
Makan malam hari ini cukup heboh sebab Riana terus saja bicara. Ia seperti tidak kehabisan bahan. Tentu saja akupun ikut terpancing mengomentari hingga keriuhan terdengar dari meja makan. Mendengar olokan ku pada Riana, sambil menikmati masakan Yasmin yang lezat rasanya nikmat sekali.
Meskipun semua heboh, tapi kadang-kadang aku terdiam, memandang satu-persatu wajah orang-orang yang ada di hadapanku. Mereka adalah orang-orang yang punya sejarah dan akan mengukir sejarah dalam hidupku.
Paman Rudi, bagiku sudah seperti seorang ayah saja. Sosoknya lah yang menyelamatkan aku saat masih kecil dari kesendirian. Ia juga yang membesarkanku dengan penuh perhatian. Paman Rudi bahkan memberikan hak yang sama seperti yang ia berikan pada Riana.
Sedangkan putri tunggal paman Rudi, yaitu Riana, ia sudah seperti adikku sendiri. Itulah mengapa aku sulit untuk berjasa basi denganya.
Ayah Yasmin adalah seseorang yang punya kenangan buruk denganku. Ia dahulu adalah orang yang berhasil membuatku kesal, namun sekarang ia adalah sosok yang harus ku hormati.
Lalu Yasmin, ia adalah hidupku saat ini dan seterusnya, ku harap hingga ke surga. Perempuan yang menjadi teman hidupku dan kelak akan menjadi ibu dari anak-anakku.
Tetapi ada rasa yang hilang juga saat mengingat ayah dan ibu. Dua sosok yang juga berarti untukku. Ayah dan ibu yang kini memilih jauh dariku. Entah sedang apa mereka saat ini. Aku sungguh rindu.
"Qret, kau melamun?" tanya Riana.
"Mas," Yasmin sampai menyentuh tanganku.
"Ha, kenapa?" kataku, sambil menatap satu-persatu orang yang hadir di meja makan.
"Kau melamun ya? Melamun apa? Hati-hati lho, kemarin ayam tetangga kita juga melamun, tau-tau mati!" ungkap Riana.
"Riana!" aku kembali kesal padanya. Bisa-bisanya ia menyamakan aku dengan ayam. Tidak sopan sekali.
"Hahaha, maaf aku terlalu ceplas-ceplos Yas. Sehingga menyamakan suamimu dengan ayam." bukannya minta maaf padaku, Riana malah minta maaf pada Yasmin.
"Ngomong-ngomong, terimakasih untuk jamuan makan malamnya ya Qret, nak Yasmin dan pak Bimo." kata paman Rudi. "Saya benar-benar menikmati sekali masakan nak Yasmin yang begitu lezat. Sepertinya saya harus belajar dari pak Bimo bagaimana cara mendidik anak perempuan agar jadi santun, pintar mengurus rumah dan benar-benar menjaga adabnya."
"Ayah, kenapa bicara begitu?" Riana langsung protes. "Memangnya aku kenapa? Aku kan juga pintar, hanya saja kepintaran kami beda jenis. Iya kan Yas?"
"Kau memang separah itu Riana." kataku.
"Sok tahu!" Riana mencibir. "Bilang saja kau sungkan mengakui bahwa aku pun punya banyak kelebihan."
__ADS_1
"Saya justru tidak mendidik Yasmin, saya hanya beruntung saja dikaruniai putri seperti Yasmin, bahkan ia kini mengangkat derajat saya." kata ayah Yasmin.
Perbincangan berakhir setelah semua hidangan nyaris habis, hanya tersisa sedikit saja. Paman Rudi dan ayah Yasmin langsung menuju teras depan untuk melanjutkan perbincangan mereka. Yasmin sempat membuatkan teh hangat untuk kedua bapak-bapak tersebut.
"Sepertinya paman senang punya teman baru," kataku.
"Qret, Yas ...." panggil Riana, wajahnya yang tadinya ceria berubah jadi murung. Entah apa penyebabnya.
"Kau kenapa?" tanyaku.
"Ayah ingin aku segera menikah." ungkap Riana.
Aku dan Yasmin saling berpandangan. Kami sama-sama tidak tahu harus bicara apa saat Riana menyampaikan bahwa kemarin ada yang datang ke rumah untuk melamar Riana.
