
"Qret, Bu Rahayu," panggil Alifa. "Beres-beresnya belum selesai? Atau jangan-jangan kamu tidak mau pulang ya Qret, terlanjur betah di sini." Alifa mencandaiku. "Ayah sudah menanti. Ayo kita ke kantor sekarang!" ajak Alifa.
Bertiga kami menuju ruangan pak Bagus sambil membawa barang-barangku. Setelah memberikan beberapa lembar surat, pak Bagus mengizinkanku untuk pulang. Tidak lupa kusalami satu-persatu polisi yang ada di sana.
"Main-main ke sini ya mas Qret!" salah seorang polisi yang sudah cukup akrab denganku ikut mencandai.
"InsyaAllah." jawabku.
Sampai di depan pintu kantor, kami bertiga melangkah ke luar dari kantor polisi, bersiap mencari taksi untuk pulang, tetapi langkah kami terhenti saat seseorang memanggil namaku.
"Mas Qret!" seorang gadis memakai kerudung berwarna biru muda dengan gamis berwarna senada melambaikan tangan padaku, diikuti seorang lelaki paruh baya bersamanya.
"Yasmin!" kataku. "Kamu tahu aku pulang sekarang?" tanyaku, saat ia sudah mengampiriku.
"Tadi ibu yang memberitahu Yasmin, Qret." kata ibu, memotong pembicaraan aku dan Yasmin. "Setelah mediasi dan yakin kamu boleh pulang maka ibu langsung menghubungi Yasmin. Ibu merasa Yasmin juga berhak tahu tentang berita kebebasanku ini." ibu menjelaskan.
"Maaf kalau mas Qret tidak berkenan jika aku dan ayah ada di sini," ungkap Yasmin.
"Oh, kata siapa tidak berkenan. Justru aku berkenan sekali." kataku sehingga membuat Yasmin tersenyum dengan pipi memerah.
Lelaki mana yang tidak senang jika kebebasannya disambut oleh gadis yang ia cintai, pasti ia sangat mensyukuri sekali.
"Kita pulang sekarang saja, yuk!" ajak pak Bimo. Ia menunjuk sebuah mobil kijang tahun sembilan puluhan, mobil punya temannya yang sengaja dipinjam untuk menjemputku.
Di sini aku benar-benar merasa sangat beruntung sekali sebab semua orang memperlakukanku dengan sangat istimewa.
Kami semua naik ke atas mobil. Aku yang nyetir, pak Bimo duduk di samping. Sementara ayah, ibu dan Yasmin duduk di kursi penumpang.
"Qret, ini mau kemana?" tanya ibu, saat mobil tua itu mulai melaju menuju rumah.
"Pulang, Bu." jawabku. Seingatnya tidak ada agenda mau mampir-mampir, makanya mobil terus kulakukan menuju rumah.
"Ke rumah ibu saja, ibu tidak ingin ke sana." Kata ibu.
Dari kaca spion, tampak guratan wajah ibu menunjukkan tidak suka jika harus kembali ke rumah paman Rudi yang pernah kami tempati.
"Tapi Bu," kataku.
__ADS_1
"Sudah Qret," ayah memberi isyarat agar aku mengikuti keinginan ibu saja.
Aku tidak mendebat ibu, langsung memutar menuju arah kebun jeruk, tempat ibu tinggal sebelumnya.
***
Entah sudah berapa banyak pesan wa yang masuk ke hapeku, mempertanyakan kapan aku pulang. Mungkin paman Rudi bingung, yang ia tahu aku bebas kemarin, tetapi aku tidak kunjung sampai di rumah.
Aku tidak tahu harus menjawab apa pada pesan yang dikirimkan oleh laman Rudi. Rasanya tidak enak jika berkata jujur bahwa ibu tidak mengizinkan aku tinggal di sana lagi sebab khawatir kejadian sebelumnya terulang.
"Bu, Qret ke rumah paman Rudi ya." kataku, pelan-pelan saat kami tengah duduk santai di ruang keluarga sambil berbincang-bincang.
"Untuk apa Qret?" tanya ibu.
"Pakaian kita kan masih di sana. Lagipula kalau mau pindah masa tidak pamit " kataku lagi.
"Jangan dulu ya Qret, ibu tidak mau kamu ke sana." sanggah ibu.
