
🌹VOTE YEEE GHAIS🌹
Madelle menangis panik saat melihat Alan yang babak belur masuk rumah sakit.
"Gimana ini, Pah?" Tanya Madelle pada Riganta khawatir. Bukan hanya wajahnya saja yang lebam, tapi ada tulang rusuknya yang sampai patah. "Mas…."
"Gak papa, Abang baik baik aja. Jangan khawatir." Riganta member pelukan pada istrinya erat.
Dia sama khawatirnya.
Kejadiannya berlangsung sangat cepat. Anggota keluarga yang ada di bawah menyadari kejanggalan, ditambah suara suara pukulan yang beruntun terus menerus.
Membuat mereka terpaksa mendobrak. Di sana Riganta menapatkan putranya sedang terkapar tidak berdaya, dengan Guntur yang diam saja menatap kemenangannya.
"Pah, kok Alan gak lawan sih? Nyampe patah gitu loh tulangnya! Pah!"
"Udah jangan mikir yang aneh aneh."
Beruntungnya salah satu anggota keluarga Praja Diwangsa adalah dokter, membuat Alan mendapat pertolongan pertama sebelum dibawa ke rumah sakit.
Ketika dokter selesai memberi penanganan, Alan dipindahkan ke ruangan pasien.
Riganta dan Madelle segera pergi ke sana melihat keadaan putra mereka.
Alan terbaring lemah, dengan mata yang tertutup. Ada lebam di bawah mata dan di samping bibir.Â
"Abang….," Panggil Madelle sambil duduk dan mengusap kepala putranya.
"Gak usah di panggil, kan dia masih belum sadar."
"Ih, kan seenggaknya dia denger."
"Mana ada denger, kan lagi pingsan. Gak usah khawatir gitu, Alan gak lawan pasti ada alesan."
Madelle cemberut, berulang kali dia menciumi kening putra sulungnya. "Bang…., Bangun…."
Melihatnya menutup mata dengan wajah lebam membuat Madelle sedih sekaligus marah. "Guntur bakal dipenjara kan, Mas?"
"Iya, polisi udah bawa."
__ADS_1
"Pokoknya aku gak peduli, mau dia saudara kamu, kalau nyakitin anak kita harus dibawa ke ranah hukum."
"Iya, Mah. Alden yang tangani kok."
"Awas aja kalau mentang mentang dia saudara kamu malah kamu kasih keringanan. Anak kamu terluka loh, dia yang bakal rawat kita kalau udah tua nanti."
Saat itulah Alden datang.Â
"Mah?"
"Gimana, Den? Guntur bakal dipenjara kan?" Tanya Madelle.
"Iya, Mah. Lagian di kamar Eyang ada CCTV, kita punya bukti kuat," ucap Alden menatap saudara tertuanya. "Pah, kok abang gak lawan ya? Dia kan jago silat diajarin sama Eyang Sepuh."
Riganta menatap lama Alan. "Ada alasan buat itu."
"Sama Mbak Inan daritadi telpon nanyain Abang, gimana? Kasih tau aja?"
"Jemput aja, suruh ke sini. Kalau dikasih tau lewat telpon nanti syok."
Alden mengangguk.
🌹🌹🌹
"Kamu ke mana sih, Mas?" Tanya Inanti sambil menggendong Nadia. "Kok gak diangkat angkat sih?"
Dan saat itulah bel berbunyi. Melihat Alden yang ada di monitor, Inanti segera memakai kerudung sebelum membukanya.
"Assalamualaikum."
"Waalaikum salam. Alden? Bukannya kamu sama Mas Alan ya?"
"Eum… Mbak bisa ikut Alden nggak?"
Dan seketika Inanti merasakan sesuatu yang janggal. "Abang kamu kenapa?"
"Mbak siap siap ya. Nanti Alden ceritain di mobil."
Dan saat itu pula Inanti mempersiapkan diri dan bayinya untuk ikut.Â
__ADS_1
Seperti janjinya, Alden menceritakan kejadiannya di mobil.
Di sanalah Inanti diam sambil memeluk Nadia, tidak percaya Om Guntur melakukan hal sekeji itu.Â
"Tapi dia baik baik aja kan, Den?"
"Tadi belum sadar, Mbak."
"Mamah sama Papah di sana?"
"Iya, jagain Abang. Kalau Om Guntur udah polisi urus kok. Beberapa kerabat kita jadi saksi di pihak Abang, jadi pasti bakalan dipenjara."
"Om Guntur bakal dipenjara?"
"Mamah kalau nyangkut anak anak gak main main, Mbak. Papah pun kalah."
Inanti memilih diam di sisa perjalanan, dia berdoa supaya suaminya baik baik saja.
Dan ketika sampai, Alden mengantarkan saudari iparnya sampai di pintu masuk. "Abang di dalam, Mbak."
Inanti masuk ke dalam, di sana dia melihat Alan yang sudah sadar sedang bicara dengan Madelle.
Mengerti dengan keadaan, Madelle mendekat. "Biar Mamah yang jaga Nadia ya, kamu ngomong aja sama si Abang."
Inanti mengangguk, dia menyerahkan Nadia.
Ketika pintu tertutup, Alan tersenyum menatap istrinya. "Yank…"
Saat itu juga Inanti datang dengan menangis. Apalagi melihat lebam di wajah suaminya yang cukup parah.
"Udah, Sayang…, aku gak papa kok."
"Alden bilang…. Hiks… kamu gak lawan…. Kamu lupa… cara nonjok apa gimana? Hiks…."
Alan yang masih terbaring itu mengusap kepala istrinya penuh kasih sayang.
"Kenapa.. hiks.. kamu… gak lawan?"
"Kalau aku lawan, nanti aku menang. Terus anggota yang lain pasti bakal nyalahin kamu yang jadi penyebab aku jadi berubah sama mereka. Makannya aku diem, biar Om Guntur masuk penjara dan yang mereka lihat Om Guntur yang salah. Biar kamu aman."
__ADS_1
🌹🌹🌹
TBC.