Istri Untuk Alan

Istri Untuk Alan
Season 2 : Rencana Gagal


__ADS_3

🌹VOTE YA GAUS🌹


🌹IG MAMAK ADALAH ;  @Redlily123


 Jangan lupa Follow🌹


Hari demi hari Vanessa jalani dengan sepenuh hati, dia lebih sering membaca buku buku islami milik Tante Metry. Membacanya selalu membuat Vanessa ingin berada di zaman itu, apalagi kisah kisah para Nabi yang dimuat dalam buku dengan sangat detail.


"Van?"


"Iya, Tan? Masuk aja."


Tante Metry yang baru pulang dari bekerja itu masuk. "Ngapain sih? Belum selesai?"


"Ini jilid ketiga, Tan."


"Masya allah, hebat sekali. Dulu tante lambat banget bacanya. Kamu malah cepet banget."


Vanessa tertawa tanpa menghiraukan Tante Metry yang duduk di sana. Pikirannya terlalu asyik dengan alur yang sedang dia resapi. Bagaimana perjuangan para tokoh di dalam sana.


"Van?"


"Hem? Gimana, Tan? Makan? Nanti aja deh."


"Nanti malem Ibu ulang tahun, bikin kejutan yuk."


Saat itulah Vanessa menurunkan bukunya, dia menaikan alisnya. "Oma?"


"Ya iyalah, masa Ibu Tiri."


"He he, ayok. Jadi bikin kejutan tengah malem gitu, Tan?"


"Ho'oh, biar asyik. Apalagi kan sekarang kamu udah pinter masak. Ibu suka banget masakan kamu. Bikin kue bisa kan?"


"Bisa, bikin krim nya doang."


Tante Metry berdecak, yang mana membuat Vanessa terkekeh. "Seriusan, Tan. Aku bisanya cuma krimnya doang. Oma Asih belum ajarin kue kue, baru juga makanan makanan gitu."


"Tapi nanti malem bantu ya."


"Kenapa gak pesen aja?" Tanya Vanessa.


"Ibu gak suka kue toko, jadi harus dibikin. Kan kamu juga tau, makannya dia ogah makan di luar."


"Siap, nanti aku bantu."


Dan saat Tante Metry hendak bicara, ada panggilan masuk untuk ponsel Vanessa. Di sana tertulis jelas nama kontak, "My Husband." dengan emoticon love yang membuat Tante Metry berdehem.


"Yaudah, Tante ke bawah dulu ya."


"Oke, Tan."


"Kalau makan malam turun, jangan nunggu Oma kamu marah."


"Iya iya," jawab Vanessa yang tidak tahan mengangkat telpon.


Dan saat Tante Metry menutup pintu, Vanessa langsung mengangkatnya.

__ADS_1


"Hallo, Assalamualaikum," ucap Judi di sana.


"Waalaikum salam, Mas Ganteng Sayangku," jawab Vanessa sambil cekikikan. "Aku udah sholat, udah ngaji. Liat gak video yang aku kirim?"


"Iya, udah liat."


Itulah yang Vanessa lakukan, dia selalu memasang kamera untuk memvideo dirinya saat sedang di kamar. Sampai puluhan giga beratnya dia kirimkan pada Judi.


Seperti CCTV yang memantau 24 jam kegiatannya.


"Jadi…., Kapan pulang?"


"Nanti dulu ya, ini di sini lagi sibuk."


"Bawa oleh oleh."


"Yang sholeh di sana."


"Iya sholeh ini juga. Bawa sambal terasi ya, mampi ke indonesia."


"Berapa botol?"


"Yang banyak lah," ucap Vanessa merindukan cita rasa sambal terasi kemasan. Karena dia diurus pengasuh sejak kecil, jadi tidak pernah dihidangkan makanan rumahan.


"Dikirim aja ya dari sini, takutnya masih belum stabil. Jadi harus di sini dulu."


"Sama Mile?"


"Iya."


"Dia tidur bareng kamu?" Tanya Vanessa dengan sedikit kesal.


"Oh….., iya….," Ucap Vanessa. 


"Sekarang lagi ngapain?"


"Baca buku punya Tante Metry, bagus bagus loh, Mas."


"Baca aja, asal jangan lupa makan. Nanti sakit."


"Oh ya, Mas. Kamu simpen paspor aku di mana?"


"Mau ngapain?" Tanya Judi kaget, pikirnya Vanessa akan kabur.


"Tenang napa, foto paspor aku kan cantik. Mau pamer lah sama yang lain."


"Ngapain pamer segala? Mereka udah tau kamu cantik."


"Mass…….," Gumam Vanessa.


"Di laci bawah rias kamu."


"Asyeeek!"


"Simpen lagi di sana."


"Iya siap."

__ADS_1


🌹🌹🌹


Seperti rencana sebelumnya, malam malam sekitar pukul 10 malam, Tante Metry mengetuk pintu kamar Vanessa.


Perempuan itu keluar saat sedang menahan kantuknya. Tinggal di rumah ini membuat Vanessa bisa tidur lebih awal, membuatnya tidak tahan lagi jika bergadang lama lama.


"Kenapa Tante lama sekali?"


"Ayo cepat ke bawah."


"Jika di pikir pikir kenapa tidak suruh pelayan saja?" Tanya Vanessa sambil melangkah.


Membuat Tante Metry berdecak. "Pelayan? Jika Judi akan memberimu kejutan mana yang membuatmu terkesan? Dia yang merencanakan atau pelayan?"


"Baik baik, Tante Cantik. Ayo buat."


"Kamu yang buat krimnya."


"Rasa apa?" Vanessa membuka kulkas.


"Rasa cokelat, Ibu suka cokelat."


"Benarkah? Aku tidak pernah melihat Oma makan cokelat, Tante."


"Itu karena dia ingin menjaga giginya tetap sehat. Ini hanya satu malam bahagia, buat saja."


"Oke."


Keduanya memasak di sana, sambil saling bertukar pikiran dan bercanda tawa. Tidak pernah sekalipun Vanessa merasakan perasaan bahagia dan mengharukan seperti ini. Dia bisa mendapat teman, keluarga bahkan sahabat dalam diri orang orang di sekitarnya saat ini.


Tante Metry adalah muslimah cantik, memakai hijab besar. Tapi tidak sekalipun dia memaksa dirinya mengikuti apa yang dia lakukan. Tante Metry hanya memberi pengarahan dengan lembut hingga dirinya bisa memilih jalannya sendiri.


Tidak ada paksaan, hujatan maupun keharusan. Tante Metry adalah sabahat pertama Vanessa yang benar benar peduli.


Sekitar dua jam, akhirnya mereka selesai.


"Waktunya tepat, ayo ke kamar Ibu."


"Tante duluan, aku mau ke toilet dulu."


"Tante tunggu di depan pintu Ibu ya."


"Iya, Tan."


Tante Metry sambil memegang kue di tangannya, dia menunggu Vanessa di sana.


Lima menit, sepuluh menit, dua puluh menit.


"Ya allah, anak itu ke mana sih? Masa di makan harimau?"


Tante Metry yang kesal akhirnya menyimpan kue dan menyusul Vanessa.


Dan alangkah terkejutnya dia mendapati Vanessa sedang tidak sadarkan diri.


"Ya Allah! Van! Van!"


🌹🌹🌹

__ADS_1


TBC.


__ADS_2