"Sekali saja Bu, buat pamit." kataku lagi.
"Ya nggak ada masalah kan, Bu? Qret sudah memaafkan Riana,"
"Riana Sendiri bagaimana?"
"Ya kalau Riana tidak ingin bertemu Qret, tinggal tidak usah keluar kamar. Kalau kita diam-diam seperti ini kan juga enggak enak Bu. Nanti dikira paman Rudi kita masih marah. Iya, kan, Bu?"
Ibu diam saja, tampak masih berat melepasku. Tapi juga membenarkan apa yang kukatakan.
"Terserah kamu sajalah, Qret," kata ibu.
"Kalau ibu tidak Ridha, Qret tidak akan pernah ke sana lagi."
"Ya ya ya. Ibu Ridha. Ibu tahu kok pak Rudi berjasa sekali dalam hidup kamu!"
Senyum terkembang dalam hidupku, langsung kubalas pesan dari paman Rudi.
[InsyaAllah besok Qret ke sana paman.] kataku]
__ADS_1
[Alhamdulillah, paman akan siapkan semuanya. Paman akan rapikan kembali rumah yang agak berantakan.] balas paman Rudi.
[Paman, sepertinya Qret akan tinggal di rumah ibu saja,]
[Kenapa? Kamu takut Qret, kami akan mengkhianatimu lagi? Riana sudah janji Qret. Ia sendiri yang memohon agar kamu mau tinggal di sini. Riana ingin menebus kesalahannya.]
"Bu," aku lagi-lagi mendekat pada ibu.
"Apa?" tanya ibu.
"Paman Rudi meminta agar kembali tinggal di sana,"
"Tuh kan, sudah ibu katakan."
"Apa salahnya, Bu?"
"Qret," ibu langsung berubah uring-uringan. "Pak, coba beritahu Qret." pinta ibu.
"Bu, di sana adalah dunia Qret. Ada banyak mimpi yang ingin Qret wujudkan, terutama untuk masa depan kita. Qret ingin membangun kembali rumah yang pernah terbakar. Kalau kita tinggal di sini, Qret harus benar-benar memulainya dari awal." aku menjelaskan panjang lebar apa yang selama ini kupikirkan.
"Qret benar Bu, biarkan saja ia menentukan mana yang terbaik untuknya. Ia sudah dewasa, tahu mana yang terbaik untuk dirinya sendiri." ayah membantuku menjelaskan pada ibu.
"Ibu percayakan, Qret bisa memilih yang terbaik?" kataku.
"Bukan masalah percaya atau tidak Qret, tapi ...." ibu masih terlihat ragu.
"Riana? Bukankah ibu sendiri yang bilang, kasihan padanya. Kalau kita menghindari Riana justru akan membuatnya jatuh semakin dalam. Justru harusnya kita bersimpati dengan membantunya berubah, Bu. Qret sangat yakin Riana tidak akan mengulangi kesalahan yang sama dua kali. Ia tidak bodoh." kembali aku membujuk ibu.
Semua orang pasti pernah melakukan kesalahan. Semua orang juga berhak untuk mendapatkan kesempatan kedua selagi ia belum menutup mata. Allah saja maha pengasih, mau menerima taubat hamba-Nya yang melakukan kesalahan.
"Ini pertama kalinya dan semoga terakhir Riana melakukan kesalahan pada Qret, Bu. Tapi kebaikan yang ia lakukan untuk Qret sangat banyak sekali. Dua kali ia pernah mengorbankan hidupnya untuk Qret. Qret berhutang budi padanya. Qret ingin membalas kebaikannya. izinkan Qret ya, Bu." Pintaku lagi.
Aku tidak menyalahkan ibu yang melarang bertemu dengan Riana, ini adalah bentuk kasih sayang ibu padaku. Tetapi aku juga sangat yakin, dalam lubuk hati yang terdalam ibupun ingin menemui Riana, ingin menyayanginya seperti pengakuan ibu sebelumnya.
Riana adalah gadis yang malang, ia memang punya materi dan kehidupan yang cukup baik dari ayahnya, tapi ia kurang kasih sayang dari sosok seorang ibu.
Makanya aku ingin ibu ikut merangkul Riana, barangkali dengan begitu Riana bisa melupakan cintanya padaku dan mendapatkan calon suami yang jauh lebih baik dariku.
__ADS_1