Istri Untuk Alan

Istri Untuk Alan
Alasan Dibeci


__ADS_3

🌹VOTE🌹


Inanti menata pantulan dirinya dalam cermin. Gamis merah muda dengan siluet putih dipadu dengan pashmina warna biru langit. Inanti menarik napas dalam.


"Udah cantik kok, Nan."


"Apaan sih liatin! Orang ngaca cantik juga enggak."


Alan tertawa. "Terus? Liatin kaca mulu faedahnya apa? Biar berubah jadi Marylin monroe?"


"Kamu nyumpahin aku buat nyusul dia yang mati?!"


Alan kembali terkekeh. "Enggak lah, kalau kamu mati aku ikut mati, Nan."


"Dasar lebay," ucap Inanti membalikan badan. "Nadia nya gimana?"


"Aku udah telpon pengasuh."


"Pengasuh siapa?"


"Tenang, terpercaya kok. Dia yang ngasuh si kembar Ayaza sama Abigail waktu mereka kecil."


"Udah tua dong?"


"Hei, udah tua jangan disepelekan. Buktinya Mas Alan ini, Nan. Umurnya beda sepuluh tahun sama kamu, tapi gantengnya kan minta ampun. Nyamuk aja pada mau nyium."


"Itu karena kamu bau!"


"He he, tau aja, Yang."


Inanti gusar untuk turun dan makan malam. Sebelumnya dia seperti Tuan, hanya turun saat acara lalu kembali ke singgasana di atas alias ke kamar. Sebenarnya Inanti melihat beberapa pasang mata yang menatapnya tajam seolah ingin memangsa.


"Nan…?"


"Hem?"


"Kenapa sih? Kan ada aku, udah gak usah grogi gituh."


"Hih, siapa yang grogi."


Namun Alan melihat kegelisahan Inanti.


"Aku pawangnya setan, jangan khawatir, Sayang."


"Dasar," guman Inanti menyusui Nadia sambil menunggu pengasuh yang hendak datang.


"Mas?"


"Hmm?"


Inanti kembali diam. Membuat Alan semakin penasaran. "Apasih? Klau ngomong tuh yang bener, Nan. Jangan bikin orang penasaran. Kamu mau apa hm? Bilang sama Mas, asal jangan suruh jadi pejabat aja, takutnya buncit."


"Buncit kalau kamu makan hak orang."


"Nah kan demi mencegah hal itu, lebih baik mundur aja. Lebih baik dari hal kecil dulu, memimpin istri dulu gitu."


"Mimpin apaan?"

__ADS_1


"Ya mimpin dan mengiring kamu menuju ranjang gitu, mimpin permainan. Jadi aman kan, gak ada korupsi."


Inanti menggeleng tidak percaya.


"Otak kamu tuh gesrek banget."


"Geseknya juga sama kamu ini kan, Nan."


"Gesrek, bukan gesek."


Saat Alan hendak menyahut, ada suara ketukan pintu.


Inanti pergi untuk membukanya.


"Nyonya Inanti?"


"Masuk, Mbok," ucap Alan, membuat Inanti memberikan jalan. "Sebentar aja kok, mau makan malam doang. Kasian mereka nunggu mau ketemu."


"Iya, Tuan. Saya mengerti."


"Itu di botol baru dibuat kok susunya, Mbok."


"Nggih, Tuan."


"Ayo, Nan," ucap Alan pada Inanti yang masih gelisah.


🌹🌹🌹


Alan menggenggam tangan Inanti saat menuruni tangga menuju meja makan.


"Iya, Pah."


Diam diam Inanti menatap Eyang Sekar yang masih memasang wajah jutek padanya. Bahkan tadi, saat dirinya mencium tangan beliau, Eyang Sekar kembali menariknya dengan cepat.


"Papah abis acara ke mana?" Tanya Alan.


"Nganterin Mama kamu beli toge."


Inanti tidak bergabung dalam percakapan, dia hanya diam menatap para pelayan yang mulai menyajikan makanan di atas meja. Sementara Alan bercengrama dengan yang lain, meskipun itu seperlunya.


Jika ada pertanyaan untuknya, Alan selalu mengambilnya. Dan tangan  Alan tetap menggenggam tangan Inanti di bawah meja.


