Istri Untuk Alan

Istri Untuk Alan
Season 2 : Wacana


__ADS_3

🌹VOTEEE YEEE GHAISSSTRONG🌹


Vanessa senyun senyum sendiri sejak tadi, dia berguling guling di ranjang. Apalagi mendapati kalau album Inanti sudah tidak ada lagi. Hatinya gembira bukan main, membuat Vanessa tidak sabaran mengakhiri masa haid nya.


"Aku tidak sabar agar cepat cepat bisa sholat bareng lagi," ucapnya tersenyum malu.


"Vanessa!" Teriak Oma Asih dari bawah.


Karena senang dan bahagia, Vanessa menjawab, "Iam cooming, Oma!"


Vanessa berlari turun.


Dia tersenyum melihat Oma Asih yang menunggu di meja makan. "Astaga, Oma belum sarapan?"


Memang Vanessa tidak turun untuk sarapan tadi, dia lebih banyak tersenyum di dalam kamar.


"Oma juga bangun terlambat, kau sama?"


"Aku bangun pagi, Oma. Hanya diam dulu di kamar."


"Akhir akhir ini kau tidak ikut sarapan bersama. Ada apa? Apa Judi membuatmu kesal?"


Vanessa membalas semua pertanyaan dengan senyuman, yang mana membuat Oma Asih mengerutkan kening. "Kenapa kau senyum terus?"


"Umar bin Khattab, Oma."


"Kenapa dengan Umar?"


"Sahabat nabi," ucap Vanessa duduk di depan Oma, dia tersenyum kepada pelayan. 


"Kenapa? Apa kau gila?"


"Ya, karena Umar."


"Astaga, kau suka pria lain? Namanya Umar?"


"Aku suka cucumu, Oma."


Oma berdecak, dia menelan ludah kasar. Bicara dengan Vanessa membuatnya pusing.


"Dimana Tante Metry? Sudah berangkat?"


"Tidak, dia sedang bersiap," ucap Oma Asih memilih fokus pada makanan.


Namun, Vanessa yang terus senyum sendiri layaknya orang gila membuat Oma Asih bergidik. 


Ketika Tante Metry keluar kamar, Oma Asih memberi isyarat untuk melihat Vanessa.


Saat Tante Metry melihatnya. "Astagfirullah! Van, kamu kenapa?" Tante Metry panik tatkala melihat Vanessa yang menggigit roti membuat selainya keluar membasahi pipi. Tapi sepertinya itu tidak masalah untuk Vanessa.


"Van! Sadar! Kamu kenapa?"


"Tante….," Ucap Vanessa pelan. "Duduklah."


"Tante sudah sarapan, Tante mau berangkat."


"Oh… berangkatlah," ucap Vanessa mengusap selai di pipi dengan jari kemudian menjilatnya. "Hati hati di jalan, Tante."


"Apa yang terjadi dengannya, Ibu? Kemarin dia sedih, sekarang dia bahagia."


"Gak tau, kesemutan kali."

__ADS_1


"Hah?"


Percakapan antara Oma Asih dan Tante Metry terhenti karena suara telpon rumah. Tante Metry mengangkatnya.


Dia diam mendengarkan penuturan orang di sana.


Sampai akhirnya Tante Metry mengucapkan pesan yang disampaikan.


"Van?"


"Iya, Tan?"


"Kata Judi dia mau pergi ke Kuala Lumpur. Tolong kemas baju bajunya."


Seketika senyuman Vanessa luntur. "Buat berapa hari, Tan? Katanya?"


"Sebulanan."


"Kapan berangkatnya?"


"Sore ini."


🌹🌹🌹


Vanessa menatap ponselnya yang menampilkan banyak panggilan tidak terjawab. Dia menarik napas dalam.


Baru juga semuanya dimulai, tapi Judi akan pergi jauh darinya.


Mustahil dia diajak, mengingat Judi hanya menyuruhnya mengemasi pakaiannya saja.


Dengan malas, Vanessa memasukan barang barang yang akan dibawa suaminya itu.


"Van?"


Vanessa mengerjapkan matanya. "Masuk, Oma. Tidak dikunci kok."


Oma Asih masuk ke dalam dengan kantong belanjaan yang dibawakan oleh pelayannya. 


"Simpan di sini," ucap Oma Asih pada pelayannya. "Keluarlah."


"Baik, Nyonya."


Kening Vanessa berkerut. "Apa ini, Oma?"


"Makanan untuk dibawa Judi. Masukan ke dalam sana. Judi suka makanan kaleng ini."


"Baiklah."


Nada bicara Vanessa terdengar sedih, membuat Oma Asih terpikirkan sesuatu. "Bagaimana jika kau ikut saja?"


"Aku?" Vanessa terkekeh. "Judi pergi untuk bekerja, Oma. Aku tidak bisa mengganggunya."


"Bagaimana kalian akan punya anak jika berjauhan seperti ini."


Vanessa diam, dicium di bibir saja dia belum pernah. 


Dan ketika berkemas, Judi datant membuka pintu. "Oma? Kenapa Oma di sini?"


"Bantu Oma berdiri," ucap Oma Asih.


Judi membantu Oma Asih berdiri dan mengantarkannya sampai keluar.

__ADS_1


"Sudah sudah, pergilah ke dalam."


"Akan aku bantu Oma menuruni tangga."


"Ada pelayan di sana, masuk saja dan gunakan waktumu dengam istrimu."


Judi terkekeh, dia membiarkan Oma Asih diambil alih oleh pelayan di sana.


Saat Judi masuk, dia mendapati Vanessa sedang mengemasi barangnya. "Apa itu?"


"Makanan kaleng yang Oma beli."


"Ada apa dengan suaramu, Ijah?"


"Aku? Aku tidak apa apa," ucap Vanessa memasang wajah datar dengan nada bicara mencoba menutupi kesedihannya.


"Jah….," Panggil Judi saat dirinya membuka kaos.


"Apaan? Mau ngajak wik wik? Kagak bisa, aku masih haid."


"Apaan ih ge'er," ucap Judi tertawa.


Membuat Vanessa kesal dan melempar bantalnya. "Dosa loh, Jah."


"Bodo amat."


"Siapin baju ya, mau mandi dulu."


"Tapi nanti di cium lagi."


Judi menggeleng tidak percaya, dia berdecak saat masuk ke kamar mandi.


Dan ketika mengambil baju Judi yang berserakan, Vanessa tidak kuat menahan tangisannya. Entah kenapa kepergian Judi terasa berat, dia ingin pria itu selalu ada di sampingnya dan membimbingnya di setiap langkah.


Mendengar suara mandi Judi selesai, Vanessa buru buru menghapus air matanya


"Jah? Kamu nangis?"


"Apaan nangis? Enggak lah."


"Itu," ucap Judi menunjuk matanya. "Nangis?"


"Iya! Nangis mau wik wik!"


"Ijah ijah, pikiranmu wik wik mulu."


"Ihhhhh! Kapan gak Ijah lagi? Kapan wik wik?" Tanya Vanessa kesal.


Judi mendekat, membuat Vanessa menelan ludah kasar melihat tubuh bagus Judi.


"Kapan? Huh?"


Judi menunduk sedikit. "Kalau kamu baik selama aku pergi, nanti pas pulang."


"Wik wik?"


"Sunah rasul."


🌹🌹🌹


TBC

__ADS_1


__ADS_2