
🌹VOTE DONG GAIS🌹
"Assalamualaikum…."
"Waalaikum salam," jawab Bi Rukmini membuka pintu. "Eh, Nak Alan. Inanti nya udah tidur, coba lihat di kamar."
"Oh iya, saya bawa martabak buat Bibi."
"Duh, ngerepotin. Inanti pesen?"
"Iya, Bi."
"Makasih ya."
Alan yang masih membawa kantong lain segera masuk kamar yang dimaksudkan Bi Rukmini. Saat membukanya, dia melihat istrinya yang tertidur di samping Nadia yang tidur dengan mulut terbuka.
Di sana adalah kasur tanpa ranjang penyangga. Membuat Alan duduk di atas lantai yang bersebelahan dengan putrinya.
"Dede kok mangap sih?" Alan menyentuh berulang bibir Nadia supaya bibirnya tertutup. Membuat Nadia menengok ke sisi lain, tapi masih memejamkan mata.
"Nan…. Sayang…. Ini martabaknya…. Nan…"
Inanti melenguh saat merasakan goncangan di tubuhnya.
"Nan…. Sayang… hei… ayo makan martabak."
Hingga perlahan mata Inanti terbuka. "Mas? Kapan ke sini?"
"Barusan, nih martabak."
"Bibi?"
"Udah aku kasih, ayo makan…. Nih martabak madu semanis suamimu ini."
Inanti tidak tahan, dia malah kembali memejamkan matanya.
"Yang…. Ayo dong makan dulu, Sayang…..," bujuk Alan lagi. "Nan…."
"Iya, aku bangun," guman Inanti mendudukan dirinya.
Rambutnya yang berantakan membuat Alan membereskannya, dia menyelipkan rambut istrinya yang panjang. Namun, matanya masih terpejam.
"Sayang… ini emam dulu."
"Hem? Iya." Inanti kembali membuka mata, dia mengambil dus martabak dan mengambil satu potong rasa madu keju. "Kamu gak makan?"
"Liat kamu aja udah manis, mana tahan makan yang manis manis lagi, tar diabetes."
"Dasar raja gombal."
"Raja di hati kamu dong, Sayang."
"Iya deh, terserah," gumam Inanti yang makan sambil mengantuk, sesekali dia memejamkan matanya.
"Jangan tidur dulu dong, Sayang… ini makanannya masih banyak. Mubadzir loh kalau gak abis."
"Makannya kamu ikut makan."
__ADS_1
Alan sebenarnya tidak suka rasa manis, tapi dia memakannya demi istrinya. Dan saat Inanti menyadari apa yang dilakukan suaminya, dia segera menggeser sisa martabak ke arahnya.
"Loh, mau dimakan semua sama kamu?"
"Iya, buat aku doang," ucap Inanti berdiri.
"Mau ke mana?"
"Di simpen, Mas. Besok aja lagi di makannya, enak kok diangetin juga. Tunggu di sini, aku ambil minumnya buat kamu."
"Cieee…. Yang mau layanin suami, baik banget sih. Emang sih, siapa yang gak tahan sama suami ganteng macam Mas Alan."
"Iya in aja," ucap Inanti keluar, dia mengambil air teh hangat untuk suaminya.
Malam sudah larut, dan bibinya sudah tidur. Di kontrakan yang sempit ini, rasanya hangat dengan lampu kuning di bagian luar. Membuat suasana hangat terasa.
Saat kembali ke kamar, Inanti melihat Alan yang membuka pakaiannya hingga menyisakan kaos dan boxer.
"Kamu gak dingin, Mas?"
"Kamu aja pake begituan," ucap Alan menerima teh hangat dan meminumnya. Setelahnya dia menyimpan di meja kecil di ujung kamar. "Atau kamu sengaja ya biar dipeluk sama aku? Ngaku, Nan. Gak usah begituan. Kalau mau dipeluk bilang aja, sini peluk. Kangen kan sama Mas Alan?"
Alan pikir Inanti akan membalas kejahilannya, tapi tanpa diduga perempuan itu malah datang lalu memeluk suaminya. Lalu Inanti berucap dengan bibir bergetar, "Dingin, Mas."
