
🌹VOTEEE YEEE GHAISSS🌹
"Yakin nih?" Tanya Inanti lagi mengambil pakaiannya di dalam walk in closet. "Gak jadi?"
"Nanti deh, Yank. Kita keluar dulu. Takutnya nanti malem gak bisa jalan, terus malah gak bisa jalan jalan bareng."
Inanti tersenyum, dia memakai pakaian untuk bersiap siap pergi keluar. "Berangkatnya sekarang 'kan?"
"Iya, nanti maghrib sama isya diluar aja. Makan juga di luar."
Inanti menatap suaminya yang sedang menyisir. Rasanya mendebarkan pergi keluar jalan berduaan dengan pria. Ini pertama kalinya untuk Inanti merasakannya, dia tidak pernah memiliki waktu untuk berkencan.
"Pake yang abu, Yank. Cocok banget buat kamu."
"Abu ini?" Tanya Inanti pada pashima miliknya.Â
"Iya, yang itu."
Dengan memakai tunik hitam yang panjangnya sampai lutut, dipadukan dengan celana kulot abu abu.
Saat Alan selesai lebih dulu, dia menatap istrinya yang berdandan. Gaya Inanti memperlihatkan jelas kalau umurnya masih belasan, apalagi ditunjang dengan wajah baby face.
"Kenapa?" Tanya Inanti menyadari Alan terus menatapnya. "Pake gamis aja ya?"
"Jangan, udah cantik kok."
Inanti meneruskan dandanannya, membuat Alan menatap dirinya sendiri dalam cermin. Dirinya juga tampan dengan kaos hitam. Alan berharap tidak ada yang menyebut mereka kakak beradik atau bahkan sepupu.
"Ayo," ucap Inanti yang sudah memakai lipgloss.
"Jangan pakai itu, Yank."
"Kenapa? Jelek ya?"
"Bukan, rasanya manis, tar aku mau cium kamu terus."
"Dasar," ucap Inanti hendak mengambil tissue untuk menghapusnya.
Namun, Alan menarik pinggangnya hingga bibir mereka beradu saling mencium. Alan meraup bibir istrinya, menjilat bibir kenyal Inanti sampai akhirnya lipgloss dengan rasa manis itu hilang.
Inanti bernapas tidak beraturan saat ciuman terlepas.
"Mas ih."
"Dari gula kali ya dibuatnya?" Tanya Alan.
"Sesak tau."
"Yuk kita nge-DATE."
Pipi Inanti memerah malu mendengar kata itu.Â
"Kita lagi pacaran loh, Yank."
"Pacaran abis nikah?"
"Iya lah, lebih indah. Soalnya bisa langsung bikin anak, halal juga sama pahala. Bagus kan?"
Inanti diam, tangannya melingkar di tangan suaminya.Â
__ADS_1
Saat Alan berulang kali mencium puncak kepalanya, Inanti mengadah. "Mas, nanti diliat orang loh."
"Tenang, Yank. Aku bawa buku nikah kok."
🌹🌹🌹
Inanti tertawa sambil memeluk Alan saat ada badut yang mendekat. "Mas ih takut!"
Apalagi ada tujuh kurcaci yang dikendalikan anak anak. Inanti punya phobia tersendiri pada kostum yang menutupi seujung kepala sampai kaki.
"Mas….," Ucap Inanti.
Alan tertawa, dia memberikan uang pada kotak badut itu dan kemudian membawa Inanti pergi.
Mereka berada di pasar malam, di mana istrinya bisa menemukan berbagai makanan.
Dari sore sampai malam mereka masih berwisata di sana.
"Kok kamu bisa tau tempat ini, Mas?"
"Dulu sering kabur kalau lagi gabut sama temen."
"Aku baru tau loh ada tempat ini."
"Seneng gak?"
"Seneng banget," ucap Inanti.
Bahkan di sana ada komidi putar, kincir sampai mobil elektrik.
