pengaruhnya karena ayah Jasmin bekas seorang gengster? Tetapi Riu juga tahu bahwa ayahnya juga anaknbuang gengster. Tetapi tidak ada keinginan di hatinya untuk menjadi seorang penjahat.
Satu kali ketukan di pintu membuat Riu menyadari bahwa di luar ada seseorang yang tengah minta izin masuk. Riu mempersilakan, tak lama masuklah ibunya, membawa segelas minuman dan botol obat.
"Kamu sedang melihat apa, Riu?" tanya Riana, sambil meletakkan barang bawaannya.di atas meja yang berada di samping tempat tidur Riu.
"Tidak apa, Bu." jawab Riu, dengan santun. "Bu, nanti kalau aku pergi, bisakah ibu menjaga Jasmin?"
"Menjaga Jasmin?"
"Iya Bu."
Riana langsung tertawa kecil mendengar permintaan putranya. "Riu, kau tak lupa kan siapa itu Jasmin? Ia atlit Wushu, peraih medali emas. Jasmin itu jagoannya ibu, mana ada yang berani padanya. Bahkan menurut ibu, lebih seram ia dari pada preman sungguhan.
Wajahnya saja yang imut-imut, tetapi ia itu patut ditakuti siapapun yang berniat jahat padanya.
Pamanmu Qret juga pasti sudah memperkenalkan Jasmin pada kumpulan para preman. Jadi jangan kuatirkan segala hal yang tidak akan mungkin terjadi."
"Bukan itu maksudku, Bu."
__ADS_1
"Lalu apa Riu?"
"Maksudku, tentang bibi Yasmin."
"Kenapa dengan Yasmin?"
"Tadi Jasmin mengeluhkan bagaimana ia tak nyaman dengan ibunya. Apa ibu merasakan bahwa kemarahan bibi Yasmin pada putrinya kadang berlebihan."
"Ya, ibu juga kadang merasa begitu. Tapi itu ada sebabnya, Riu."
"Apa Bu?"
"Riu, paman dan bibiku memerlukan beberapa waktu untuk bisa memiliki seorang Jasmin. Dahulu ia mengalami kecelakaan hingga kehilangan calon bayi dan kedua kakinya patah. Yasmin sampai harus dibawa ke Singapura. Banyak hal yang diakui oleh Qret dan Yasmin, mereka sampai nyaris terpuruk.
Aku mencoba menghibur dengan mendekatkan kamu pada Yasmin. Itulah mengapa ia sangat menyayangimu. Tetapi tak lama, Yasmin mengandung Jasmin. Lagi-lagi ia harus melewati masa-masa sulit. Hingga Jasmin lahir, Yasmin pernah mengalami baby blues. Ia benar-benar tidak mau melihat Jasmin, bahkan sangat marah pada bayi yang tak berdosa itu.
Tetapi lambat laun, Yasmin mulai menerima Jasmin berkat kesabaran dan kerja keras Qret." kata Riana, menceritakan kembali kisah Yasmin dan Qret.
"Ia sudah seperti kakak untukku. Makanya kakekmu sangat menyayanginya sebab kakeklah yang merawat Qret. Itu juga yang jadi alasan Yasmin begitu menyayangimu, ia ingin membalas kebaikan kakekmu dengan mengurus cucu kakek, yaitu kau Riu."
"Tetapi apakah tidak ada cara agar bibi Yasmin bisa menyayangi Jasmin? Sebenarnya aku juga tak suka, aku kasihan pada Jasmin. Meskipun selama ini ia bersikap cuek, tetapi Jasmin juga punya hati, ia bahkan tadi sempat tidak mau pulang."
"Kalau untuk itu ibu tidak tahu, Qret. Ibu tidak bisa membantu melebihi batas. Tapi percayalah, pamanmu pasti bisa menyelesaikan semuanya. Pertengkaran antara Yasmin dan Jasmin kelak akan berakhir."
"Semoga saja, Bu."
"Sekarang sebaiknya kau istirahat. Besok kan harus pergi mencari perlengkapan sebelum berangkat ke Cairo. Oh ya, jangan lupa minum obat dan vitaminmu, Riu."
"Iya bu."
***
__ADS_1
Sementara itu di kamar sebelah, Jasmin juga berdiri di depan jendela, menatap lurus ke depan, mencoba mencari bayangan Riu, tetapi tidak tampak apa-apa karena terhalang oleh gorden.
Jasmin masih kaget dengan berita yang dibahas oleh ibunya di meja makan saat mereka makan malam tadi. Kata ibunya, Riu akan berangkat ke Cairo akhir pekan ini. Mendengarnya, untuk sesaat, Jasmin melonjak bahagia sebab tak akan dibayangi oleh Riu lagi. Tetapi kemudian ia sadar, jarak Indonesia dan Cairo begitu jauh, berapa lama ia dan Riu harus berpisah?
Bagi Jasmin, Riu memang sangat terberat dan belum bisa ia kalahkan dalam mendapatkan perhatian ibu. Tetapi, meski ia sering dibuat kesal oleh pemuda yang sudah dianggap seperti kakak kandungnya sendiri, Riu juga teman paling menyenangkan. Siapa lagi yang akan menemaninya berkeliling pasar mencari makanan. Siapa lagi yang akan mentraktir saat ia kehabisan uang. Juga banyak hal lain yang membuatnya berat untuk kehilangan Riu.
Tetapi meskipun berat, Jasmin juga tidak mau egois, ia ingin Riu bisa mencapai cita-citanya. Dari dulu Riu bercita-cita jadi ustad ternama, salah satu jalan memuwujudkan adalah dengan menuntut ilmu agama sebanyak mungkin.
"Jas," suara ketukan pintu membuat Jasmin sadar dari lamunannya.
"Ayah, masuklah!" kata Jasmin.
"Sedang apa, nak, kenapa belum tidur?"
"Aku sedang membayangkan, kalau Riu pergi apa ibu akan menyayangiku?"
"Apakah kasih sayang ayah masih kurang?"
"Tidak."
"Lalu kenapa kau masih mencari-cari kasih sayang tambahan? Ibumu itu sebenarnya sangat menyayangimu, Jas. Hanya saja caranya berbeda dengan ayah."
"Apa ayah tidak salah?"
"Tentu saja, aku dan dia sudah menikah hampir dua puluh tahun, jadi tahu apa yang dirasaka oleh Yasmin yang sebenarnya."
"Ku harap apa yang ayah katakan benar!"
"Apa kau memang ingin Riu pergi jauh dari hidup kau dan ibumu?"
"Bukan, bukan begitu maksudku yah, aku juga sebenarnya berapa berpisah dengan Riu. Aku khawatir tak punya teman sebaiknya, juga yang royal memberikan semua uang jajannya untukku, tapi aku tidak bisa bohong bahwa aku tak suka jika ibu terlalu menyayanginya, padahal kan aku anak kandung!"
__ADS_1