Istri Untuk Alan

Istri Untuk Alan
Season 2 : Suami yang malu malu


__ADS_3

🌹Jangan Lupa Vote buat emak ya Ghais.🌹


🌹Kasih tau yang lain kalau ada bacaan legend ini yak.🌹


🌹Terus follow ig emak ya : @RedLily123🌹


🌹Selamat membaca kaliaaaaaannnn Ghaisss.🌹


“jadi Ibu mau pulang aja ke Belanda?” tanya Tante Metry pada ibunya yang ragu tinggal bersama adiknya. “Metry gak maksa loh, Bu. Terserah ibu sukanya di mana.”


“Iya deh, Ibu udah betah di Belanda.”


“tapi aku gak nemenin gak papa?”


“Gak papa, kan Ibu udah gede.”


“Bukan gede lagi,” ucap Tante Metry.


“Apa?” tanya Oma Asih yang tidak mendengarkan suaranya.


“Ehehehe, enggak, Bu.”


“Tapi semingguan kita nginep di rumahnya Judi.”


“Buat apa, Bu? Nanti kita ganggu mereka.”


“Kamu juga dulu bisa hamil kan karena Ibu nginep seminggu. Inget?”


Tante Metry terdiam seketika. “Ehehehehe, yaudah deh ngikut aja sama Ibu.”


“Lagian masa kamu gak tau, kan posisinya deketan sama Ibu tirinya. Nanti kalau ketemu gimana? Bisa abis Vanessa.”


“Jadi sekalian kita perang?”


“Iyalah, memastikan mereka aman. Meski ada Judi, tapikan dia sering keluar, nanti Vanessa ditinggal terus ibu tirinya jadiin kesempatan.”


Tante Metry mengangguk angguk paham. “Tapikan kalau Vanessa mah bar bar, Bu.”


“Ya tetep aja, apalagi kalau dia hamil. Tar stress lagi.”


“Ngikut aja deh.”


“yaudah bikin jamu dulu yuk.”


“Ah, Bu. Jangan bilang kita harus keliling pasar deh.”

__ADS_1


“Iyalah, cepetan siap siap. Demi masa depan nusa dan bangsa.”


“Mana ada masa depan nusa dan bangsa.”


“Ada lah, kan nanti anaknya Judi sama Vanessa bakalan mengabdi pada negara.”


“Jadi PNS?”


“Ngomong mulu ya nih anak, ayo siap siap.”


🌹🌹🌹🌹🌹


Sesuai perkiraan dan keinginan, rumah itu dibuat sesuai kebutuhan mereka. Hampir dua minggu telah terlewati, Judi selalu menemani istrinya. Dia hanya keluar jika mendesak saja, Judi tidak ingin meninggalkan istrinya sendirian apalagi ada banyak pekerja di sini. Meskipun ada juga pekerja wanita, Judi tetap tidak ingin meninggalkan istrinya.


Jika masih bisa diwakilkan, Mile yang selalu terdepan menggantikannya.


Seperti sekarang, semua pekerjaan Judi bawa ke rumah. Kebetulan lantai dua sudah selesai, dia dan istrinya banyak menghabiskan waktu di sana.


Hanya beberapa saat mereka mengecek pekerjaan di bawah.


“Yank?” panggil Judi yang sedang melihat laporan di ruang kerja.


Kebetulan ruang kerjanya bersebelahan dengan kamar dengan dinding pembatas hanya sekat kaca saja. 


“Yank?” panggil Judi lagi.


Itu tidak sehat untuk tubuh. Maka dari itu, Judi meninggalkan dahulu pekerjaannya dan datang mendekati istrinya.


“Yank….,” panggilnya lagi. Dia mengusap pelan pipi istrinya supaya tidak kaget. “Van….”


“Hmmmm?” akhirnya mata itu mulai terbuka. Dia membalikan badan dan malah mengganti bantalan dengan paha suaminya.


Judi mengusap rambut istrinya penuh kasih sayang. “Udah sore, jangan tidur terus. Gak sehat.”


“Iya,” jawab Vanessa yang menghela napas panjang merasa malas bangun.


“Kamu gak sakit kan? Yank?”


“Enggak,” jawab Vanessa kini mendudukan dirinya menghadap sang suami.


Saat Vanessa mengucek matanya, Judi menghentikannya. “Kenapa? Pusing?”


“Heem, pengen dipeluk kamu.”


“Apaan pengen dipeluk, orang kamu tidur terus.”

__ADS_1


“Aneh ya, Mas.”


“Apanya yang aneh?”


“Akhir akhir ini aku ngantuk banget loh. Kalau liat sofa atau kasur tuh gak tahan tau, Mas. Maunya rebahan.”


Judi tertawa. “Ketularan penyakit tua tuh. Jangan dong, tidur terus gak sehat.”


“Ya terus gimana? Masa kalau ngantuk harus makan?”


“Cari kesibukan mau?”


“Kesibukan apa? Rumah aja belum selesai.”


“Tapi aku liat kamu gak seneng sama desain desain gitu, Yank.”


Vanessa menarik napas dalam, dia merentangkan tangannya meminta duduk di pangkuan suaminya. Dan Judi menurutinya. 


“Kenapa?” tanya Judi.


“Sebenernya sih aku masuk jurusan itu coba coba aja, ternyata…..”


“Gak suka?”


Vanessa mengangguk.


“Kamu sukanya apa? Kegiatan atau hobby apa gitu? Selama itu ke arah positive aku izinin kamu kok. Apalagi nanti kalau ditinggal sama aku di rumah, jangan tidur mulu.”


Vanessa tertawa. “Apa ya? Aku juga bingung.”


“Kamu sukanya apa?”


“Aku sukanya kamu doang, Mas.”


Judi terdiam, dia menatap istrinya yang menatap manja. Dengan suara berat dia berkata, “Aku kan gak bisa main kuda kudaan terus tiap waktu.”


“Loh? Kok pikiran kamu kuda kudaan doang?”


“Eh?” tanya Judi dengan pipi yang memerah.


Apalagi saat Vanessa berkata, “Kamu mikirin yang aneh aneh ya? Kuda kudaan? Cie….. lagi pengen, Mas?”


Ekspresi Judi yang menggemaskan membuat Vanessa tidak tahan memberikannya ciuman di pipi. Dan itu malah membuat telinga suaminya memerah.


“Telinga kamu merah, Mas,” ucap Vanessa menggigitnya pelan.

__ADS_1


🌹🌹🌹🌹🌹


To Be Continue


__ADS_2