
🌹VOTE🌹
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
Inanti menyambut kedatangan Madelle dan Riganta yang datang.
"Masya Allah, Inanti, Mama kangen kamu, Nak," ucap Madelle berjalan cepat dan memeluk Inanti.
Madelle menangis di sana, sementara Inanti hanya diam tidak bisa berkata kata.
Saat Madelle melepaskan pelukannya, Riganta mendekat. "Inanti."
"Papa."
Riganta tidak memeluk Inanti, melanikan mengusap kepalanya dan menciumnya puncak kepalanya penuh kasih sayang. "Di mana Nadia?"
"Di balkon, maunya digendong terus, Pah."
"Papa mau ke sana, mau gendong Nadia."
Riganta pergi duluan meninggalkan Inanti dengan Madelle. Wanita paruh baya itu menarik Inanti agar duduk. "Mama kangen banget sama kamu."
"Inan juga, Ma. Maaf ya…"
"Kenapa minta maaf? Si Alan itu yang salah, seharusnya Mama biarin aja dia jadi vampire."
"Huh?"
"Tau gak, Nan? Alan bilang dia gak tidur tidur pas kamu gak ada. Mama bilang aja, bapak kamu itu tentara, bukan vampire. Gila kali dia nyampe matanya item gitu, jelek banget tau Alan, Nan. Hih, Mama ampe merinding."
Inanti terkekeh melihat Madelle yang cerewet.
"Eh, Nan. Liat ini," ucap Madelle mengeluarkan ponselnya.
"Apa, Ma?"
"Eum… sebelumnya… kamu udah ke makam Adam?"
Inanti menggeleng pelan. "Mas Alan belum ngajak."
"Masa? Tadi pagi gak ngajak? Dia tiap pagi pergi loh, Nan. Kalau Mama sama Papa paling seminggu sekali."
"Tiap hari, Ma? Mas Alan pergi ke sana tiap hari?"
"Iya. Bukannya Mama belain dia ya, Nan. Pernah dulu dia gak mau pulang dari sana, katanya kasian Adam gak ada yang ngelonin, gak ada yang gendong, gak ada yang nemenin. Asli waktu itu Alan kayak orang gila, untungnya dibawa sama Papa ke Ustadz, jadi dia sadar dan mulai menata hidup."
Inanti diam. Alan menderita? Tapi Inanti rasa itu tidak sebanding dengan apa yang dirasakannya dahulu.
"Nan? Dia emang salah. Tapi, makasih ya udah mau nerima dia lagi."
Inanti menarik napasnya dalam. "Inanti mau liat keseriusan Mas Alan, Ma. Tapi sejauh ini alhamdulillah dia berubah lebih baik. Cuma agak tengil."
"Tengil?" Madelle tidak percaya, wajahnya tampak syok.
"Iya, tengil, Ma. Kenapa emang?"
"Masa sih? Dia abis ditinggal kamu jadi pemarah loh, dingin banget. Papa nya aja udah gak berani negur dia lagi, Alan konsultasi paling ke guru ngajinya. Masa dia tengil?"
Inanti bergumam, "Tengil banget, dia jailin Inan terus. Sebel Inan jadinya."
"Ha ha ha, beneran tengil, Nan?"
"Iya, Ma."
Madelle tersenyum, Alan mungkin hanya ingin menunjukan sifat itu hanya pada Inanti saja.
__ADS_1
"Besok minta ke alan buat ikut ke kuburannya Adam. Nih Mama punya foto Adam."
Inanti menerimanya, dia menatap foto bayi yang sangat mirip dengan Alan. Membuat hatinya menjerit ingin menangis.
"Nan…."
"Insya Allah, Inan ikhlas kok, Ma. Cuma butuh waktu aja."
"Mama ngerti kok. Oh ya, Mama juga bawa semprtotan cabe buat kamu."
"Buat diapin, Ma?" Inanti menerimanya. Saat mengirup aromanya, Inanti terbatuk batuk. "Ma?"
"He he, takut Alan macem macem. Mama tau kamu belum siap sepenuhnya, takutnya dia sinting lagi terus gak waras dan mengarah pada kegilaan. Jadi, semprot pake ini matanya."
"Nanti mata Alan gimana, Ma?"
"Paling kepanasan."
"Mama… gak keberatan Inanti semprot ini kalau Mas Alan lagi sinting?"
"Semprot aja, takutnya dia sama mesumnya sama bapaknya. Somplak otaknya, perlu di kasih cabe."
"Papa sering Mama semprot pake cabe?"
