Istri Untuk Alan

Istri Untuk Alan
Kenangan Baru


__ADS_3

🌹VOTEE YEE GAISSSHH🌹


Inanti melangkah masuk ke penthouse suite, di mana ada banyak kamar di dalamnya, dilengkapi dengan ruang keluarga yang luas. 


Inanti menelan ludahnya kasar saat tangan Alan berada di pinggangnya.


"Nanti tidur di kamar itu lagi?" Tanya Inanti menunjuk kamar lantai dua tempat kejadian perkara dirinya bisa diperkosa.


"Mas?"


"Iya," jawab Alan mengiring istrinya ke sana. 


Mereka menaiki tangga menuju kamar yang ada di lantai atas.


Dan saat tangan Alan mendorong untuk membukanya, Inanti menelan ludahnya kasar. 


Namun, hal berbeda dia dapati. Semua atapnya dibuat dari kaca yang mana membuatnya bisa melihat bintang.


"Mas.."


"Iya tau, aku ganteng kan?"


Inanti terkekeh saat masuk, dia melihat gemerlapnya langit dari bawah sini. Ruangan ini luas sekali, tidak banyak perabotan seperti dulu. Hanya menyisakan adanya kasur, lemari dan sofa.


Kasur pun hanya tergeletak rapi di atas karpet.


"Mau tidur di sana gak sambil liat bintang?"


"Mau," jawab Inanti. "Tapi cuci kaki dulu."


"Iya, Sayang."


Setelah membersihkan diri, Inanti membuka kerudungnya dan naik lebih dulu.


"Astaga," ucap Inanti terkejut saat lampu dimatikan. Namun, itu membuat langit terlihat lebih bersinar terang.


Dan saat itulah Alan ikut bergabung di sampingnya. Inanti berbaring dengan tangan Alan menjadi bantalannya. Dia sangat nyaman, apalagi melihat ke bagian atas dimana bintang bertaburan.


"Kapan kamu ubah ini, Mas?"


"Udah lama kok, pas aku ditinggal sendiri."

__ADS_1


Inanti tertawa, pikirnya Alan akan melakukan hal hal aneh.


"Suka?"


"Banget, Mas. Kok tau aku suka bintang gitu?"


Alan diam, sebenarnya dia membaca catatan di kamar Inanti dulu.


"Mas?"


"Hmmm?"


"Kok tau?"


"Aku tau semuanya," ucap Alan mencium kening istrinya. Inanti yang mencintainya sejak dulu pun Alan tau.


"Mau makan cemilan gak, Yank?"


"Mau, di sini ada?"


"Di bawah."


"Jangan deh, di sini aja liat bintang."


Inanti mengangguk setelah dikecup di kening oleh Alan. 


Saat suaminya keluar, dering ponsel Alan berbunyi. Karena bukan hanya satu kali, Inanti mengangkatnya.


"Hallo, Al. Lu mau resepsian yang kayak gimana sih? Tanya dulu sama bini, mau gak resepsian? Terkejooeeeet gue tiba tiba nugas jadi ngatur resepsian."


🌹🌹🌹


"Mas, kamu nyiapin resepsian?" Tanya Inanti begitu Alan masuk membawa makanan.


Pria itu menyalakan dulu lampu. "Apa, Yank?"


"Resepsian, kok gak bilang?"


"Kamu gak mau?"


"Bukannya gak mau, tapi harusnya bilang dulu."

__ADS_1


Inanti dan Alan duduk berhadapan di atas kasur. Pria itu menggenggam tangan istrinya. "Kamu mau?"


"Aku pribadi buat saat ini gak bisa, Mas. Kalau bisa syukuran aja, gak usah resepsian."


"Tapi aku mau kamu pake baju pengantin, kan dulu cuma kemeja doang."


Inanti tersenyum. "Aku pake baju pengantinnya buat kamu aja, gak perlu diliat orang."


"Foto fotoan aja?"


Inanti mengangguk. "Sama keluarga juga, lagian kan mubah kalau cewek cantik kayak aku diliat banyak orang."


Itu membuat Alan tertawa, dia menarik Inanti ke dalam pelukannya lalu menggelitik perutnya.


"Mas ih geli! Ha ha ha ha!"


Alan terus menggelitik Inanti sampai akhirnya posisi mereka tidak kondusif lagi. Inanti berbaring di atas tubuh suaminya. 


Alan mengusap kepala istrinya penuh kasih sayang.


"Mau kiss gak?" Tawar Alan.


"Mau dipeluk aja deh," ucap Inanti membaringkan kepalanya di dada sang suami.


Alan bergeser sehingga mereka berdua kembali menatap bintang. 


"Yank?"


"Hmmm?"


"Wudhu yuk."


"Hah? Apain?"


"Ibadah lah."


Inanti menatap jam yang masih menunjukan pukul sebelas malam.


"Ibadah apa, Mas?"


"Bikin adeknya Nadia, mau gak?"

__ADS_1


🌹🌹🌹


TBC.


__ADS_2