Istri Untuk Alan

Istri Untuk Alan
Video Kuda-kudaan


__ADS_3

🌹VOTE🌹


"Gimana caranya?" Tanya Alan saat hendak memandikan Nadia.


"Hati hati lehernya, Mas."


"Ciee… manggil Mas lagi, suka tau aku tuh."


"Ck." Inanti berdecak malas. "Orang nanti keceplosan manggil kamu pake nama kan gak sopan."


"Nah, itu tau, Sayang."


"Jangan manggil aku kayak gitu!"


"Iya deh, Baby."


"Iiihhhh!" Inanti kesal, dia menatap Alan yang terkekeh sambil memandikan Nadia.


"Udah bisa kok, sana jangan liatin Mas Alan nya terus."


"Ge'er banget, siapa yang liatin kamu?!" Tanya Inanti ketus, dia memilih keluar dan menyiapkan pakaian Nadia.


Sampai suara bel berbunyi, Inanti memakai kerudung sebentar.


"Sebentar!" Teriaknya mendekat ke arah monitor dan melihat itu orang yang sama dengan dua hari yang lalu. "Siapa?"


"Saya Karl, Nyonya. Membawa pesanan Tuan Alan."


Inanti membukakan pintu.


"Nyonya, Tuan Alan ada di dalam?"


"Mas Alan sedang memandikan Nadia, ingin menunggi di dalam? Masuklah."


"Tidak, saya titipkan pada anda. Ini ponsel yang Tuan minta, dan mobil civic ada di basement, ini kuncinya."


"Baik, Terima Kasih."


Inanti mengerutkan keningnya saat Alan kembali membeli mobil. Seingatnya, mobil Alan sangat banyak. Apalagi ini nambah.


Saat hendak masuk kembali, bel kembali berbunyi. 


"Siapa?" Inanti melihat monitor, dia terkejut saat itu adalah bekas pembantunya di rumah Alan.


"Bi Idah?" Inanti segera mengizinkannya masuk.


"Assalamulaikum, Tu--- Ya Allah Ibu…. Ibu apa kabar?"


"Bibi…." Inanti datang dan memeluk Bi Idah. "Alhamdulillah baik, Bi. Bibi sehat?"


"Sehat. Ya allah, Ibu, Bibi pikir tidak bisa ketemu Ibu lagi. Ya Allah, Bu. Alhamdulillah sudah di sini. Bibi kira ada apa Tuan memanggil, tidak biasanya."


"Masuk, Bi. Ayo." Inanti memaksa Bi Idah duduk di sofa. "Bibi mau minum apa?"


"Gak usah, Bu. Saya ke sini karena di suruh bersih bersih."


"Minum dulu, Bi," ucap Inanti membawakan sebuah minuman. "Ini, Bi."


"Ya allah, Bu. Terima kasih."


"Bibi gendutan sekarang."


"Iya, Bu, kemaren abi mu--"


"Udah dateng, Bi?"

__ADS_1


"Tuan…" Bi Idah segera berdiri.


"Mandiin Nadia udah?"


"Udah. Dia kayaknya mau enen deh, Nan."


"Bi, Inan tinggal dulu ya."


"Iya, Bu."


Inanti meninggalkan Alan bersama Bi Idah.


"Bi?"


"Iya, Tuan?"


"Shift kayak dulu ya, dari pagi sampe jam satuan aja. Terus, Bi. Tanya tanya sama Inan dia suka apa, maunya saya giman, nanti kasih laporan sama saya."


"Baik, Tuan."


Sementara itu, Inanti yang baru masuk kamar terkejut melihat Nadia yang dalam kasur box.


"Mas Alan?!"


"Iya, sayaaaang, kenapa?"


"Kamu gila? Bedakin Nadia sampe semuanya?"


Alan mendekat, dia melihat Nadia yang tertawa. "Noh, Nadia nya aja seneng."


"Mas!"


"Apa? Mau batangan? Mau pegang dulu apa?"


"Sini peluk sini, pagi ini belum dipeluk Mas Alan."


"Aaaahhh gak mau," ucap Inanti mendorong.


🌹🌹🌹


Inanti menatap tidak percaya sebuah mobil di depannya 


"Mas, kamu bercanda?"


"Enggak, ini mobil buat kamu."


"Aku gak bisa nyetir! Ya Allah!"


"Nanti kan aku ajarin, Yang."


Inanti menatap tidak percaya, Alan terlalu membuang buang uang untuk hal yang tidak penting.


"Oke, aku mau belajar nyetir biar gampang kalau mau ninggalin kamu," ucap Inanti melangkah menuju ke dalam lagi.


Meninggalkan Alan di basement. "Nan? Kamu gak serius kan? Nan?"


"Bodo ah!"


Dan itu membuat Alan segera menghubungi Karl.


"Hallo, Tuan?"


"Bawa lagi mobil ini."


"Tap--"

__ADS_1


Tut. 


Tut.


Alan mematikan telpon sepihak, dia segera menyusul Inanti ke atas dan menemuinya di ruang keluarga. .


Bi Idah masih di sana mencuci pakaian baru mereka.


"Naaannn?"


"Kamu tuh, ya. Uang banyak jangan di hambur hamburin, kasih ke orang yang membutuhkan. Kok malah beli mobil, kan kamu udah punya empat mobil."


"Iya, Sayang. Nanti eggak lagi."


"Jangan panggil aku begitu," ucap Inanti yang sedang menyusui Nadia.


"He he, iya. Galak amat sih." Tangan Alan mengambil papper bag yang tadi dititipkan Karl pada istrinya. "Aku beli i phone buat kamu."


"Aku udah punya hape."


"Hape bakar udang? Yang item itu?"


"Iya! Yang item, dekil, kumal, bau, itu yang itu."


Bukannya marah, Alan malah terkekeh dan memasang wajah tengilnya. "Si bakar udang udah aku buang."


"Apa? Kenapa di buang?"


"Ini hape kamu yang baru."


"Nomornya?"


"Pake nomor yang baru kok, kontaknya udah dipindahin. Kecuali beberapa orang aja yang aku blok."


Alan pikir Inanti akan marah, tapi dia menerimanya dengan baik. "Makasih."


"Asyik, canggih loh ini, Nan."


"Paan?"


"Hapenya lah, hape bakar udang kamu mana bisa liat orang yang main kuda kudaan. Kalau di sini bisa. Kalau kamu mau liat boleh, download juga boleh, asal jangan lupa hapus. Takutnya kebablasan nyampe Nadia nanti liat."


Mata Inanti melotot seketika. "Gesrek kamu."


"Gak papa kalau di geseknya sama punya kamu mah, Nan."


"Allahu akbar," ucap Inanti tidak bisa berkata kata.


"Atau mau nonton bareng?"


🌹🌹🌹


Penasaran hubungan Vanesa sama Judi?


Berdasarkan Kemenpadi alias Kementrian Praja Diwangsa, mereka tidak ingin direcoki dengan hubungan Vanesa dan Judi dalam cerita mereka.


Maka dari itu, saya selaku presiden dunia merah Lily memutuskan, setelah "Istri untuk Alan." sebagai season pertama, maka season kedua adalah, "Istri untuk Judi."


Jadi, ceritanya akan digabung. tapi msuknya ke season dua. biar apa? biar gak nanya darimana asal usul judi sama Vanesa, biar kalian gak pusing. 


terima kasih. hehe


To be continue.


Ha ha ha ha ha ha ha ha

__ADS_1


__ADS_2