
Selama jam kerja, aku memperhatikan Riana yang lebih banyak diam dan menyendiri. Ia benar-benar berbeda dari biasanya. Tidak ada sepatah katapun candaan ataupun celoteh yang keluar dari mulutnya. Ia hanya bicara untuk hal-hal yang penting saja, misalnya mempertanyakan piring mana yang harus dicuci, apa yang selanjutnya harus ia kerjakan. Selebihnya ia lebih memilih mengunci mulutnya. Tentu saja perubahan sikap Riana yang tiba-tiba membuatku khawatir. Berarti ia benar-benar menghadapi masalah serius.
Saat aku mencoba mempertanyakan pada Yasmin, ia tidak memberi jawaban yang membuat lega, justru aku semakin tidak enak hati.
"Mungkin Riana sedang berusaha menenangkan hatinya. Ia harus mempersiapkan diri untuk jawaban lamaran, kan?" Ungkap Yasmin.
"Jadi dia serius dengan anak teman paman Rudi?" Tanyaku, gusar.
"Ya. Memang ada pilihan lain? Tidak kan?"
Sikap Riana yang seperti itu membuat kedai jadi lengang. seperti tidak ada penghuninya. Tak ada lelucon yang dilontarkan sehingga tidak terdengar suara tawa. Benar-benar terasa tidak nyaman, seperti ada di sekitar orang-orang yang asing dengan kita.
"Qret, tunggu sebentar," panggil Deni, setelah kedai ditutup.
"Apa?" tanyaku, saat hendak menyusul Yasmin dan Riana yang sudah jalan lebih dulu menuju rumah.
"Aku ingin bicara, boleh."
"Tentu saja. Mau bicara di mana?"
Deni mengajakku jalan menuju taman, setelah sampai, kami memilih duduk di taman yang menghadap perumahan, ada kolam ikan kecil di sana.
"Kenapa?" tanyaku. "Kalau mau bicara tentang pekerjaan, besok saja ya. Aku sedang tidak berminat untuk membahas apapun sekarang. Aku sedang suntuk."
"Tidak."
"Lalu apa?"
"Itu," Deni tampak ragu. "Ada apa dengan Riana?"
"Kenapa memangnya dengan Riana? Dia biasa saja."
"Apa kau tidak merasakan kalau hari ini ia beda?"
"Beda dimana?"
"Ia tidak banyak bicara, itu bukan sikap Riana yang biasa. Pasti ada sesuatu, kan? Riana kan biasanya tidak bisa diam, ia akan berceloteh sepanjang hari. Bahkan mungkin bisa dikatakan tidak akan. ada diamnya."
"Ternyata kau jeli juga."
"Qret, ia kenapa? Kau pasti tahu kan? Tolong beritahu aku!"
"Kau sungguh-sungguh peduli padanya?"
"Tentu saja. Kau tidak harus mempertanyakan itu padaku. Kau tahu bagaimana perasaan aku padanya."
"Lalu kenapa masih menggantungnya? Oh tidak, maksudku, setelah ia memilihmu, lalu kau melepasnya begitu saja. Kau lupa Den, dulu betapa sulitnya untuk mendapatkan hatinya, bahkan untuk sekedar dilirik olehnya. Apa karena perjuanganmu dulu begitu sulit makanya kau ingin membalaskannya dengan menggantung begitu saja, membiarkannya dalam ketidak pastian?"
__ADS_1
"Apa maksudmu Qret?".
"Kau masih belum paham atau pura-pura tidak paham? Aku yakin sekali kau tidak sebodoh itu untuk memahami apa yang ku maksud Den."
"Ada apa sebenarnya?"
"Seseorang sudah datang ke rumahnya, menemui paman Rudi. Seorang lelaki yang secara agama cukup baik menurut laman Rudi, kalau aku sendiri belum tahu sebab belum bertemu. Orang tersebut ingin melamar Riana."
"Apa? Benarkan itu Qret?"
"Ya, dua hari lalu dia datang ke rumah paman Rudi."
"Tapi ...."
"Tapi apa Den?"
"Riana tidak memberitahuku, begitu juga dengan paman Rudi?"
"Dia tidak punya kewajiban untuk memberitahumu, Den. Kau bukan siapa-siapa baginya. Iya, kan?"
