GARA-GARA 3 MILLIAR

GARA-GARA 3 MILLIAR
37. Sindiran Jimmi


__ADS_3

Sayup-sayup terdengar azan Subuh, aku bergegas bangkit. Sebenarnya ingin menunaikan salat berjamaah, tetapi tidak ada izin untuk keluar, makanya kuputuskan untuk salat sendiri.


Usai berwudhu, aku merapikan koran yang jadi alas semalam. Bersiap untuk menunaikan salat Subuh, tapi sebelumnya salat Sunnah dua rakaat. Usai salat Sunnah, tiba-tiba seseorang memanggil.


"Mas, mau salat Subuh?" tanyanya. Seorang lelaki paruh baya, dengan baju koko berdiri di depan pintu selku.


"Iya pak," jawabku.


"Salat di masjid saja, yuk!" ia membukakan pintu sel, lalu mengajakku salat di mushalla kantor polisi.


Usai salat berjamaah dengan beberapa orang polisi, aku duduk menanti bapak tersebut yang masih sibuk menerima uluran tangan dari beberapa orang polisi yang juga menunaikan salat berjamaah.


"Kasus apa?" tanya bapak tersebut, saat kami berjalan beriringan menuju sel.


"Polisi menemukan ganja di rumah saya, pak. Tapi itu bukan barang saya." aku menjelaskan kembali kejadian yang tengah menimpaku.


"Ngopi dulu di sini," bapak itu mengajakku duduk di ruangan tamu kantor, lalu tidak lama datanglah dua gelas kopi hangat dan sepiring roti.


Aku belum mengenal siapa bapak ibu, tapi dari akrabnya ia dengan beberapa polisi yang ada di sini, serta melihat penjaga yang tidak komplen saat ia mengeluarkanku, maka aku menebak ia adalah seorang polisi juga.


Kami bercerita ringan. Usai menghabiskan segelas kopi dan beberapa potong roti, aku kembali ke dalam sel.


"Nak, apa kau membutuhkan sesuatu?" tanyanya.


"Tidak pak. Tapi kalau tidak merepotkan, saya ingin meminjam Qur'an." aku berkata ragu-ragu.


"Kebetulan sekali." bapak itu mengambil mushaf kecil yang berada di sakunya, laku menyerahkan padaku. "Nanti, saya mau ke sini lagi. Kita ngobrol lagi ya." ia berlalu setelah mengucapkan salam.


Aku tersenyum senang mendapatkan mushaf tersebut. Tetapi setelah bapak itu pergi barulah aku sadar, belum bertanya siapa namanya. Tetapi agak lega ketika ingat ia akan kembali datang ke sini. Lagipula kalau bapak tersebut dinas di sini, pasti akan datang lagi.


***


Dua jam lagi akan diadakan pemeriksaan lanjutan. Sambil menanti, aku menghabiskan waktu dengan membaca Qur'an dan terjemahannya. Sampai di lembar surat An-nisa, sebuah kertas kecil jatuh ke lantai.

__ADS_1


"Alifa?" aku membaca tulisan di dalamnya.


Ini pasti nama perempuan yang berhubungan dengan bapak tadi. Bisa jadi itu ibunya, istrinya, saudari perempuan atau mungkin putrinya.


"Hai mas Qret?" sapa seseorang dari balik jeruji besi. "Apa saya tidak salah lihat. Itu kamu?"


Rupanya Jimmi. Ia tersenyum sumringah menatapku yang berada di penjara. Aku yakin ia tidak berniat baik menyapaku, makanya aku mengabaikan panggilannya.


"Mas Qret, sedang apa di sini? Tidak mungkin liburan, kan? Oh, saya ingat, mas Qret yang kena kasus ganja itu, kan? Saya benar-benar tidak menyangka mas ternyata seorang pengedar atau bandar narkoba. Ckckck!"


"Kau polisi, kan? Jangan asal bicara. Aku bisa menuntutmu karena sudah menuduhku sembarangan tanpa melalui proses penyidikan."


"Oh, jadi mas Qret tidak mau mengaku? Baiklah. Kalau bukan mas Qret berarti ibunya yang pengedar?"


"Kalau kamu membenciku, jangan pernah bawa-bawa ibuku!"


"Saya bicara sesuai kenyataan. Kalau mas Qret tidak mengaku, berarti ibunya. Kan yang tinggal di rumah itu hanya dua orang!"


"Sebentar, mas Qret!" tiba-tiba Jimmi mengambil gambar kucing. "Apa Yasmin sudah tahu kalau mas Qret masuk penjara? Saya penasaran, kira-kira bagaimana tanggapannya? Lalu paman Bimo apa masih welcome dengan seorang pengedar ganja?" tawa licik Jimmi pecah, sambil memperlihatkan foto hasik jepretan dari hpnya. Ia bahkan memperlihatkan padaku, sebuah pesan yang dikirimnya pada Yasmin.


