GARA-GARA 3 MILLIAR

GARA-GARA 3 MILLIAR
28. Ibu, Engkau Tetap Mulia


__ADS_3

Sore ini, perasaanku benar-benar bahagia karena dapat pekerjaan dengan gaji yang lebih dari cukup. Selain itu, bang Dito juga meminjamkan motornya padaku sampai aku punya kendaraan sendiri nantinya.


Di depan rumah paman Rudi, tampak banyak orang berkerumun. Rupanya ada istrinya Wijaya bersama anak buahnya. Begitu aku mendekat, terlihat paman Rudi terjatuh di lantai dengan wajah babak belur. Di sampingnya ada Riana memeluk ibu yang ketakutan.


"Kurang aj**!" aku langsung menerjang, memukuli anak buah Rani, istri Wijaya secara membabi buta hingga mereka jatuh tergeletak ke lantai. "Kau!" aku bergerak maju bak singa lapar yang mengamuk hendak menangkap perempuan yang selalu meneror ibuku.


"Lepas," perempuan itu meronta sebab tangannya kucengkram kuat.


"Habislah kau nyonya terhormat!" sebuah tamparan ku layangkan ke wajahnya. Ketika hendak melayangkan pukulan kedua, sebuah panggilan menghentikan ku.


"Qret!' Jimmi menghardikku. "Berani kau menampar ibuku?"


"Ibumu yang menyerang duluan!" kataku.


"Jimmi, tolong Mama!" pintanya.


"Lepaskan ibuku, Qret!"


"Tidak akan pernah sampai dia minta maaf pada ibuku dan berjanji tidak akan menyentuhnya lagi." Kataku.


"Tak akan pernah!" ucap Rani dengan angkuh. Ia sudah merasakan aman karena putranya telah datang.


"Kalau begitu akan ku patahkan tanganmu!" aku mencengkeram erat, untuk membuktikan kalau ancamanku bukan hanya omong kosong belaka.


"Aaaaaaa ...." Rani berteriak kesakitan.


"Qret lepaskan!" Jimmi menerjang ku, tetapi tenaganya tidak sebanding denganku. Sekali tendang ia langsung tersungkur. "Tolong Qret, lepaskan ibuku!"


"Tidak sampai nyonya sombong ini minta maaf pada ibu dan pamanku!" jawabku.


"Jim ... tolong Mama. Sakit!" Rani terus berteriak, sikapnya masih sama seperti awal, sombong.


"Qret!" Jimmi berusaha bangkit, ia kembali menyerang ku. Tapi sekali tendang, tubuhnya kembali ambruk.


"Payah sekali kau tuan polisi!" bentakku.


"Oke Qret. Sudahi main-mainnya. Tolong, saya sebagai ganti ibu, meminta maaf pada anda nyonya!" Jimmi kini berlutut di hadapan ibu.


"Nak, tidak usah," ibu terlihat tidak nyaman, berusaha meminta agar Jimmi bangkit. "Qret, sudahlah," pinta ibu.


"Tidak Bu, sampai ia minta maaf!" kataku. "Lagipula keras sekali anda, tinggal minta maaf!"

__ADS_1


"Minta maaf pada perempuan mur**** itu? Jangan mimpi. Lebih baik aku mati dari pada harus memohon padanya!" Rani masih keras kepala.


"Baiklah, aku akan menghabisimu sekalian nyonya!" aku mencoba menggertak.


"Aaaaaaa ...." Rani berteriak keras.


"Nyonya, tolong minta putra anda menghentikan perbuatannya atau ia akan masuk penjara karena melukai ibuku!" kini Jimmi ikut mengancam.


"Qret!" pinta ibu.


Aku melepaskan perempuan itu seab tidak ingin melihat ibu lebih tertekan lagi. "Kau beruntung karena ibuku mengampunimu. Lain kali kau ulangi, akan ku habisi kau nyonya!"


Diluar dugaan, begitu lepas dari cengkeraman ku, Rani justru kembali menyerang ibu dengan kasar dan brutal. Ia tidak mempedulikan larangan siapapun. "lebih baik kau mati, perempuan terku***!"


Ibu melolong dalam tangisan karena pedihnya pukulan demi pukulan yang melayang ke tubuhnya. Sementara aku berusaha mengejar perempuan itu, tetapi terhalang oleh anaknya.


"Rani!" suara Wijaya menghentikan kehebohan yang tercipta. "Apa yang kau lakukan pada Rahayu?"


Aku langsung memeluk ibu yang spontan menangis dalam pelukanku. "Dasar perempuan barbar!" teriakku.


"Mas," ucap Rani. "Dia, mau mematahkan tanganku!" ia mengadukan ku pada Wijaya.


"A ... apa. Wijaya, apa yang kau katakan?" Rani tampak pucat, ia bahkan bicara terbata-bata.


