
Aku dan Yasmin mulai sering terlibat adu mulut. Mungkin karena aku belum bisa terima saat ia terus-menerus mendikte, memaksakan kehendaknya agar aku menjual tanah dan kedaiku sendiri untuk melunasi semua hutang-hutang kami.
Selain itu, Yasmin juga memaksakan kehendaknya agar aku bisa menerima semuanya dan segera bersikap seperti biasanya. Tentu saja sikapnya yang seperti itu membuatku tidak nyaman sehingga kadang aku lepas kontrol, meladeninya yang terus menerus protes dan berprasangka.
Sementara itu, semakin lama uang kami semakin menipis, bahkan hanya tinggal beberapa ratus ribu, hanya cukup untuk biaya makan selama sebulan. Tentu saja itu juga jadi pemicu perang mulut antara kami.
"Aku akan menerima jahitan." kata Yasmin pagi ini. "Kita butuh makan dan juga biaya lain-lainnya seperti listrik dan air. Tidak mungkin hanya duduk diam saja. Bisa-bisa nanti mati kelaparan atau malah jatuh ke lubang yang sama, ke tentenir lagi!"
"Aku tidak mengizinkan." kataku, meski suara pelan namun sangat tegas sekali menolak keinginannya tersebut.
"Lalu bagaimana nasib kita selanjutnya, mas? Kalau mas melarang aku terus harusnya mas bergerak, jangan hanya diam saja!" ia mulai bicara dengan nada suara tinggi sehingga membuatku cukup kaget.
"Baik, aku akan bergerak." aku langsung meninggalkan rumah, pergi dengan motorku, tanpa tahu kemana tujuannya.
Sudah dua jam aku berkeliling kota Jakarta, namun belum juga ada ide harus melakukan apa hingga akhirnya azan Zuhur berkumandang. Kuputuskan untuk singgah sebentar di masjid terdekat. Usai salat, mampir ke warung yang berada persis di sebelah masjid. Setelah memesan satu piring nasi dengan lauk telur balado dan minuman teh tawar, aku menikmati dalam diam.
Ada banyak tanya yang muncul di benakku apa, tentang Yasmin yang berubah seratus persen. Sebenarnya sudah banyak tausiah agama yang kudengar tentang hal seperti ini, dimana perempuan biasanya akan berubah jadi lebih cerewet bahkan lebih galak saat suaminya tidak punya penghasilan.
Wajar saja, bukankah itu ujian untuk perempuan, yaitu saat suaminya berada di titik terendah. Meskipun kecewa bahkan sempat tersulut emosi, tetapi sekarang aku sudah mulai memahami apa yang Yasmin rasakan.
Saat ini kami memang sedang butuh banyak uang untuk terapinya, tetapi aku tidak kunjung bergerak. Sudah hampir sepekan hanya makan tidur saja yang kulakukan. Benar-benar mengurung diri dalam rumah tanpa melakukan apapun juga.
Aku merasa benar-benar bersalah pada Yasmin. Harusnya aku bisa bersikap lebih dewasa. Lebih memahami. Toh aku memang pernah bertekad untuk membahagiakannya.
Setelah sepiring nasi dan teh habis. Aku segera ke kasir. Memesan satu bungkus makanan untuk Yasmin. Lalu setelah membayar, segera kupacu motor menuju rumah.
__ADS_1
Ada banyak sesal di hati. Tentang tanggung jawab yang ternyata belum kutunaikan padanya. Terkadang perempuan tidak hanya butuh uang, cukup dengan memperlihatkan keseriusan kita maka mereka akan luluh.
Sampai di depan rumah, aku sedikit heran dengan pintu rumah yang terbuka, persis seperti saat kutinggalkan. Biasanya, Yasmin selalu menutupnya kalau aku pergi, hanya dibuka kalau ada tamu. Tetapi tidak ada tanda-tanda siapapun datang ke rumah. Di depan pintu masuk tidak tampak sandal selain milikku dan Yasmin.
"Yas," aku masuk ke rumah setelah mengucapkan salam dan memanggil namanya. Tetapi tidak ada jawaban.