"He he, iya kalau dia liat cabe cabean."
🌹🌹🌹
Inanti semakin merasa panas dingin saat kedatangan si kembar cewek Ayaza dan Abigail adiknya Alan, ditambah lagi Alden si bungsu yang ikut menjenguk Nadia.
Dan selama ada kunjungan, Alan tetap di samping Inanti. Jadi Alan bisa melihat langsung ketidaknyamanan istrinya.
Mama sedang memasak, sementara Papa merokok di balkon. Inanti menyusui Nadia dari dot, ditemani Alan di sampingnya dan Alden yang duduk di sofa lain.
"Udah empat puluh hari, Mbak?" Tanya Alden.
"Aqiqah nya di Depok kan, Bang?"
"Iya," jawab Alan dingin.
Mata Alan lebih memperhatikan si kembar yang sedang berbicara berdua.
"Alden bawa mainan, Mbak. Kayaknya bisa kepake kalau Nadia udah tiga taunan."
"Makasih," ucap Inanti menerima papper bag dan menyerahkannya pada Alan.
"Boleh gendong gak, Mbak?"
"Gak boleh," ucap Alan yang menjawab. "Kamu mana bisa gendong bayi."
"Kan diajarin sama Mbak inan, Bang."
"Gak boleh."
"Gak papa, Mas. Lagian miminya udah kok," ucap Inanti santai dan menyerahkannya pada Alden. "Aku mau ke toilet dulu."
"Aku ikut."
Inanti mengerutkan keningnya saat Alan mengikutinya.
Saat Inanti masuk kamar mandi di luar kamar, itu melewati ruang televisi tempat Ayaza dan Abigail. Alan yang menunggu Inanti di luar mendekati kedua adiknya.
"Sapa Mbak Inan, jangan malah ngerumpi di sini."
"Males, Bang. Lagian kan udah sama Alden."
"Pulang."
__ADS_1
"Huh?" Abigail terkejut.
"Pulang sana."
"Abang kenapa marah sih?"
"Kalau bertamu itu harus punya etika, kalian pikir Abang gak liat dari tadi kalian liatin Inanti sambil ngomong. Kalian gak sopan."
Keduanya menegang saat mendengar ucapan dingin Alan.
"Bukan gitu, Bang. Ya aneh aja Abang sekarang mau sama Mbak Inan."
"Pulang."
"Bang, Ayaza cape cape ke sini masa di suruh pulang."
Alan mendekat, dia berucap penuh penekanan. "Ber- etika, atau pulang sana."
"Bang."
"Hormati Mbak Inanti selayaknya kalian menghormati Abang."
"Iya, Bang. Kami ngerti."
"Kalau kalian gak bersikap sopan sama istri Abang, Abang tarik kembali mobil kalian."
"Abang gak bisa gituh dong, kami adik Abang, Mbak Inan orang lain, lagian Abang dulu juga nggak suka sama dia."
Alan menegakan tubuhnya, dia mengetatkan rahangnya.
Yang segera membuat Abigail ketakutan, "Maaf, Bang."
Alan segera pergi dari sana dan kembali menunggu Inanti yang kenyataannya mendengar dari tadi.
"Udah, Nan?"
"Udah."
Alan menggenggam tangannya untuk kembali duduk.
"Aku mau bantuin Mama masak."
"Gak, perlu, Mama mah tangannya ada banyak. Sini aja liatin si Alden, takutnya gendongnya gak bener."
"Ya alloh, Bang. Liat nih, di pangkuan Alden anteng banget."
Dan ketika Inanti duduk, saat itulah si kembar mendekat.
"Mbak Inan… maaf ya gak bawa apa apa."
"Eh, gak papa. Gak usah bawa apa apa ka--"
"Ya nggak bisa, sana pergi kalau gak bawa apa apa," ucap Alan. "Ke sini lagi kalau bawa hadiah."
"I--iya, Bang."
Si kembar pergi setelah berpamitan pada Madelle hendak membeli beberapa cemilan.
"Ini Mbak, Alden mau ngerokok nyusul Papa."
Inanti menerima Nadia. Saat Alden pergi, baru Inanti berucap, "Kamu jangan jahat gitu dong sama adik adik kamu, kejam banget. Dasar."
"Ya allah, imut banget sih kalau udah ngambek. Bini siapa ya ini? Sini coba, peluk dulu sini sama Mas Alan, nanti dikasih batangannya."
"Dasar gesrek," gumam Inanti di telinga Alan yang mana membuat pria itu tertawa.
🌹🌹🌹
__ADS_1
To be continue...