Istri Untuk Alan

Istri Untuk Alan
Memulai lagi


__ADS_3

🌹VOTE🌹


Vanesa menarik napasnya dalam sebelum memasuki kompleks pemakaman itu.


"Ingin mengunjungi siapa, Bu?"


"Eum… keluarga Praja Diwangsa."


"Ibu saudaranya?"


Vanesa mengangguk perlahan. "Saya kerabatnya."


"Bisa ibu isi buku tamu?"


Terpaksa Vanesa melakukannya, dia mengisi buku tamu untuk mendapat izin masuk ke tempat itu. Setelah menuliskan namanya, Vanesa menatap al-Quran yang ada di pos penjaga. "Pak, boleh pinjam al-Quran?"


"Silahkan, Bu. Mau pinjam sorban? Bersih kok, belum dipakai."


Vanesa diam, dia sadar kepalanya tidak ditutupi apa pun. "Boleh, Pak."


"Ini, Bu."


"Terima kasih."


Saat memasuki tugu keluarga Praja Diwangsa, Vanesa mengucapkan salam. Dia mencari kuburan yang masih baru dan bayi. Hingga Vanesa menatap kuburan itu, dengan nama Adam Praja Diwangsa.


Vanesa mendekat, dia berjongkok di sana.


"Assalamualaikum," ucapnya.


Tidak banyak yang Vanesa katakan, dia hanya diam dan menatap nisan itu dengan air mata berjatuhan. Vanesa menatap al-Quran di tangannya. Dia berucap, "De, saya gak bisa ngaji. Tapi saya harap kamu tahu saya sangat ingin membacakan sebuah surat untuk kamu. Mudah mudahan, saya bisa belajar dari suami saya. Dan saya janji jika saya sudah bisa mengaji, saya akan datang lagi."

__ADS_1


Vanesa mengatakan itu sambil menangis, dia benar benar menyesali perbuatannya hingga satu nyawa melayang. Vanesa menangis tersedu sedu sambil memegang nisan itu.


"Maaf, De."


Dan saat itulah supir yang mengantar Vanesa mendapatkan telpon dari majikannya. "Tuan Muda?"


"Bagaimana dengan istriku? Kemana dia pergi?"


"Ke pemakaman Praja Diwangsa, Tuan."


Judi terdiam di sana.


"Apa anda ingi  saya melakukan sesuatu, Tuan Muda?"


"Tidak, bawa dia pulang, aku akan membawanya ke Belanda."


"Baik, Tuan Muda."


"Dan juga….."


"Aku minta maaf jika dia mengatakan sesuatu yang menyinggungmu, dia masih belum bisa menahan kalimat umpatannya."


"Tidak apa, Tuan. Saya menggerti."


🌹🌹🌹


Inanti menatap terkejut delapan anggota keluarga yang masuk ke rumah. Ada sepasang suami istri, dua anak yang masing masing memiliki pasagan dan anak mereka.


"Bapak kamu tidak bilang kamu akan tinggal di sini."


"Maaf, Teh, Inanti gak tau kalau teteh mau tinggal di sini."

__ADS_1


"Gimana sih?! Dasar gak tau malu. Pokoknya kamu harus bayar lima kali lipat. Dan barang barang yang ada di sini, semua jadi milik kami."


"Mana bisa begitu, Teh."


"Ya bisa lah! Kamu siapa memangnya?!"


Alan yang mendengarkan dari luar rumah mengepalkan tangannya kuat, dia menghubungi Mang Asep di luar.


"Sep, bagaimana?"


"Uang empat ratus juta sudah saya ambil, Tuan. Saya menuju ke sana sekarang."


Saat menutup telpon, Alan kembali mendengar cacian yang dilontarkan wanita bertubuh gempal itu pada Inanti.


Yang mana membuat Nadia menangis. Alan seketika masuk, dia mengambil Nadia untuk dibawanya.


"Ini siapa lagi? Nah, kalau ini suami kamu, tapi kamu gak bisa bayar, itu mobil di depan buat kami. Terus kamu pergi sana!"


"Teh, jangan begitu. Kita bicarakan baik baik."


"Gak papa, Nan," ucap Alan menatap tajam wanita itu, dia kesal apalagi banyak orang yang tiduran di kasur tempat Nadia seharusnya tidur.  "Saya akan berikan apa yang kalian inginkan."


"Mas….," Ucap Inanti memegang tangan Alan.


Saat bersamaan, Mang Asep datang. Dia membawakan koper berisi uang.


Alan mengisyaratkan agar memberikannya pada mereka. "Itu uang untuk uang sewa, dan mobil putih di depan, itu milik kalian sekarang."


"Mas….." Inanti tidak setuju.


"Ayo pergi, Sayang."

__ADS_1


🌹🌹🌹


TBC.


__ADS_2