
🌹Vote yaa ghais🌹
🌹Jangan lupa ajak yang lainnya juga yak.🌹
Â
Judi bangun lebih awal, dia bersiap siap ingin pergi.
Saat itulah Mile mengetuk pintu kamar majikannya, membuat Judi membukanya.
“Ada apa?”
“Sarapan anda.”
“Bawa masuk,” ucap Judi yang kembali focus dengan penampilannya, yang mana membuat Mile mengerutkan keningnya.
Penampilan Judi sama persis dengan saat dia aka nada acara formal, memakai mantel panjang dengan rambut yang rapi. Padahal seingat Mile kalau majikannya tidak memiliki pekerjaan di sini.
“Apakah anda akan pergi ke suatu tempat, Tuan?”
“Ya, aku akan menunggu Vanessa.”
“Anda terlihat lebih rapi.”
“Jika aku terlihat jelek maka dia akan lari.”
“Maaf?”
“Aku harus terlihat tampan supaya dia lebih menyukaiku.”
Mile mengangguk anggukan kepalanya mengerti. “Tapi sudah ada seseorang yang menunggu di sana, Tuan.”
“Biarkan saja, aku juga ingin ke sana.”
“Sarapan anda.”
__ADS_1
“Iya, Mile. Aku tidak akan gila dan menunggu di sana dengan kelaparan. Kau boleh pergi.”
“Baik, Tuan.”
Setelah Mile pergi dan menutup pintu, Judi tersenyum menatap pantulan dirinya dalam cermin. “Kau akan aku bawa lagi, Vanessa.”
🌹🌹🌹🌹🌹
Sesuai petunjuk dari Ami, Vanessa pergi untuk mengenjungi makam anak Alan dan Inanti, dia naik angkot dan berdesak desakan dengan orang yang akan ke pasar, membuat wajah Vanessa terlihat jelas sedang kesal, dia menahan amarahnya di tenggorokan.
Tidak ada yang bisa dia lakukan, kecuali menatap kea rah lain. Apalagi ada ibu ibu membawa ayam dan menyimpannya di sisinya.
Ingin sekali Vanessa complain, tapi tidak aka nada gunanya. Apalagi ibu ibu itu sebelumnya juga memarahi supir angkot karena lambat.
“Mau kemana, Neng?” tanya ibu ibu yang dikira Vanessa sangar.
“Mau ke sana, Bu.”
“Ke pasar? Kok cantik cantik ke pasar sih?”
Tanpa diduga ibu ibu itu malah tertawa kuat. “Lah si eneng bisa aja, Ibu juga cantik ini mau ke pasar. Emang mau ngapain ke pasar?”
“Enggan, Bu. Saya mau ke sini,” ucap Vanessa memperlihatkan sebuah alamat.
“Oalah, inimah kebun, Neng. Eneng tukang di sana?”
“Iya,” jawab Vanessa singkat.
Dan sesuai petunjuk yang Ami katakana sebelumnya, Vanessa tutun dari angkot saat sampai di terminal kemudian naik angkot yang lain. Beruntungnya angkot itu sepi sehingga Vanessa bisa leluasa.
Hanya dalam waktu beberapa menit, akhirnya dia sampai.
“Ini ongkosnya, Pak.”
“Kurang lima ribu, Neng.”
__ADS_1
“Lah, kan disini tertulis jauh deket 6 ribu.”
Pria tua itu terdiam, dan Vanessa melihat kesedihan dari mata tuanya. Dia mengeluarkan uang senilai sepuluh ribu. “Nih, Pak, sodakoh buat Bapak. Jangan maksa lagi minta ongkos sama yang lain, nanti penumpang pada minggat.”
“Makasih, Neng.”
Vanessa menarik napas dalam, pemakaman ini berada di sebuah hutan milik pribadi. Dan cukup jauh dari keramaian kota maupun pemukiman. Vanessa melangkah menuju ke pemakaman tempat leluhur Praja Diwangsa kebanyakan dimakamkan di sini.
Dan saat melangkah masuk, penjaga kuburan menghentikan.
“Maaf, Ibu siapa?”
“Saya temannya Alan, ingin mengunjungi makam anaknya.”
“Ibu Vanessa?”
“Iya, itu saya.”
“Maaf, Bu, Bapak melarang Ibu masuk.”
“Loh, saya bukan mau maling kok, saya mau ngaji doing.”
“Maaf, Bu.”
“Saya mau masuk, gak macem macem asli. Emang saya mau ngapain? Dosa loh pak kalau larang orang mau ziarah.”
“Maaf, Bu. Ini perintah majikan saya.”
“Tap⸻ Astaga!” Vanessa terkejut saat seseorang tiba tiba menarik tangannya.
Dan alangkah terkejutnya Vanessa saat melihat seseorang yang dia kenal. “Judi?”
“Gak sopan kamu sama suami manggil nama.”
🌹🌹🌹🌹
__ADS_1
TBC