
🌹VOTE DONG, ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha🌹
"Aa… Aa…..," panggil Eyang Sekar.
Riganta segera mendekat. "Ibu, Alan belum dateng."
"Ibu mau ketemu Aa… suruh dia datang… bilang Eyang nya nyesel…. Suruh dia datang…"
"Iya, Bu. Elle lagi nelpon Alan, Ibu kuat ya. Ibu harus sembuh biar bisa ketemu Alan lagi."
Riganta menatap ibunya yang tua renta terbaring lemah. Dia tidak membenarkan sikap ibunya, tapi untuk saat ini dia harus ada di pihak ibunya.
Mengusir menantunya di tengah malam juga menyisakan banyak kesakitan untuk Riganta.
"Mas…," panggil Madelle dari ambang pintu.
Riganta melepaskan pegangan tangan pada ibunya, dia memberi isyarat agar Poppy masuk dan menjaga.
"Kenapa?"
"Alan gak bisa dihubungi."
"Udah telpon Karl?"
"Sama, Mas."
"Kamu cari Alden, ya. Suruh dia ke sana, kita nggak bisa tinggalin Ibu."
"Iya, Mas."
Madelle melangkah dari sana.
Yang berjaga di rumah sakit hanya Riganta dan istrinya, Tante Poppy dan Om Guntur, juga Layung selaku anak bungsu.
Di sana Guntur mendekat. "Mas, belum bisa panggil Alan?"
"Belum."
"Di rumah tua lagi pada ribut, Mas."
"Apalagi?" Tanya Riganta kesal.
"Alan pecat mereka yang bekerja untuknya."
"Aku tidak menyalahkan itu."
"Mas! Keponakan keponakanmu dipecat secara tidak hormat."
Riganta menatap tajam Guntur. "Seharusnya kau lebih menghormati dan menghargai istrinya Alan supaya mencegah hal ini. Kau tahu bagaimana Alan bertindak."
"Aa….," Panggil Eyang Sekar dari dalam lagi.
Guntur yang masuk. "Ibu, Alan sedang dijemput sama Alden."
"Ibu mau ketemu Alan, bukan kamu… mana Riganta?"
Guntur mengepalkan tangannya kuat. Ternyata benar, yang kuat yang memenangkan segala sisi.
"Guntur temani Ibu di sini ya."
"Ini gara gara anak kamu juga. Suruh mereka minta maaf sama istrinya Alan."
"Ibu mau suruh Alan ke sini buat minta maaf?" Tanya Guntur tidak percaya.
Selama sisa hidupnya, semua perbuatan dan perkataan yang lebih tua adalah yang paling benar.
"Ibu… bagaimana ibu bisa melakukan itu."
"Ibu sadar…. Hidup itu bukan tentang dari siapa kamu lahir, tapi tentang jadi siapa setelah kamu lahir. Dilahirkan dari keluarga ningrat tidak berpengaruh apa pun di hadapan Tuhan. Katakan itu juga pada anak anakmu."
🌹🌹🌹
"Mas kenapa?"
"Gak papa," ucap Alan mengusap wajahnya. "Nadia bobo?"
__ADS_1
"Iya, kamu jadi berangkat besok, Mas?"
"Gak tau."
"Kok gitu?"
"He he, males ninggalin kamu, Nan."
Inanti berdecak, dia melempar Alan dengan bantal apalagi saat pria itu memperagakan buah dadanya dengan tangan. "Apalagi dada kamu makin gede."
"Dasar Omes ih!"
"Sini, Nan."
"Gak mau."
"Kamu maunya apa dong? Mas batangan lagi? Batangan Mas Alan aja ya?"
"Gak mau! Munduran," ucap Inanti saat Alan mendekat. Dia masih terbayang peristiwa malam itu, rasanya begitu sakit sekali. Selaput dara nya sobek secara paksa, darah mengalir dari sana bersamaan dengan Alan yang membungkam bibirnya dengan ciuman.
"Nan?"
"Ih, munduran!"
Karena itulah Inanti selalu mengalihkan pandangan saat Alan ingin mencium bibirnya. Membayangkannya saja membuat Inanti ingin menagngis, rasanya sakit sekali. Apalagi dia mendapat cengkraman kuat.
"Mau bikin apa sih?"
"Bikin itu…."
"Apa?"
"Goreng ayam pedas."
"Malem malem gini? Tar mules siapa yang repot?"
