Istri Untuk Alan

Istri Untuk Alan
Menuju Kebaikan


__ADS_3

🌹VOTE YA GAIS🌹


🌹IG PENULIS JENIUS INI : @Redlily123🌹


"Mas!" Panggil Madelle pada sang suami yang sibuk mengetik. "Mas!"


"Bakso dua," jawab Riganta yang membuat Madelle kesal.


Dia melempar bantal pada suaminya.


"Kenapa?" Riganta berbalik.


"Dasar. Kamu gak mau gituh gantiin si Abang buat pergi ke Jambi? Kasian Inan."


"Itu project nya Alan, mana bisa aku serobot."


"Inanti kasian sendiri."


"Resiko," ucap Riganta kembali menatap komputer.


"Kalau gitu besok aku mau turun ke jalan ya."


"Ngapain sih turun terus ke jalan? Itu sampah gak akan hilang."


Madelle kesal. Pasalnya dirinya adalah ketua untuk yayasan yang mengedepankan untuk membereskan masalah sampah di ibu kota.


"Lagian itu sampah gak akan hilang kalau gak ada kesadaran diri," ucap Riganta lagi.


"Kamu sendiri liat kalau satu orang gak sadar bisa bikin kerusakan, gimana kalau semua? Kalau aku ikut ikutan? Indonesia nanti penuh sama sampah, Mas."


Riganta menggedikan bahunya. "Mereka yang buang juga gak peduli."


"Begitu pun dengan aku, aku gak peduli mereka mau apa apaan. Yang penting niat aku baik, aku ngasih bimbingan sama mereka betapa indahnya Indonesia tanpa sampah, and tugasku beres."


Madelle kembali melanjutkan, "Indonesia ini indah, Mas. Makannya aku mau sama kamu juga."


"Apa?"


"Diem dulu napa." Madelle berdehem. "Orang orang mengeluh kenapa sering banjir, macet, gempa bumi. Kalau alam Indonesia bisa mengeluh, mereka melakukannya dengan mengeluarkan bencana alam. Sungai udah gak kuat menahan kotornya sampah, udara tidak tahan memakan semua debu kotor. So, itu ulah kita sendiri 'kan? Jadi, harusnya kalau mereka mau mengeluh, mengeluhlah untuk diri sendiri. Kayak, gimana ya caranya alam Indonesia kembali pulih? Gimana ya caranya sampah berkurang dan banjir teratasi. Ngerti kan, Mas? Jangan men-judge pada akibatnya, tapi kritik apa yang dilakukan penyebabnya."


🌹🌹🌹

__ADS_1


"Ayo sini tidur di pangkuan Mas Alan, biar ngajinya kedengeran," ucap Alan yang lebih dulu duduk di atas ranjang. Matanya menatap Inanti yang berdiri di sana. "Sini, Yank."


"Mau minum dulu ya," ucap Inanti.


"Mau aku bawain?"


"Gak usah, tunggu sebentar." Inanti meninggalkan kamar masih dengan memakai mukena.


Dia pergi ke kulkas untuk mengambil susu kotak kecil yang sengaja Alan stock untuk istrinya. Inanti paling malas menyeduh susu untuk ibu menyusui, yang membuat Alan memilih membeli yang kemasan dan siap minum.


Saat hendak kembali ke kamar, Inanti melihat pintu ruangan kerja Alan terbuka. Dia ke sana lebih dulu untuk menutupnya.


Namun, saat melihat kertas yang berantakan, Inanti masuk. Dia mengerutkan kening melihat banyaknya kertas dengan isi tulisan yang tidak dimengerti.


Namun, ada sebuah memo atau agenda untuk minggu depan dengan tulisan, *Big project.*


Dan itu membuat Inanti menghela napas. "Dia harus pergi," ucapnya pelan.


Pupus sudah harapan Inanti untuk menahan Alan di sampingnya. Dan yang bisa dia lakukan adalah menarik napas dalam lalu berkata, "Tidak apa, dia pergi untuk aku dan Nadia. Dia juga akan pulang."


Setelah menutup ruangan itu, Inanti kembali ke kamar sambil minum susu.


"Minumnya sambil duduk dong, Yank."


Setelah selesai dia naik ke atas ranjang.


"Sini, tidur di sini."


"Masa di paha kamu."


"Kan biar aku elus kepalanya."


Inanti mendekat.


"Mukenanya gak mau dilepas, Yank?"


"Dingin ah."


"Yaudah sini."


"Di bantal aja ya."

__ADS_1


"Dosa loh ngebantah sama suami, apalagi suaminya ganteng."


Dengan wajah cemberut, Inanti menurut. Dia tidur di sana, mendengarkan Alan yang mengaji dengan tangan lainnya mengusap kepalanya yang masih dibalut mukena.


Suara Alan sangat merdu, menyentuh hati sampai membuat buliram air mata Inanti keluar.


Dia tidak menyangka semua ini akan terjadi seperti ini. Semua penderitaan dan rasa sakitnya adalah jalan menuju syurga. Alan membawanya pada hal hal kebaikan, membuat Inanti yakin kalau suaminya akan menjadi imam di dunia dan akhiratnya kelak.


Inanti tidak bersuara, tapi air matanya tetap menetes. Apalagi sentuhan Alan di kepala semakin terasa, ditambah bacaan al-Quran yang menyejukan hati.


Saat selesai mengaji, Alan menyadari istrinya menangis.


"Nan? Kenapa? Kok nangis lagi?"


"Mas….," ucap Inanti dengan suara serak, dia menatap manik suaminya. "Maafin aku, ya."


"Buat apa?"


"Aku sering jutekin kamu, marah marah sama kamu."


"Lha…, enggak kok aku gak ngerasa gitu," ucap Alan sambil menyimpan al-Quran di nakas. "Sini, aku peluk."


Inanti bergerak, dia duduk menyamping di pangkuan Alan sambil memeluknya.


"Udah jangan nangis."


"Maafin aku ya, Mas."


"Apaan minta maaf segala. Kan kamu yang bilang maaf maaf-an nya udah. Lagian kamu gak salah. Udah jangan nangis, tuh kamu sesegukan gini."


Inanti memeluk erat leher suaminya dan menangis semakin keras.


"Udah, Sayang. Kamu mau apa? Aku beliin, tapi jangan nangis lagi ya."


Inanti masih menangis.


"Sayang? Udah dong, tar cape tuh sesegukan terus dari tadi. Kamu mau apa? Bilang sama aku."


"Aku…. Hiks… mau… mau… ke syurga bareng kamu…"


Alan tersenyum penuh makna, dia mengeratkan pelukannya pada sang istri. "Sama sama, Sayang. Ayo sama sama menuju jannah-Nya."

__ADS_1


🌹🌹🌹


TBC.


__ADS_2