Istri Untuk Alan

Istri Untuk Alan
Perpisahan


__ADS_3

🌹VOTE YA GAISSSS🌹


"Biar aku aja, Yank," ucap Alan membuka pintu.


Kedua temannya sumringah dan masuk. "Assalamualaikum."


"Waalaikum salam," jawab Inanti pelan.


"Mana bayi lu?" Tanya Andria saat masuk. Dan saat matanya beradu dengan Inanti, dia terlihat kikuk.


Begitu pun dengan Rizki.


"Istrinya Alan ya?" Tanya Andria basa basi.


'Pembantunya,' jawab Inanti dalam hati.


"Saya Rizki, Ini Andria."


"Inanti," ucapnya berjabat tangan sesaat.


Tentu saja dengan Alan yang ada di belakangnya menatap tajam.


Rizki terlihat gusar. "Eum… kita gak bawa apa apa, cuma ini doang buat dede Nadia."


Inanti menerimanya. "Makasih, Kak."


"Sama…"


"Ya?" Inanti mencoba bersikap normal supaya wajah kesal dan sedihnya tidak terlihat. Tapi tetap saja Alan melihat kegelisahan di sana.


"Kita mau minta maaf pernah jahat sama kamu, Nan. Saya pribadi menyesal, kami jahat banget sama kamu. Kamu mau maafin kami? Mulai awal yang baru mungkin? Sebagai teman?" Tanya Rizki.


Andria menambahkan, "Gak jadi teman juga gak papa, asal tolong maafin kami."


"Gak papa, Kak. Inan maafi kok."


Dan saat itulah Alan mendekat. "Udah udah…., Gue tau bini gue baik. Terus sana, katanya mau nengok anak gue, ngapain deketin bini gue."


"Kita kan mau minta maaf, gak etis banget masuk terus minta makan," ucap Andria sambil melangkah menyusul Rizki yang mendekati box. "Makasih, Nan. Pantesan aja Alan kesemsem."


Pasangan suami istri itu masih diam di dapur, keduanya saling bertatapan sesaat. Sampai Alan bertanya, "Gak papa kan?"


"Enggak, biarin aja," jawabnya sambil berbalik kembali memasukan pie ke dalam wadah.

__ADS_1


Di sana Alan melingkarka tangannya di pinggang sang istri.


"Mas ih! Ada tamu."


"Di sana juga, lagian kealingan sama sekat, gak keliatan kalau pelukan juga."


"Iya, tapi jangan gini dong."


Alan terkekeh, dia mencium pipi istrinya sebelum melangkah menuju teman temannya.


"Annnjaaaii, anak lu cakep banget, Al. Hati hati loh nanti dipeped sama banyak cowok," ucap Andria yang menatap sambil tersenyum.


"Dominan mirip lu emang, tapi syukur matanya mirip Inanti. Kalau mirip lu bisa gawat, mata lu kan ke sana ke sini nyari cewek."


"Diem, bacooott. Tar istri gue salah paham," ucap Alan memukul punggung Rizki.


"Sakit, Al. Eh, dipangku boleh?"


"Kagak, lu mana bisa gendong anak gue."


"Bisa lah, kan gue pernah gendong si Andria waktu ospek."


"Lu nyamain anak gue sama si Andria?"


"Tapi, Al. Inanti baik banget mau maafin lu, secepar itu?" Tanya Andria.


Alan tersenyum tipis. "See kan? Dia bukan manusia, tapi bidadari."


"Kok dia mau ya balikan sama lu?"


"Ya gue gak tau apa alesan sebenernya, tapi gue janji sama dia bakalan bahagian dan jadi yang terbaik buat dia sama Nadia."


"Lu udah ngerasa jadi yang terbaik?"


Alan menggeleng. "Jauh banget."


🌹🌹🌹


Rizki dan Andria turun ke bawah untuk memberikan waktu pada Alan dan Inanti untuk berpisah.


Dan di sana, Inanti menangis menatap box tupperware berisi pie yang akan di masukan ke dalam koper.


Sementara Alan sedang menciumi pipi putrinya yang sesekali tertawa terbahak akibat ulah ayahnya.

__ADS_1


"Yank…..?"


Inanti menyeka air matanya. "Iya?"


Alan sadar istrinya sedang menangis. Dilihat dari punggungnya yang bergetar. 


Namun, sadar popok Nadia penuh, Alan berucap, "Aku mau ganti popok Nadia, udah penuh soalnya. Tolong masukin pie nya ke dalam koper ya."


"Iya," jawab Inanti masih membelakangi.


Alan masuk ke kamar, menidurkan Nadia di kasur sambil memberinya lelucon. "Apa anak Papa? Apa? Baaa… dede mau gendong lagi? Iya?"


Nadia tertawa berulang kali. "Iya, nanti digendong ya. Dede ny ganti popok dulu ya."


Setelah selesai memakaikannya, Alan kembali menggendong. Dia meletakan Nadia dipelukannya. Dimana dagu putrinya bersandar pada pundaknya.


"Anak Papa bantu Papa ya…., Jaga Mama supaya gak nangis terus. Dede nya jangan nakal, buat Mama ketawa ya."


Seolah mengerti, Nadia membalasnya dengan tawa.


"Iya kayak gitu… dede ketawa terus, biar Mama bahagia. Nanti Papa pulang kok, bawa oleh oleh buat dede. Nanti Papa juga mau cari mahar buat Mama di sana," ucap Alan mengingat mahar dulu yang diberikan pada Inanti adalah pemberian Madelle.


Dirinya bahka tidak memikirkan apa pun.


"Nanti Papa juga mau bawa baju pengantin buat Mama. Biar kita foto sekeluarga ya."


Saat itulah Inanti masuk. "Mas?"


"Iya, Yank? Kenapa?"


"Tadi ada telpon dari Kak Andria, tapi gak keangkat. Kayaknya kamu ditunggu banget deh, udah lumayan siang ini."


Alan menidurkan Nadia di box dulu. "Dede jangan nakal ya, Papa mau berangkat."


Inanti menelan ludah kasar saat Alan memakai jaket, kemudian mendekat padanya. Pria itu merangkup pipi istrinya. "Aku pasti pulang, jangan khawatir."


Inanti mengangguk dengan air mata berlinang. Yang mana membuat Alan membawa istrinya ke dalam pelukan. "Jangan nangis, Sayang. Sia sia loh air mata kamu. Mending kamu tenangin diri, wudhu, terus minta sama Allah biar aku pulang dengan selamat."


Inanti mengangguk dalam pelukan. "Hati hati di sana."


"Iya, Sayang. Nanti aku kabarin kamu tiap hari ya. Udah jangan nangis, tuh sesegukan lagi. Tar kamu pilek. Udah, Sayang… hei… udah jangan nangis. Aku pulang kok kalau udah beres urusannya, lagian mau ke mana lagi aku, orang syurganya aku itu kamu."


🌹🌹🌹

__ADS_1


TBC


__ADS_2