Saat semua makanan sudah tersaji, Eyang Sekar selaku istri dari Eyang Diningrat Praja Diwangsa itu memimpin doa.


Sayang, Eyang Diningrat Praja Diwangsa meninggal setelah sehari pernikahannya dengan Alan. Atau lebih tepatnya akad saja.


Eyang Diningrat dan Eyang asli dari daerah Kawasen Sunda,  hingga memutuskan menetap di Depok setelah kemerdekaan.


"Makan, Sayang," ucap Alan mengingatkan.


"Iya." Inanti segera menghidangkan makanan untuk Alan selayaknya istri lainnya.


Hingga sebuah pelayan tiba tiba membawakan sebuah cup kecil pada Alan.


"Ini, Tuan."


"Apa ini."

__ADS_1


Eyang Sekar segera tersenyum manis pada cucu kesayangannya. "Itu abon jantung buatan Eyang buat Aa. Coba makan, Aa kangen kan masakan Eyang?"


Alan mengangguk dan menerima dari pelayan.


"Eyang buat khusus buat Aa aja. Cobain, A."


"Makasih, Eyang." Alan membuka cup itu, dan dia menuangkannya di atas nasi Inanti ketika melihat istrinya tidak napsu makan. "Coba, Nan, buatan Eyang enak loh."


"Eh… kamu aja yang makan, Mas."


"Dibagi dua kok, buat kamu lagi. Ayo makan."


Dan Inanti memberanikan diri melihat Eyang Sekar, wanita tua itu menatap tajam seolah ingin melahapnya. 


Begitu pun dengan anggota yang lain. Sedetik saja mereka menatap Inanti meremehkan, rasanya ada ribuan panah menusuk jantungnya.


Inanti tidak tahan, tubuhnya terasa panas dengan wajahnya yang tidak bisa lagi tersenyum.


"Mas, aku mau ke belakang dulu," ucap Inanti lalu pergi begitu saja.


"Nan, tunggu."


"Jangan disusul," ucap Eyang Sekar. "Aa makan yang benar, kan Aa sendiri tau wanita kalau ke belakang ada keperluan. Pamali kalau suami ngikut-ngikutin terus istri. Biarin aja."


Alan mencoba berpikir positive, dia berpikir Inanti ingin ke toilet. Dan pikir Alan semua anggota keluarga ada di meja besar ini. 


Kenyataannya, Tante Rini tidak ada.


Di sanalah Inanti yang sedang menghirup udara segar didekati oleh Tante Rini.


"Kenapa, Nan? Mereka liat kamu sinis?"


"Tante Rini?"


"Eh, kamu masih inget sama Tante? Emang sih, wajah tante mudah diingat, orang Tante istri keduanya Guntur. Kontras banget kan kalau Tante dibandingin sama Poppy istri pertamanya Guntur?" Tanya Tante Rini sambil merokok.


Inanti hanya diam.


"Nan, dulu tante juga gituh. Pertama datang ke keluarga ini terus diliatin sinis, gak dianggap, dipandang rendah. Lama lama juga kamu terbiasa kok."


Inanti tetap diam.


"Kamu tau gak kamu kenapa dibenci?"


Inanti meng- iya kan dalam hati.


"Riganta itu anak pertama Eyang Sekar sama Eyang Diningrat, Riganta itu kesayangan mereka, lalu turun ke Alan. Skandal aku sama Guntur langsung tertutup sama skandal yang lebih besar, yaitu kamu yang diperkosa Alan dan hamil di luar nikah. Dan kamu tau, itu alasan Eyang Diningrat meninggal. Dia sedih karena itu menimpa cucu kesayangannya. Terlepas dari itu, latar belakang keluarga kamu hancur. Bapak kamu malah nyuri waktu akad nikah. Gila gak sih? Makannya jangan kaget kalau mereka benci sama kamu."


Tangan Inanti bergetar.


"Siapa pun yang mendengar nama belakang bermarga Praja Diwangsa, mereka akan segan dan menghormati. Namun, semua wibawa yang dibangun leluhur Eyang Diningrat lenyap seketika. Membuat Eyang Diningrat memilih menemui penciptanya daripada pulang ke kampung halaman dengan aib itu."


🌹🌹🌹


TBC.


(~‾▿‾)~         ƪ(˘⌣˘)ʃ ƪ(‾.‾“)┐

__ADS_1


__ADS_2