Istri Untuk Alan

Istri Untuk Alan
Mertua Terbaik


__ADS_3

🌹VOTE🌹


"Nan…?"


"Hmmm?"


"Kenapa diem aja?"


"Gak papa," jawab Inanti masih menimang keputusannya nanti malam. 


"Diem mulu dari tadi."


"Terus aku mesti joged gitu? Yang ada nanti kamu gak fokus nyetir."


Alan terkekeh, salah satu tangannya dia lepaskan dari setir untuk menggenggam tangan Inanti. Namun, istrinya menepuk tangan suaminya seketika. "Fokus, Mas! Aku gak mau mati muda."


"Aduh, sakit banget pukulannya."


"Fokus dulu ke jalanan."


"Ya aku mana bisa fokus kalau kamu ada di samping aku."


"Aku pindah nih ke belakang!"


"Jangan, Sayang. Iya ini fokus. Galak banget ya bini nya Mas Alan, seneng deh kalau kamu jutek gitu. Manis cantik galak nya bercampur jadi gado gado."


"Serah ah!"


"Ha ha ha." Alan kembali tertawa dibuatnya oleh Inanti. "Eh, Nan… kalau kita panggil perawat bayi tiap jam sembilan sampai jam dua belas siang?"


"Hah? Buat apa, Mas?"


"Buat kamu suruh cuci piring."


"Kan ada Bi Idah."


"Ya ella, punya bini oneng amat ya."


"Bilang apa kamu?!" Inanti yang kesal memutar kulit tangan Alan seketika.


"Aaawwww…. Sakit, Nan. Merah tuh liat."


"Fokus!"


"Iya, Sayangku. Iya, apa pun buat kamu. Tapi gimana yang perawat?"


"Buat apa sih, Mas? Di jam itu kamu juga panggil Bi Idah."


"Ya kan beda tugas, Bi Idah mah bersih bersih, kalau perawat buat ajarin Nadia belajar. Kayak berenang, nanti kan kamu juga bisa belajar di rumah. Intinya kayak kamu less gitu, gimana cara terapi, gendong bayi, kayak gitu."


"Kamu gak percaya sama aku?"


"Hah?" Alan menengok saat mendengar nada suara istrinya yang terdengar sedih. "Bukan gitu, Nan, maksud aku."


Inanti memalingkan wajah. "Maksud kamu gitu, kamu pikir aku gak bener kan urus Nadia. Aku mah apa atuh, cuma orang katro, gak tau apa apa, ngurus anak sendiri juga masih diraguin. Udah jelek, miskin lagi."


"Enggak, Sayang. Bukan gitu," ucap Alan sedikit panik ketika Inanti memasang wajah kesal bercampur sedih. "Aku cuma mau kamu belajar lebih baik dan mendalami lagi tata cara merawat bayi dari ahlinya."


"Kamu gak percaya sama aku," gumam Inanti yang masih berusia belasan, perasaannya labil.


"Nan…."


"Tau ah! Terserah kamu."


Dan percakapan berakhir di situ, membuat Alan kebingungan setengah mati. Hingga dia terpikir sebuah ide. Alan berhenti di sebuah toko buku.


"Ngapain ke sini?"


"Jajan dulu yu."


"Gak mau ah, kamu aja," jawab Inanti dengan suara pelan.


"Ayo… kamu pasti suka," ucap Alan mengambil alih Nadia supaya istrinya keluar.

__ADS_1


"Mau ke mana sih, Mas?"


"Ke toko buku yuk, liat liat buku bagus."


Awalnya Inanti malas, dicampur dengan kesal. Namun, setelah masuk ke toko buku dan membeli beberapa buku pengetahuan, mood nya sedikit terangkat.


Apalagi setelah keluar dari toko buku, Alan menggenggam tangannya lagi. "Ke sana yuk."


"Ke mana lagi?"


"Ada toko cokelat di samping."


Dan tidak berhenti sampai di situ, setelah Inanti membeli beberapa box cokelat premium, Alan kembali menariknya ke toko sebelah. 


"Ke mana lagi, Mas?"


"Beli make up buat kamu lah. Kan istri cantik butuh modal. Kamu kan cantik buat aku. Aku mau nya liat kamu cantik, happy, wangi lagi."


"Emang aku gak gitu?"


"Udah, pake banget. Ya kali make up kemaren beli warna warna nya udah bikin kamu bosen, kita nyari warna lain."


"Make up itu juga masih baru, Mas."


"Ya gak papa, kan kamu suka coba coba nyari yang cocok. Beli aja semuanya, mau? Sama aksesoris rambut tuh."


Inanti mengerutkan kening. "Aku kan pake hijab."


"Ya dipakenya di depan aku lah, Sayang. Nanti aku juga bergaya nya di depan kamu."


"Pake bando gitu?"


"Bukan, kalau aku gak pake baju. Gaya nya ganti pas lagi kuda kudaan aja."


🌹🌹🌹


Inanti mendapat telpon dari Madelle, dia harus mengangkatnya secara sembunyi sembunyi.


"Mas, aku mau ke toilet dulu."


"Orang leadernya juga kamu," ucap Inanti meninggalkan Alan yang tertawa di sana.