"Tapi kan,"
"Hei, kau lupa, pernah mengatakan padaku untuk fokus pada ayahmu. Jika Riana mau mundur, kau mempersilakan dan tidak keberatan sama sekali. Benar begitu, kan? Lalu kenapa juga Riana harus memberitahumu? Kau juga tidak pernah mencabut pernyataan itu. Iya, kan?"
Deni tampak frustasi, ia menundukkan kepala, meremas kepala dengan kedua tangannya. Cukup lama hingga ia berteriak.
"Setahuku belum. Riana diminta untuk salat istikharah terlebih dulu oleh ayahnya. Kalau hatinya sudah mantab, mungkin akan segera mengabari." jawabku.
"Kapan?"
"Entah. Mungkin saja pekan depan, akhir bulan atau mungkin bisa juga nanti malam."
"Secepat itu?"
"Hei Den, Riana itu masih lajang, hatinya masih kosong, ia berhak memilih siapapun dan kapanpun juga. Apalagi Riana bertekad ingin menikah dalam waktu dekat, itu tandanya ia harus memberi jawaban secepat mungkin. Iya, kan?"
"Qret, tolong aku."
"Tolong apa?"
"Bantu aku agar bisa mendapatkan Riana."
"Caranya?"
"Tolong bicaralah pada Riana agar ia mau ...,"
"Mau apa? Menunggumu? Bukankah ia sudah melakukannya? Menantimu saat engkau bilang mau fokus pada ayahmu. Ia tidak merecoki kamu lagi, kan? Lalu apa lagi?"
__ADS_1
"Aghhhhh!" lagi-lagi Deni berteriak sambil meremas kepalanya. Ia terlihat semakin frustasi.
"Den, perempuan itu butuh kepastian, bukan hanya sebatas harapan saja."
"Aku mengerti, tapi kan aku ...,"
"Apa masalahmu? Bicaralah! Aku akan membantu semaksimal mungkin. Jangan sampai menyesal Den. Kalau lamaran itu sudah diterima, haram untukmu mendekati Riana. Kau mengerti!"
"Lalu aku harus apa?"
"Ikut aku!"
Aku melangkah menuju rumah Riana, sementara di belakang Deni mengikutiku. Aku sudah tidak peduli lagi, drama dua muda-mudi ini harus segera di akhiri. Mereka harus segera menikah agar aku tidak ikut galau olehnya.
"Kita mau apa?" tanya Deni, saat aku membawanya ke rumah Riana.
"Katakan pada paman Rudi, apa masalahmu. Kalau kau serius ingin menjadi suami Riana, lakukan sekarang atau kau tak akan pernah punya kesempatan apapun lagi. Paham!"
Pintu rumah terbuka, Riana sendiri yang membukanya. Ia agak terkejut melihat kehadiran kami berdua yang datang tiba-tiba tanpa kabar apapun sebelumnya.
"Ada apa?" tanya Riana.
"Paman Rudi ada?" tanyaku
"Di dalam." Riana menunjuk arah dalam.
"Tolong panggilkan. Ada yang mau bicara dengan paman!" kataku lagi.
Riana masuk ke dalam setelah kami duduk di ruang tamu yang terlihat kaku dengan tatanan seadanya. Sejak dulu Riana memang tidak pernah bisa menata rumah, waktu kami masih tinggal bersama, justru aku yang menata rumah mungil kami.
"Qret ... Deni." kata paman Rudi. "Ada apa ini? Kenapa datang tiba-tiba?"
"Deni ingin bicara paman." kataku.
"Silakan," kata paman Rudi.
"Itu, saya mau ...," Deni tampak berat.
"Ada apa Den?" tanya paman Rudi, mencoba mencairkan suasana agar Deni tidak canggung
"Saya ingin melamar Riana, pak. Saya ingin menjadikan. Ya istri saya." ungkap Deni dengan penuh keyakinan.
"Melamar? Hmm, lalu kalau diterima mau menikah kapan?" tanya paman Rudi, pertanyaan yang ku tangkap membuat Deni gelisah. Sebegitu sulitnya kah menjawab pertanyaan tersebut?
"Pekan depan, jika diizinkan." ungkap Deni, sehingga membuat aku dan paman Rudi tercengang.
"Hah, pekan depan?" tanyaku dan paman Rudi secara bersamaan. Kami tidak menyangka dengan jawaban tersebut, tetapi melihat kemantapan Deni, aku jadi yakin sekaligus bangga padanya. Kalau bisa disegerakan memang sebaiknya segera, kenapa juga harus ditunda-tunda.
__ADS_1