GARA-GARA 3 MILLIAR

GARA-GARA 3 MILLIAR
Bagian 2


__ADS_3

"Nak, apa kamu ingin masuk?" tanya seorang lelaki yang diperkirakan oleh Jasmin seusia dengan ibunya. Lelaki itu membuat Jasmin sejenak terdiam sebab wajahnya mengingatkan Jasmin pada ayahnya. "Halo nak!" lelaki itu menjentikkan jarinya di hadapan Jasmin.


"Eh, iya." Jasmin yang tersadar dari lamunannya berusaha bersikap biasa. "Iya paman, saya ingin masuk ke dalam. Tapi undangan saya terbawa oleh ibu mertua saya, makanya saya nggak bisa masuk. Padahal hari ini suami saya disumpah." kata Jasmin.


"Hm, begitu. Kalau begitu ayo ikut masuk bersama saya."


"Sama paman? Memang paman punya dua undangan? Kalau diizinkan, saya mau sekali paman."


"Saya tidak bawa undangan."


"Lha, terus bagaimana masuknya? Paman ini mau bercanda ya."


"Kalau kamu mau masuk, ayo ikut saya!"


"Tapi bagaimana caranya paman?" meski ragu bisa masuk atau tidak, tetapi Jasmin tetap mengikuti lelaki tersebut masuk ke ruangan gedung. Ajaibnau, saat melewati petugas jaga, tidak ada yang menghalangi mereka atau sekedar mempertanyakan undangan. Jasmin bisa melenggang begitu saja tanpa ada halangan. "Wow, paman hebat sekali. Bagaimana caranya bisa masuk tanpa undangan? Memang paman ini siapa? Kalau dari bodinya sih kayak petugas gitu. Paman penjaga gedung? Tapi kayaknya bukan, secara penampilan paman necis sekali. Lalu paman ini siapa?"


Masih belum selesai Jasmin mengungkapkan segala rasa penasarannya, lelaki itu berlalu begitu saja meninggalkannya, berjalan cepat melewati tamu undangan yang masih mencari tempat duduk.


"Jasmin!" sebuah tepukan pelan mendarat di pundak Jasmin.


"Ibu!" Jasmin hampir melonjak kesenangan melihat ibu mertuanya.


"Kamu bisa masuk, nak?"


"Bisa dong Bu."


"Ya ampun, padahal ibu tadi benar-benar khawatir. Ini mau keluar nyariin kamu, untungnya kamu sudah masuk. Kalau begitu ayo sekarang kita cari tempat duduk sebab acara akan dimulai."


Menantu dan mertuanya itu berjalan beriringan menuju tempat duduk mereka. Tak lama acara sumpah dokter tersebut pun dimulai. Jasmin dan ibu Alifa yang semenjak awal acara berusaha menahan diri agar tidak ribut sesuai arahan Rem tiba-tiba tak bisa menahan dirinya lagi saat Ren naik ke atas panggung untuk menerima penghargaan sebagai mahasiswa terbaik.


"Kak Ren!" pekik Jasmin, tentu saja sukses mengundang perhatian orang-orang yang ada di dalam gedung.


Sementara yang dipanggil namanya hanya menunduk, antara kesal dan malu. Padahal ia sudah mewanti-wanti istrinya agar bisa menahan diri.


Usai acara, Jasmin dan ibu Alifa segera mencari Ren yang masih sibuk berbincang dengan beberapa orang temannya.


"Ren!" panggil Alifa.


"Tante." tiba-tiba seorang gadis memakai kebaya merah muda menghampiri Alifa. Gadis itu langsung bersalaman dan tak lupa mencium tangan. Ia langsung mengakrabkan diri meski Bu Alifa sudah menunjukkan sikap tidak suka.


Alifa tahu bahwa gadis itu menyukai putranya sejak masih sama-sama di bangku SMA. Hanya saja ia tak merestui sebab Alifa sangat yakin bahwa Mia bukanlah perempuan yang baik. Ia sering melihat bagaimana Mia membatasi pertemanan putranya.

__ADS_1


"Tante apa kabar? Terimakasih sudah datang di acara kami." katanya.


"Oh ya. Selamat ya." kata Alifa.


"Terimakasih Tante." jawab Mia dengan antusias.


"Mau praktek dimana nanti?" tanya Alifa.


"Tetap di rumah sakit Islam seperti Ren Tante. Inginnya terus bersama-sama." jawab Mia dengan antusias.


Melihat sikap Mia yang terus berusaha mengakrabkan diri dengan ibu mertuanya, Jasmin jadi merasa tidak nyaman. Tetapi Alifa cepat-cepat mengalihkan pembicaraan pada Jasmin sebab ia tak pernah suka jika ada yang membuat menantunya tidak nyaman.


