Istri Untuk Alan

Istri Untuk Alan
Si mungil


__ADS_3

🌹VOTEEE YAAA GAIIISSHHH🌹


Sepulang kerja, Alan berharap istrinya telah selesai haid. Satu pertanyaan yang dibawanya saat pulang.


"Assalamualaikum," ucap Alan saat masuk apartemen.


"Waalaikum salam," jawab Madelle.


"Loh, kok Mamah masih di sini? Bukannya less nya udah selesai?" Tanya Alan sambil mendekat dan mencium tangan ibunya.


"Emang kenapa kalau Mamah masih di sini? Jangan? Jahat kamu, Bang."


"Ya bukan gitu, biasanya kan jam segini udah pulang," ucap Alan melihat jam yang menunjukan hampir pukul setengah enam.


"Kenapa pulang telat?"


"Abis rapat, Mah. Si Papah suruh kerja lagi napa, Alan pusing kerja terus."


"Ya Bambang Abang, dikau kan kuliah buat ginian juga, kenapa ngeluh?"


"Nadia mana?"


"Tuh…., Lagi nonton tv."


Alan menengok, dia melihat bayi mungilnya sedang duduk dengan berbagai bantal sebagai ganjal di berbagai sisi supaya tegak. 


Nadia terlihat sangat lucu.


"Uhh…. Anak Papa nonton apa? Kiss dulu, Sayang. Sini peluk Papa."


Dan tanpa diduga, tangan Nadia menepuk wajah ayahnya saat Alan menghalangi televisi.


"Aduh, Nak, kok gebuk Papa sih?"


"Makannya jangan ganggu, Bang. Anak lagi belajar liat orang yang ngaji," ucap Madelle nyinyir.


"Dia cuekin Papa nya," gumam Alan. "Inanti di kamar?"


"Tengok aja."


Alan melangkah ke sana dengan tidak sabaran, dia tersenyum saat membuka pintu. Dan akhirnya mendapati Inanti ada di walk in closet sedang memakai pakaian.


"Yank?"


"Astagfirullah!" Inanti tergelonjak kaget, dia menengok dan menatap kesal suaminya. "Mas! Jangan ngagetin napa! Nanti aku jantungan, kamu mau?"


"Kiss dulu sini sama suami."

__ADS_1


Inanti yang hanya memakai celana dan bagian atas masih memakai handuk itu mendekat, dia mencium tangan Alan kemudian dibalas dengan kecupan di dahi.


"Modus lagi."


Alan menyeringai. "Udah beres haid nya?"


"Ini baru lima hari, Mas."


"Emang biasanya sebulan?"


"Seminggu normalnya," ucap Inanti berbalik lagi untuk memakai pakaian.


"Temen aku cerita ceweknya haid cuma satu hari."


"Itu cewek perlu dipertanyakan, Mas," ucap Inanti yang kini sudah selesai memakai piyama. Dia berbalik dan menatap wajah memelas suaminya. "Nanti juga kalau beres pake yang berenda."


"Mau peluk dong."


Inanti mendekat dan memeluk suaminya. 


Alan bergumam, "Kangen tau aku sama kamu."


Inanti diam merasakan degub jantung suaminya.


"Yank?"


"Iya?"


Inanti diam, pikirnya Alan akan kuliah lagi dan menyita waktu bersamanya.


"Cita cita?"


"Iya, bikin adik buat Nadia."


"Ih, dasar!" Inanti mencubit perut suaminya.


Dan saat mereka sedang berpelukan, Madelle berteriak, "Abangggg! Anaknya poop! Mamah lagi makan."


Alan tersenyum, dia melepaskan pelukannya pada Inanti, "Gak papa, Sayang. Biar aku aja, kamu dandan yang cantik buat aku ya."


🌹🌹🌹


Hari berlalu begitu cepat. Selepas subuh Alan kembali tidur sampai akhirnya dia bangun dengan diingatkan ada jadwal penting oleh Andria lewat telpon.


Inanti yang sedang memandikan Nadia melihat kesibukan suaminya. "Dasinya ada di gantungan, Mas, udah aku siapin."


"Makasih, Sayang."

__ADS_1


Inanti menatap Alan yang tampak terburu buru, dia benar benar tidak bisa membantu.


"Sarapan udah siap, Mas."


"Oke, makasih sayangku," ucap Alan menyempatkan untuk mencium kening istrinya dan mencubit pipi Nadia.


Inanti pikir, saat dirinya selesai memandikan Nadia, Alan sudah pergi. Inanti sengaja tidak memakaikan pakaian pada putrinya karena hendak dijemur di bawah sinar matahari.


Dan saat keluar, dia terkejut melihat Alan yang masih di sana.


"Kok belum berangkat, Mas?"


"Mau main dulu sama Nadia. Taruh sini, Yank, kan belum panas juga."


"Kamu gak berangkat?'


"Kangen sama Nadia," ucap Alan yang sudah memakai jas kembali menggendong putrinya yang hanya memakai popok.


Alan membaringkannya di karpet lalu menciuminya berulang kali sambil menggelitik.


"Kamu sarapan aja, Yank."


Inanti masih diam.


"Gak papa, sana sarapan. Nadia sama aku."


"Gimana rapat kamu?"


"Belum pada siap juga, nanti aja lah."


"Mas…"


"Udah sana sarapan dulu."


Inanti menurut, dia melangkah untuk sarapan. Namun, makan juga tidak selera. Inanti takut Alan terlambat berangkat.


"Mas…"


"Kok udah, Yank?"


"Aku udah kok sarapannya, kamu bisa berangkat sekarang. Itu udah pake jas, masa malah main, nanti kotor."


"Gak papa ya, De. Papa masih kangen sama dede." Alan kembali menggelitik putrinya.


Dan Inanti menghela napas, dia membiarkan Alan melakukan apa yang dia inginkan.


Tidak ingin kehilangan momen, Inanti mengambil ponselnya dan memotrek kebersamaan sang suami dan putri mereka yang sedang bercanda.

__ADS_1


🌹🌹🌹


tbc


__ADS_2