Tempat ini penuh dengan orang, tapi Inanti suka. "Aku pikir kamu taunya tempat tempat mewah doang, Mas."
Inanti mengadah. "Tau dariman aku sederhana? Tar aku abisin uang kamu baru tau rasa loh."
"Abisin, Yank. Aku kerja buat kamu kok."
Ini sudah jam sembilan malam. Mereka menghabiskan waktu di pasar malam musiman itu. Bertepatan di pinggir mesjid, jadi bisa sholat di sana sebelum melanjutkan jalan jalan.
"Gak pulang nih, Mas? DVD belum kita tonton loh."
"Itu buat nge-DATE kalau ada Nadia, Yank. Mumpung sekarang dibawa, puas puasin di luar."
"Orang kalau pacaran gini? Keluyuran?"
Alan tertawa. "Bukan keluyuran, main namanya, Sayang. Yakali gak ada tujuan."
"Mau beli sosis," tunjuk Inanti pada gerobak penjual di dekat jalan setapak.
Alan mengikuti langkah istrinya dengan tangan saling bertautan.
Saat itu ada telpon dari Madelle di ponsel Alan. "Yank, aku di belakang ini ya. Biar gak bising."
Inanti mengangguk.
"Dua ya, Mang," ucap Inanti.
Saat sedang menunggu pesanan, tiba tiba ada seorang perempuan yang mendekat. "Inanti?"
"Ya?" Inanti menengok. "Eh, Ika?"
__ADS_1
Keduanya berpelukan sesaat. "Ya allah, Ika, katanya kamu di Sumedang?"
"Iya, sekarang pindah lagi ke Jakarta soalnya kerja."
"Oh ya? Ke sini sama siapa?"
"Sama pacar, tapi nunggu di sana. Ini masih jam kerja aku kok, tapi sekarang istirahat bentar."
"Kerja? Jam segini?"
"Aku kerja di hotel, Nan. Kebagian shift malem. Kamu sama siapa ke sini?"
"Sama suami."
"Hah? Udah nikah?"Â
"Udah, udah punya anak lagi. Baru tiga bulan."
"Dijodohin bapak kamu ya, Nan? Bapak kamu dulu kan galak? Nikahnya sama siapa? Aki aki?"
Inanti tertawa. "Bukan. Eh, itu dia. Mas! Sini deh, ini temen aku waktu SD."
Dan saat temannya Inanti menatap Alan, wajahnya terlihat terkejut. "Tu… tuan Alan."
Inanti mengerutkan keningnya. "Dia suami aku, Ka."
"Alan," ucap Alan memperkenalkan diri dengan mata melihat bagian dalam jaket wanita itu. Itu adalah seragam cleaning service di hotel milik Alan.
"I… iya, Tuan."
"Santai saja. Sedang istirahat?"
"Iya, Tuan."
Alan merasakan adanya ketidaknyamanan.Â
"Ini pesananannya, Neng!" Teriak penjual sosis.
"Biar aku aja, Yank," ucap Alan menjauh dari sana.
Dan saat itulah temannya Inanti menatap mata temannya. "Itu suami kamu, Nan? Dia boss aku. Aku kerja di hotelnya. Aku pamit ya, Dah."
Saat Alan kembali, sudah tidak ada lagi tema istrinya.
"Kemana dia?"
"Pergi, katanya dia kerja di hotel kamu, Mas."
"Gak tau," ucap Alan.
Dia melihat raut wajah sedih di dalam istrinya. "Kenapa, Yank?"
"Mas tau gak? Dulu dia yang paling kaya loh pas aku SD, aku pernah gak ada temennya gara gara dia. Dunia emang berputar ya?"
"Alhamdulillah, Sayang. Makannya, ayo kita saling mengingatkan untuk terus berbuat baik kepada sesama. Harta hanya titipan, Allah bisa mengambilnya kapan saja."
"Iya, Mas."
🌹🌹🌹
__ADS_1
TBC