"Kita lihat, kira-kira apa tanggapannya? Mengingat Yasmin sangat tidak suka berurusan dengan seorang penjahat!" Jimmi tersenyum licik.


"Kau memang benar-benar tidak punya hati!"


"Saya atau kamu? Kamu duluan mas yang menggangu hubungan saya dengan Yasmin."


"Kau lupa, ibumu saja tidak merestui. Lagi pula apa Yasmin pernah memberikan pernyataan bahwa ia juga menyukaimu? Tidak, kan? Berbeda dengan aku, ia sendiri yang menyatakan kemauannya. Jadi jangan terlalu pede!"


"Dasar penjahat!" Jimmi menendang pintu sel dengan keras. Ia terlihat sangat geram. Bahkan matanya sampai memerah menahan amarah. Masih menahan kesal ia meninggalkanku sambil mengomel.


Aku benar-benar tidak menyangka watak Jimmi seperti itu. Yang lebih menyebalkan lagu, ia adalah saudaraku. Kami sama-sama anaknya Wijaya. Benar-benar membuatku gondok.


Berulang kali aku mengucapkan istighfar agar tidak ikutan kesal. Kini aku benar-benar yakin mengambil Yasmin dari sisinya. Lelaki kasar sepertinya tidak pantas mendapatkan Yasmin.

__ADS_1


Tetapi kemudian aku kembali mengucapkan istighfar. Lalu bagaimana denganku sendiri? Siapalah aku, apakah benar aku pantas bersanding dengan gadis berhati malaikat sepertinya? Lagi-lagi muncul bayangan wajahnya yang membuat dadaku berdegup kencang.


Kalau Yasmin dan ayahnya tahu tentang kejadian yang menimpaku. Apakah ia juga akan percaya, mengingat aku adalah mantan penjahat yang dekat dengan dunia hitam. Apalagi ditemukan barang bukti dalam rumah.


Ya Allah ... entahlah. Apakah aku siap bila ternyata ia membatalkan rencana kami.


Dari balik jeruji, aku bisa melihat jarun jam sudah menunjukkan pukul tujuh pagi. Kemarin aku berjanji padanya, pukul delapan sampai di rumah.


Apa reaksi Yasmin saat tahu aku tidak akan datang ke rumahnya hari ini. Terkejutkah ia saat tahu, bahwa aku sekarang sedang di penjara? Apakah ia akan menolakku? Ya Rabb ... mengapa jalannya jadi begitu rumit? Lalu bagaimana akhir semua ini?


***


"Pak Qret!" suara salah seorang polisi, ia membuka pintu sel, menyatakan bahwa penyidikan akan segera dilanjutkan.


Sebelum dimulai, aku dipersilahkan untuk berbincang dengan pengacara yang sudah disiapkan oleh paman Rudi. Nama pengacara tersebut adalah pak Joko, ia sengaja datang lebih awal saat diberitahukan akan ada pemeriksaan lanjutan.


"Ada yang ingin disampaikan, mas Qret?" tanya pak Joko.


Aku menggeleng. Semua keterangan sudah kuceritakan tadi malam. Sekarang tinggal menjalani pemeriksaan lanjutan. Ku harap masalah ini segera selesai agar aku bisa pulang.


Aku ingin kembali melanjutkan hidup. Menjadi orang baik. Bahagia dengan apa yang sudah ditetapkan oleh Allah untukku. Berkumpul dengan ayah dan ibu. Menikah dengan Yasmin, punya anak yang banyak lalu menghabiskan waktu hingga akhir usia dengannya.


Sepuluh pertanyaan diberikan oleh penyidik. Aku menjawab didampingi oleh pengacara. Setelah selesai, kami menandatangani berkas yang diberikan.


Aku cukup beruntung karena paman Rudi segera mencarikan pengacara yang cukup benefit sehingga hakku sebagai warga negara Indonesia yang baik terlindungi. Tidak ada kekerasan sama sekali dalam pemeriksaan ini.


Tetapi aku masih harus berada di sini sebab polisi masih harus menjalankan pemeriksaan lanjutan.


Sementara itu pengacaraku juga sudah menyiapkan surat penangguhan penahanan, tetapi belum mendapatkan persetujuan sebab ganja yang ditemukan di rumah jumlahnya sangat banyak.


"Berarti tidak ada harapan untukku segera bebas, pak?" tanyaku pada pengacara.


"Mas Qret sabar dulu. Saya akan terus berusaha agar mas Qret bisa bebas hati ini juga!" pak Joko bicara dengan penuh keyakinan, tetapi tetap saja tidak bisa mengusir keresahan di hatiku.

__ADS_1


__ADS_2