"Ya, aku menceraikanmu!" ulang Wijaya.


"Pa," panggil Jimmi.


"Maafkan papa, Jimmi. Tapi papa tidak bisa lagi bertahan dengan mamamu. Selama ini papa bertahan karena hutang Budi pada kakek dan nenekku. Tapi papa sudah mengorbankan kebahagiaan papa sendiri. Sekarang, papa memilih mundur, Jim. Maafkan papa. Dari dulu papa tidak mencintai mamamu. Pernikahan kami tidak sehat. Papa tidak punya harga diri. Sekarang biarkan papa bebas!" ungkap Wijaya.


"Tidak bisa. Aku tidak mau bercerai. Aku sudah berkorban untukmu. Bagaimana mungkin kau mau menceraikanku begitu saja. Lagipula apa kata orang-orang nanti. Kita itu keluarga terhormat Wijaya. Pikirkan baik-baik!" ungkap Rani.


"Aku sudah memikirkan semuanya. Kita bercerai saja!" Wijaya tetap pada pendiriannya.


"Kau kira aku akan melepaskanmu begitu saja. Kau lupa Wijaya. Kau hanya orang miskin yang tidak punya apa-apa. Harusnya kau bersyukur kunikahi. Kalau kau tetap memaksa berpisah, aku akan mengambil semuanya darimu. Paham!" ancam Rani.


"Terserah kau Rani, aku tidak peduli." Wijaya berjalan menghampiri ibu, ia memeluk ibu tepat di hadapan Rani sehingga wanita sombong itu mengamuk sejadi-jadinya.


"Sudah ma, sudah." Jimmi mengajak ibunya pergi, sebab ia tahu semua sudah berantakan. Ayahnya tidak lagi peduli.


Setelah susah payah membujuk, Jimmi berhasil membawa ibunya pergi dari rumah paman Rudi.

__ADS_1


"Paman tidak apa-apa?" Aku menghampiri paman yang kini dipapah oleh Riana.


"Hanya sedikit luka, Qret." kata Paman Rudi.


"Sedikit bagaimana. Wajah Paman babak belur begini!" aku langsung meminta Riana mengambil kotak P3K.


Aku dan Riana mulai membersihkan luka di wajah ibu dan paman Rudi. Sementara Wijaya hanya diam entah memikirkan apa.


"Tolong lepaskan ibuku," aku berlutut di hadapan Wijaya.


"Qret!" Wijaya memintaku berdiri.


"Ayah, aku memohon kemurahan hatimu. Tolonglah agar hidup kami tenang."


"Nak, kau memanggilku ayah? Benarkah itu?"


"Ya ayah. Anggaplah ini salam perpisahan dariku. Tolong, jangan muncul di hadapan kami lagi. Aku minta tolong!"


"Qret!"


Wijaya menyentuh pundakku. "Baiklah, sebagai seorang lelaki, aku harus bersikap kesatria. Tidak main sembunyi seperti ini. Dengar nak, bagiku kalian sangat berarti. Jadi tolong jaga diri baik-baik. Aku tak akan membuat kalian dalam masalah lagi!" Wijaya meninggalkan kami.


Ibu tidak bicara apa-apa, hanya menangis dalam pelukanku. "Maafkan aku, Bu. Percayalah, ini yang terbaik untuk kita semua."


"Qret, apa ibu begitu buruk sehingga mendapatkan perlakuan seperti ini?" tanya ibu, dengan mata yang sudah sembab.


"Ibu jangan bicara seperti itu lagi. Bagi Qret, ibu adalah segalanya. Ibu sama seperti ibu-ibu lainnya. Sama-sama mulia karena sudah melahirkan anak-anaknya."


"Qret, benarkah?"


"Ya Bu. Percayakan sama Qret? Kalau tidak percaya, tanya Riana. Iya kan Riana?"


"Ya bu, ibu adalah perempuan baik. Buktinya mau mengajariku memasak," tambah Riana.


Sepasang mata ibu masih menyiratkan kesedihan. Begitu banyak luka yang ditorehkan Rani pada ibu hingga sekarang rasa percaya diri hilang. Ibu merasa sangat tidak berharga.


"Seburuk apapun masa lalu seseorang, asalkan sudah bertaubat, maka akan Allah ampuni ia. Ibu mengerti, kan?" kataku, mengulang nasihat yang pernah disebutkan oleh Yasmin.


Tuhan, berikan kamu kesempatan kedua. Aku menatap langit penuh pengharapan. Berharap Tuhan mengabulkan pintaku.


Ibu memang pernah salah. Menerima ajakan Wijaya, tetapi mereka sudah menyadarinya dan memutuskan untuk menikah secara agama. Aku mengerti, tidak semua perempuan bisa menerima pernikahan kedua suaminya, tetapi tidak dengan cara kasar juga.

__ADS_1


__ADS_2