"Ren, ayo foto berdua dengan Jasmin." pinta Alifa pada putranya.


"Nanti saja Bu." jawab Ren yang masih kesal dengan sikap istrinya tadi.


"Jangan nanti-nanti. Sekarang!" perintah Alifa dengan nada tegas sehingga Ren tak bisa mengelak lagi.


Ren dan Jasmin berdiri di salah satu spot yang di sediakan untuk berfoto. Jasmin berusaha memasang senyum terbaiknya. Sementara lelaki di sampingnya malah bersikap sebaliknya. Menekuk wajahnya yang tampan, tanpa menyisakan sedikit senyum.


"Kak Ren jangan cemberut gitu dong!" pinta Jasmin sambil berbisik.


"Terserah aku." jawab Ren, asal-asalan.


"Teman-temanku nggak ada yang norak kayak kamu."


"Apa?"


"Kenapa sih harus teriak-teriak segala? Kamu nggak malu apa?"


"Enggak!"


"Ish!"


"Aku kan cuma nyemangati kakak."


"Kalau begitu besok-besok jangan semangati aku lagi. Ngerti!"


"Apasih? Marah-marah terus. Kalau nggak mau foto ya sudah!" Jasmin segera berlalu, meninggalkan Ren yang masih berdiri di tempat spot foto, sementara Alifa berusa mengejar menantunya.


"Ren, Jasmin kenapa?" tanya Alifa pada anaknya setelah ia gagal mengejar Jasmin.

__ADS_1


"Biasa. Ngambek. Namanya juga tukang ngambek."


"Ren! Kenapa masih disitu? Ayo kejar Jasmin."


"Biarkan saja Bu, ayo kita pulang saja. Ren antar ibu ya."


"Lalu Jasmin?"


"Biarkan saja. Nanti juga dia pulang sendiri."


"Astagfirullah Ren. Ibu bilang sekarang juga kamu kejar Jasmin. Ibu nggak mau dia sedih hanya gara-gara sikap kamu."


"Ren nggak ngapa-ngapain."


"Kalau kamu nggak ngapa-ngapain, nggak akan mungkin Jasmin seperti itu. Ayo kejar dia!"


Kali ini Ren memilih untuk tidak menuruti perintah ibunya. Ia membiarkan Jasmin pergi sebab Ren yakin nanti Jasmin akan pulang sendiri seperti biasanya.


***


Gadis itu duduk bersimpuh di hadapan pusara ayahnya. Ia yang biasanya ceria berubah sendu. Menatap pusara, seolah tengah menatap seseorang yang berbaring di bawah batu nisan tersebut.


"Ayah, sepertinya memang tak akan ada lelaki yang benar-benar mencintaiku seperti cinta ayah padaku." keluh Jasmin, sambil mengusap makam ayahnya. "Aku kira, dengan pernikahanku bersama kak Ren maka aku akan bahagia sebab ia akan memperlakukan aku seperti ayah memperlakukan ibu dengan penuh cinta. Tapi ternyata tidak, yah, ia tetap saja dingin dan cuek. Membuat kesal saja!"


Jasmin menundukkan kepalanya. Ia ingat benar bagaimana cerahnya senyum suaminya saat berfoto dengan teman-temannya. Terutama Mia, gadis yang selalu berdiri di samping Ren. Perempuan yang ia ketahui sudah menjalin persahabatan dengan suaminya semenjak mereka masih di bangku sekolah.


"Atau jangan-jangan yang dikatakan kak Mia benar, kalau kak Ren sebenarnya tidak menyukaiku. Sikapnya yang dingin itu jadi buktinya. Lalu aku harus bagaimana?" Jasmin menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Semua cara sudah kucoba, tapi tetap saja kak Ren tidak suka!" Jasmin mendengus kesal. "Padahal aku sudah berusaha keras agar ia menyukaiku!".


Sementara itu, di depan rumah Jasmin, Ren yang baru pulang dari rumah ibunya buru-buru masuk sebab langit sudah berwarna gelap, sebentar lagi pasti turun hujan.


Sejak menikah, Ren memang ikut tinggal di rumah Jasmin sesuai permintaan istrinya. Meski sebenarnya ia sungkan, tetapi Ren melakukan semuanya demi Jasmin.


"Nak Ren sudah pulang?" tanya ibu mertuanya, menyambut kepulangan Ren.


"Iya Bu," dengan santun Ren menyalami ibu mertuanya.


"Jasmin mana?"


"Lho, bukannya tadi sudah pulang Bu?"


"Sejak pagi belum pulang."

__ADS_1


"Apa?" Ren langsung gusar,apalagi saat ia melirik jam di dinding. Pukul lima sore. Kalau tidak pulang ke rumah, lalu kemana istrinya?


__ADS_2