
🌹VOTEE YEEE GHAUSSS🌹
Wajah Vanessa muram, dia kembali menyimpan foto itu di bawah ranjang. Air matanya terus turun membasahi pipi, dia menangis terseguk seguk sambil tengkurap di atas ranjang.
Rasanya sangat sakit merasakan suami masih memiliki perasaan untuk orang lain. Hati, perasaan dan jiwa nya hanya untuk wanita lain.
Dia tahu ini adalah balasan atas apa yang dia perbuat. Namun, Vanessa tidak mengharapkannya. Semua kesakitan ini nyata, dan hal lainnya dia sudah mulai suka pada suaminya yang jauh lebih muda darinya.
Mengajarinya mengaji, sholat dan lebih kenal agama membuat hati Vanessa bertekuk lutut. Dia ingin memiliki Judi seutuhnya, yakni raga juga jiwa.
TOK.
TOK.
TOK.
"Diam!" Teriak Vanessa.
Pelayan yang ada di luar sana menelan ludahnya kasar. "Maaf, Nyonya. Anda dipinta Nyonya Asih untuk turun."
Vanessa diam, dia menekan wajahnya di bantal supaya tangisannya tidak terdengar. Hal itu membuat pelayan di sana pergi.
Vanessa menarik napas dalam, dia mengambil ponselnya dan membuka instagram untuk menaikan mood.
Namun sayang, yang dia temukan di instagram adalah foto foto keluarganya yang telah berbahagia di atas penderitaan ayahnya yang kini di penjara.
Yang mana membuat Vanessa termenung, dirinya tega meninggalkan ayahnya sendirian di sana.
"Maaf, Papah. Aku meninggalkanmu saat masa tersulitmu. Doakan aku, Papah. Supaya aku bisa kembali ke sana dan pulang dengan kebahagiaan."
Pria yang jauh lebih muda yang tidak lain adalah suaminya membuat Vanessa sakit hati.
Tatapannya terpaku pada foto ayahnya saat sedang menggendongnya saat masih kecil. Hanya kebersamaan itu yang dia miliki sebelum semuanya disibukan dengan harta dunia.
"Papah, aku jatuh cinta pada pria yang menjadi suamiku. Dia jauh lebih muda, kulitnya masih kencang dan bersinar. Dia baru berusia 24 tahun, sedangkan aku akan menginjak 29 tahun."
__ADS_1
Sambil bicara dengan foto ayahnya, Vanessa mengusap air matanya yang berlinang. "Vanessa menyukaiknya, Pah. Dia membimbing Vanessa dengan baik. Dia juga selalu tersenyum, sangat perhatian. Vanessa tau dia tidak suka pada Vanessa, tapi tidak pernah diperlihatkan secara langsung, Pah. Namun saat melihat kumpulan foto wanita yang dia sukai, rasanya sakit."
Vanessa kembali menutup wajahnya merasa sangat sedih. Air matanya terus mengalir membasahi pipi.
"Hiks…. Vanessa menyukainya, Pah."
🌹🌹🌹
Judi pulang dari pekerjaannya, dia merasa sangat lelah. Dan saat mendapati Oma Asih termenung sendirian, Judi mendekat. "Assalamualaikum, Oma."
"Aduh! Kaget!" Teriak Oma Asih yang sedari tadi memang melamun. "Kapan datang?"
"Barusan."
"Oh, waalaikum salam," jawab Oma Asih kemudian kembali terpaku pada dinding di depannya.
Membuat Judi kembali bertanya, "Ada apa, Oma? Apa Vanessa membuat Oma kesal?"
"Oma suruh dia memperbaiki kursi, tapi dia malah membuangnya. Bukankah dia jurusan arsitektur?"
Oma menghela napas dalam. "Bukan itu masalahnya, sejak tadi dia diam di kamar. Oma rasa ada yang salah dengannya."
"Benarkah?" Tanya Judi heran. "Aku akan ke kamar dulu, Oma."
Judi segera berlari ke kamar, dia membuka pintu dan mendapati Vanessa sedang tertidur dengan banyak tissue. Matanya bengkak, terlihat jelas dia habis menangis. Membuat Judi naik ke atas ranjang dan mengusap kepalanya penuh sayang.
"Van…. Eh, Ijah…. Jah…., Bangun…."
Dan karena usapannya membuat Vanessa tambah nyaman, tangan Judi mengepal dan menjitaknya pelan.
PLETAK!
"Anjiiiiiii--- Eh, Astagfirullah!" Teriak Vanessa bangun. "Dedemit!"
Dan saat sadar ada Judi di sana, Vanessa terdiam sesaat. Dia berdehem dan langsung memperlihatkan wajah datarnya. "Oh, sudah pulang?"
__ADS_1
Judi heran dengan Vanessa yang memunguti tissu.
"Jah, abis nangis?"
"Tau ah, aku laper."
"Sini dulu napa," ucap Judi menarik Vanessa untuk duduk. "Ngomong dulu kenapa?"
"Laper."
"Itu tadi nangis kenapa? Sumilang lagi?"
"Iya," jawab Vanessa singkat.
"Kalau gitu ke dokter yuk."
"Ogah, mau makan."
"Kok jadi marah gini?"
"Kamu aja yang gak tau kalau cewek lagi haid jangan dideketin. Laper nih mau makan."
Dan saat Vanessa turun meninggalkan Judi sendirian di sana, suaminya itu menarik napas heran. "Kenapa dia?"
Memanfaatkan moment, ada satu lagi kenangan Inanti yang belum Judi hilangkan.
Dia mengambil album dari bawah ranjang. Dan yang membuatnya heran, penjepit kertas di sana bergeser. Membuat Judi terkekeh. "Dia pasti melihat ini."
Judi menyalakan perapian, dia mendekat dengan membawa album itu. Tanpa berfikir panjang, dia membuka kaca penghalang dan memasukan albumnya ke sana.Â
Judi terdiam sesaat. "Berbahagialah, Nan."
🌹🌹🌹
TBC
__ADS_1