Alan menegang, dia ragu ragu membalas pelukan istrinya kemudian bertanya. "Tiduran di kasur mau?"
Inanti mengangguk.
Namun, belum juga mereka di bawah selimut yang sama, Nadia kembali menangis ingin minum asi.
Dan terpaksa lah Inanti menyusuinya sambil memunggungi Alan yang memeluknya dari belakang.
"Astaga…. Selamat tidur kesayanganku. Mimpikan aku ya, biar pas buka mata makin rindu. I love you," ucap Alab kemudian mengecup kening Inanti.
🌹🌹🌹
Pagi yang cerah, saat itu Alan menggendong Nadia sambil duduk di kursi di teras depan. Kabut pagi masih menyelimuti, Alan tersenyum melihat wajah cantik bayinya.
Wajahnya dominan dirinya, perpaduan antara keturunan China, Amerika Latin dan Sunda. Ditambah dengan Inanti yang cantik alami.
"Mas?"
"Di depan, Sayang."
Inanti datang. "Udah mandi? Kok rapih banget sih?"
"Kita pulang sekarang."
"Ke apartemen."
"Iya."
"Gak ke rumah Eyang dulu, Mas. Eyang bilang dia mau bikin acara makan malam keluarga besar."
"Gak usah datang lah."
"Kenapa?"
__ADS_1
Alan diam, dia tahu semua orang adalah penjilat demi jabatan.
"Mas? Kenapa?"
"Gak papa, mau pulang aja. Kangen berduaan sama kamu, kayak kemaren lagi."
Inanti mengerutkan keningnya. Alan sendiri memaafkan mereka, tapi sudah seharusnya mereka berusaha dengan berpikir jernih dan minta maaf dengan tulus. Bukan dibuat buat. Dan Alan takut istrinya sakit hati jika tahu mereka semua hanya sandiwara.
Bagaimana dirinya tahu? Papa nya sendiri yang memberitahu kalau mereka masih membicarakan Inanti di belakang.
"Mas? Kok malah melamun? Kenapa sih?"
"Gak betah, Nan. Kita pulang aja biar kamu bisa bebas liat wajah suamimu ini."
"Dasar…. Mulai lagi….," gumam Inanti duduk di samping suaminya. "Barang barang kita gimana, Mas?"
"Udah aku suruh bawa sama Si Asep."
"Kita gak pamit dong sama mereka."
"Aku udah kirim pesan kok, ada urusan penting."
"Kamu ada kerja? Kok gak bilang."
"Kenapa mesti bilang, kan kerja nya juga sama kamu. Main kuda kudaan."
Seketika Inanti mencubit Alan saat itu, yang membuat suaminya tertawa.
"Nan?! Ini sarapan dulu sebelum pulang."
"Iya, Bi."
"Aku mau ganti popok Nadia, kayaknya basah deh, Nan."
Inanti hanya mengangguk. Di sana dia melihat suaminya yang masuk. Inanti berpikir kembali apa yang akan dia lakukan malam ini. Seharusnya ini benar benar terjadi. Inanti inginkan semua pahala dan kebaikan itu, dia juga suka saat Alan memperlakukannya layaknya berlian rapuh.
Maka darinya, Inanti menghubungi Madelle. "Assalamualaikum… Hallo, Mah?"
"Waalaikum salan… Iya, Nan? Kenapa? Kamu masih di rumah Bibi kamu?"
"Iya, Mah. Sekarang mau pulang kata Mas Alan."
"Mama tau kok, Abang udah bilang. Hati hati ya."
"Eum… Mama kapan pulang?"
"Siang ini kayaknya, soalnya pagi ini Eyang Sekar udah keluar. Kenapa, Sayang? Kamu perlu bantuan Mama? Bilang aja ayo…"
"Eum…. Inan boleh titip Nadia gak, Mah? Buat malam nanti."
"Loh, emang kenapa?"
Inanti diam sebagai jawaban.
"Ya Allah. Maaf, Sayang. Mama gagal fokus, nanti Mama ke apartemen kamu ya."
Inanti tersenyum. "Makasih, Mah."
__ADS_1
🌹🌹🌹
To be continue...