Inanti masuk ke kamar mandi dan duduk di closet. "Hallo, Mah? Inanti lagi di kamar mandi. Sembunyi dari Mas Alan."


"Oh iya, kalian dimana, Nan?"


"Lagi di rumah makan, Mah. Mas Alan mau istirahat bentar, kasian juga Nadia cape mobil mobilan terus."


"Eum…. Yaudah, Mama juga persiapan pulang kok. Nanti Mama ke sana jemput Nadia sama Ayaza."


"Tapi…., Mama gak bilang kan sama yang lain?"


"Ya enggak lah, Sayang. Tenang aja, lagian Bapaknya Alan lagi kepingin ketemu sama cucunya, jadi tenang aja… everything is gonna be allright."


Inanti tersenyum. "Makasih, Mah. Assalamualaikum."


"Waalaikum salam."


Inanti kembali keluar, dia mendapati suaminya sedang membayar. "Udah, Mas?"


"Udah, atau kamu mau makan lagi?"


"Enggak lah, ayo pulang. Sini Nadia nya."


Dan sisa perjalanan saat itu, Inanti tidur dengan Nadia di pangkuannya. Alan menatap istrinya saat lampu merah menyala, dia terlelap begitu dalam sampai tidak sadar mereka telah sampai.


"Nan…. Sayang, udah nyampe. Sini dede nya biar aku gendong."


"Hah? Iya."


Inanti masih mengumpulkan kesadarannya, dia menyerahkan Nadia kemudian turun menuju apartemen.


Inanti belum bisa fokus, dia mengantuk berat.

__ADS_1


"Tidur aja lagi, Nan. Sana ke kamar."


"Nadia belum ganti diapers."


"Biar sama aku aja gak papa. Udah sana tidur, Mas Alan ini segala bisa, tenang aja."


Inanti mengangguk dan meninggalkan Alan untuk tidur.


Setelah Alan mengganti popok lalu mengajak Nadia bercanda di beranda, saat itulah bel pintu berbunyi. Saat melihat ke monitor, Alan terkejut itu adalah ibunya. Membuatnya segera membuka.


"Assalamualaikum."


"Waalaikum salam, Mama ngapain ke sini?"


"Durhaka kamu, orangtua datang gak di sambut."


"Ya kan maksud Alan tadi Mama masih di tempatnya Eyang. Kok Ayaza ikut?"


"Nadia mana?" Madelle malah bertanya balik.


"Tuh, ditidurin di sana."


"Ke sana ah." Madelle melangkah pergi.


"Hallo, Bang," ucap adiknya segera menyalami kakaknya. "Mbak Inan mana, Bang?"


"Mau apa?"


"Ada titipan dari keluarganya Om Guntur. Masih jadi penjilat tuh mereka."


"Tuman kamu," ucap Alan menatap tajam adiknya. "Simpen aja di sana."


"Iya iya." Ayaza pergi ke dapur untuk mencari cemilan.


Kemudian Alan melangkah mendekati Ibunya. "Eh… Mama mau ajak Nadia ke mana?"


"Itu…. Nadia kan belum ikutan posyandu, belum di imunisasi. Inanti minta Mama yang bawa, soalnya Mama yang tau."


"Inanti udah bilang?"


"Udah kok, kamu tanya aja sama dia."


Dan saat itulah Inanti keluar kamar. "Mama?"


"Tuh! Tanya aja sama istri kamu. Iya 'kan, Nan? Mama mau bawa Nadia buat imunisasi."


"Suruh aja dokternya ke sini," saran Alan.


"Mama juga mau arisan, mau pamer lah cucu Mama. Tega kamu kalau larang."


Kini  Inanti yang bicara. "Eum… gak papa, Mas. Biarin aja, kasian Mama."


"Yaudah, bentar aku siapin barang barang Nadia," ucap Alan pergi ke kamar.


Dan saat itulah Inanti mendekati Madelle saat mertuanya mengisyaratkan.


"Nan… Mama bawa sabun kamasutra buat kamu, wangi banget. Mandi pake ini ya… Keramas juga. Mama juga bawa kelopak mawar, pake buat berendam."


Pipi Inanti memerah malu. "Eum… itu, Mah…"


"Gak papa, santai aja kalau sama Mama. Ada baju seksi gak? Pake itu, rambutnya di urai aja. Terus terus, pake lipgloss nya yang berasa cokelat, biar si Abang ketagihan. Bekas operasi sesar mah gak papa, gak keliatan 'kan?"


Inanti mengangguk.


"Pokoknya kamu tenang aja, Mama bawa Nadia ke sini besok sore. Jadi kamu bisa sepuasnya, Nan. Jangan lupa juga pake ini."


"Apa ini, Mah?" Inanti melihat ke dalam papper bag.


"Sejenis salep buat nahan asi, ya kali kalau si Abang macam macam nanti asi nya keluar. Biar dia gemes. He he, pokoknya di dalem sini paket lengkap, tenang aja. Mama bisa diandelin," ucap Madelle dengan ribut dan tidak sabaran.


Dan itu membuat Inanti malu.


"Udah jangan malu, next informasi nanti Mama telpon, oke?"

__ADS_1


🌹🌹🌹


Tbc.


__ADS_2