"Emang kapan aku ngerepotin kamu?" Inanti kesal tidak terima dengan nada bercanda Alan.Â
Dan pria itu malah cengengesan. "Sering, minta dipeluk lah, di cium lah. Inilah, itulah."
"Ih, Mas munduran ih."
"Bodo."
"Ahahaahaha."
Alan masuk ke kamar untuk menemui bayinya, sementara Inanti di sana masih memasak. Hingga ketika masakannya matang, Alan keluar mencium aroma lezat.
"Wangi banget, Nan."
"Jangan makan, nanti kamu diare."
"Ciee.. yang perhatian. Mau dong," ucap Alan duduk di sofa samping Inanti.
"Monitor bayi mana?"
Alan meletakannya di meja. "Aman kan? Lama lama di sini juga keliatan dede lagi apa. Mau lama lama?"
"Apasih ih, makan aja jangan banyak ngobrol."
Inanti memakannya duluan. Paha ayam yang ditumis dengan saus sambal pedas. Biji cabe di mana mana, dengan bawang bombai yang berserakan.
"Mau, Nan."
"Ambil aja."
"Mau disuapin."
"Dasar bayi," gumam Inanti menyuapi suaminya. Alan menggigit hingga saus mengenai pipinya. "Enak, Mas?"
"Wuihhh, apasih yang enggak buat kamu. Segala bisa, pinter banget ya. Udah cantik, pinter masak, kerdil lagi."
Senyuman Inanti hilang seketika. "Apa kamu bilang, Mas?"
"Belum juga selesai. Kerdil, biar enak dipeluk, kecil kecil cabe rawit, biar kecil bibirnya pedes minta ampun."
__ADS_1
"Orang usia aku masih dalam pertumbuhan. Liat aja nanti juga aku tinggi."
Alan tertawa tidak kuasa menahan tawa ketika melihat wajah Inanti yang mendumal.
"Mas aku serius loh nanti juga tinggi nyusul kamu."
"Ha ha ha, kapan kamu ulang tahun?"
"Tiga bulan lagi aku sembilan belas."
Alan diam. "Muda banget kamu, Nan."
Sebelum Inanti menjawab, Alan mendapatkan pesan dari seseorang. Dia membukanya dengan kening berkerut.
"Dari siapa, Mas?"
"Temen bisnis."
"Kenapa? Ada masalah? Kok mukanya asam."
"Cieee yang perhatian, berarti muka aku seringnya manis ya?"
"Serius ih," ucap Inanti kembali menyuapi Alan.Â
"Ada rekan bisnis mau adain resepsi. Katanya sih nikahnya udah lama, cuma resepsian doang sekarang."
"Terus? Kenapa itu kening berlipat?"
"Tau gak, Nan?"
"Ya enggak, kamu ngasih tau juga engga."
Alan menerima suapan sebelum bicara. "Pedofil loh ini, masa anak baru 19 tahun dinikahin, mana dia udah berumur lagi."
"Kamu gak ngaca?"
"Huh?"
"Aku umur berapa pas kamu anu - in?"
"Anu - in?"
"Kawin, aku kan kawin dulu sama kamu, Mas. Baru nikah."
Alan diam, sampai dia kembali menggoda Inanti dengan mencolek pipinya. "Bisa aja."
"Ih, diem orang lagi makan!"
"Iya diem ini, Sayang."
Dan monitor bayi memperlihtkan Nadia menangis.
"Aku aja, Nan. Tangan kamu kotor."
Alan meninggalkan istrinya di sana. Sampai terdengar bel berbunyi, Inanti mencuci tangan dan segera memakai kerudung.
"Alden?" Tanya Inanti saat melihat monitor.
Inanti segera membukanya.
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
"Mbak, Ya Allah untung Mbak yang buka."
"Kenapa emang?"
"Nomor Mbak ganti lagi?"
"Iya, Alan yang ganti."
"Alden mau minta bantuan," ucap Alden. "Eyang Sekar sakit parah. Dia di rumah sakit sekarang, katanya mau ketemu Bang Alan. Eyang manggil manggil nama Bang Alan terus, tapi Abang gak mau dateng Mbak. Tolong bujuk ya."
🌹🌹🌹
__ADS_1
To be continue..
akan ada beberapa part ke belakang, tentang bagaimana Inanti bisa ditarik ke dalam kamar hotel Alan. ha ha ha, panas nih panas bentar lagi. wkwkwkwk