"Lelaki itu salah satu anak jamaah yang sering salat di masjid perumahan. Ayahnya sudah kenal dekat dengan ayah sebab mereka selalu berjumpa setiap melaksanakan salat lima waktu. Ia ingin menjodohkan anaknya denganku agar persaudaraan terjalin." ungkap Riana.
"Lalu kau sendiri bagaimana?" tanyaku.
"Tentu saja aku tidak mau. Aku tidak mengenal pemuda itu. Rasanya akan sangat canggung bila menerima lamarannya. Aku tidak ingin menikah dengan orang yang belum ku kenal luar dalamnya." ungkap Riana.
"Aku tidak akan memintamu untuk membujuk Deni agar segera melamarku. Tidak apa-apa jika ia belum siap. Aku mencoba memahaminya, tapi ...," kata-kata Riana tergantung.
"Tapi apa?" tanyaku.
"Kalau Deni tidak kunjung datang, aku tidak yakin jika ayah akan menolaknya sebab ayah benar-benar kagum padanya." kata Riana lagi.
Aku dan Yasmin saling pandang. Kami merasakan hal yang sama, tapi belum punya ide untuk menghadapi masalah ini.
"Kalian berdua harus bantu aku. Tidak mungkin aku menikah dengan lelaki yang tak ku kenali. Aku tidak akan sanggup menghabiskan sisa usiaku dengannya." ungkap Riana.
"Bagaimana ini, mas?" Yasmin ikut beralih padaku.
"Kenapa aku?" tanyaku.
__ADS_1
"Kan mas temannya Deni. Mas ngomong dong sama Deni. Niat mau nikahin, enggak?" Yasmin masih mendesak ku.
"Aku lagi!" kataku, sambil menunduk.
"Kalau kau tidak mau tidak apa-apa,Qret. Aku tidak akan memaksamu lagi. Aku tahu,, mungkin Deni memang tidak niat. Sungguh, aku sudah ikhlas jika ternyata kami tidak berjodoh. Terimakasih ya Qret, Yas ... sudah membantuku selama ini. Aku pamit dulu!" ungkap Riana, lalu ia berlalu begitu saja tanpa membiarkanku mengatakan sesuatu.
Sungguh, sikap Riana yang seperti itu membuatku jadi salah tingkah. Aku jadi kebingungan sendiri. Jujur, juga merasa sangat bersalah pada Riana sebab terlihat tidak serius membantunya dan Deni. Kalau saja ia tadi bersikap frontal, aku tidak akan merasa bersalah seperti sekarang ini.
"Yas, bagaimana dong?" tanyaku pada Yasmin.
"Ya mau bagaimana lagi," ungkap Yasmin, sambil berlalu ke kamar.
"Yas!" aku berusaha mengejar Yasmin.
"Apa mas?"
"Kamu enggak mau melakukan sesuatu?"
"Apa?"
"Membantu mereka. Riana dan Deni!"
"Aku? Aku enggak bisa mas. Aku hanya bisa bicara dengan Riana, tidak dengan Deni. Bahkan aku hanya berbincang beberapa kali dengannya. Kami tidak terlalu akrab. Aku juga dengan kalau harus bicara dengannya."
"Kalau begitu bilang pada Riana supaya tidak pasrah begitu saja."
"Terus apa? Dia harus menolak permintaan paman Rudi? Atau harus kabur saat dijodohkan? Itu barbar sekali, mas. Juga tidak dibolehkan dalam syariat."
"Bukan begitu Yas,"
"Lalu apa, mas?"
"Katakan pada Riana agar memperjuangkan cinta Deni. Memang kamu setuju kalau Riana menikah dengan lelaki yang tidak disukainya? Lelaki yang bahkan tidak dikenalnya. Ia saja tidak yakin bahagia dengan lelaki itu."
__ADS_1
"Tapi mau sampai kapan Riana menanti? Mas tahu kan, Riana sudah sabar menunggu saat Deni bilang mau fokus ke ayahnya dulu. Sekarang ayah ya sudah tidak ada, lalu apa lagi alasannya? Mau nyuruh Riana nunggu lagi, itu namanya egois!"
Fiuff. Yang dikatakan Yasmin benar juga. Tapi aku tidak tahu harus bicara apa, aku benar-benar bingung. Entah siapa yang harus aku bela. Tapi Riana juga benar, satu sisi aku juga tidak bisa menyalahkan Deni.