Ternyata ia duduk di dekat sofa tempat kami berdebat tadi, hanya bedanya tadi Yasmin duduk di atas kursi roda, sekarang di lantai. Ia Menangkupkan kepalanya di atas tangan. Saat aku meraihnya, tampak kedua mata itu sembab, masih ada sisa air mata di sana.
"Yas." segera kuraih ia dalam pelukan hingga Yasmin kembali menangis sesenggukan. Sungguh, aku menyesal telah meninggalkan Yasmin dalam keadaan emosi tadi hingga kondisinya jadi begini.
"Mas." ia memanggilku dengan suara bergetar. "Maaf ... maaf." pinta Yasmin.
"Maaf untuk apa, Yas?"
"Karena aku sudah berani membentak mas. Aku menyesal, sungguh menyesal mas. Maafkan aku." Yasmin sampai meletakkan dua tangannya di depanku sebagai permohonan maaf.
"Maafkan aku!" tangis Yasmin makin menjadi, tampak betul ia begitu menyesal sudah bicara keras denganku.
"Aku paham kenapa kau begitu. Aku tidak marah asal kau tidak mengulanginya lagi. Itu tidak baik, Yas."
"Iya, aku mengerti mas. Tadi aku benar-benar khilaf. Aku sangat menyesal mas. Tolong maafkan aku!"
Bagaimana aku bisa marah padamu, melihat kau menyesali semuanya dan berjanji tidak akan mengulangi. Ada kalanya manusia berada di titik terendahnya, saat ia benar-benar tidak bisa mengontrol emosi, tetapi tidak dibenarkan melakukan hal yang dikarang oleh syariat. Jika sudah terlanjur, menahg seharusnya menyesali, memohon ampun pada Allah, dan minta maaf pada manusia yang bersangkutan.
***
__ADS_1
Aku dan Yasmin sudah sama-sama sepakat, kami akan kembali memulainya dari nol. Aku akan kembali berjualan secara online, satu-satunya pilihan yang bisa kujalani sebab sudah tidak punya tempat dan modal yang serba terbatas.
Sementara Yasmin, ia akan mulai menerima orderan jahitan. Meski begitu jumlahnya dibatasi sebab aku tetap tidak mau Yasmin terlalu lelah nantinya. Aku memberi izin hanya untuk menghindari pertengkaran dan Yasmin bisa menyalurkan hobi yang sangat digemarinya.
Hari pertama buka dagangan online, belum ada satupun pembeli. Aku sempat kecewa, tetapi Yasmin selalu menyemangatiku.
"Kalau mas butuh kerja tapi tidak tahu harus melakukan apa, mungkin mas bisa coba bantu aku menggunting-gunting ini." Yasmin memperlihatkan pola yang ia buat padaku.
"Kau berani bayar berapa?" tanyaku.
"Hm, mas mau dibayar berapa?" ia balik bertanya.
"Bayarannya mahal."
"Kalau dibayar dengan cinta, cukup?"
Kami berdua tertawa dengan lelucon yang terlontar tadi. Seperti yang ditawarkan Yasmin, untuk mengisi waktu luang, aku mulai membantunya menggunting jahitan. Kata Yasmin, duku ayahnya juga melakukan hal yang sama dengan apa yang aku lakukan hingga akhirnya ayahnya yang tidak suka menjahit jadi hobi menjahit juga.
"Kalau begitu aku tidak mau." kataku, pura-pura menolak.
"Lho, kenapa?"
"Yas, kalau aku bisa menjahit, apa kau tidak khawatir bahwa aku bisa menggeser posisimu? Apa kau tidak punya keinginan tetap jadi bosku? Atau jangan-jangan kau sudah nyaman jadi bawahanku seperti waktu kita di kedai?"
"Hmm, mas kira aku akan mengajari semua ilmu menjahitnya pada mas? Tentu saja tidak. Aku hanya mengajari sebagian kecil. Sangat kecil sekali supaya mas tidak bisa menandingi aku lagi. Aku sebenernya sudah cukup malu mengetahui bahwa mas lebih jago memasak dibandingkan aku."
__ADS_1
Sebenarnya ayah dan ibu sudah menawarkan bantuan modal untuk kami kembali memulai bisnis kuliner, tetapi aku menolaknya. Aku ingin memulai semuanya kembali dari nol. Aku ingin berjuang hanya dengan mengharapkan bantuan Allah.