Istri Untuk Alan

Istri Untuk Alan
Terang terangan


__ADS_3

🌹VOTE🌹


"Bang Alan?"


Inanti segera melepaskan pelukannya saat melihat Ayaza datang. 


"Kenapa?" Tanya Alan.


"Mbak Inanti dipanggil Eyang Sekar."


"Ayo, Nan."


"Eum.. Eyang maunya ketemu sama Mbak Inanti doang," ucap Ayaza lagi.


Yang mana membuatkan Alan enggan melepaskan Inanti dan memilih melangkah begitu saja melewati Ayaza. 


Makan malam sudah berakhir, terlihat banyak orang yang tersebar di rumah mewah tua ini untuk memakan pencuci mulut. Mereka bercengkrama, tertawa dan saling memuji satu sama lain. Kecuali Tante Rini yang merokok di pojok ditemani Om Guntur.


Alan tetap menggenggam tangan Inanti saat menuju ke kamar Eyang, di samping kamar utama milik Alan.


Alan mengetuk sebelum masuk, dia melihat Eyang yang sedang merajut membelakangi.


Inanti memanggil pelan, "Eyang, Eyang memanggil Inan?"


Alan tetap diam ingin tahu apa yang akan dikatakan oleh Eyang Sekar pada istrinya.


Dipikir Alan, Eyang Sekar tidak melihat keberadaannya. Sebenarnya Eyang lebih teliti, dia melihat Alan lewat bingkai perak di depannya.


"Aa tidak makan malam dengan benar karena menyusulmu, pastikan suamimu makan dan tidak tidur dengan keadaan lapar."


"Baik, Eyang."


"Kau boleh pergi."


Dan setelah melihat kepergian mereka, Eyang Sekar mengepalkan tangannya kuat. Dia sangat benci pada Inanti, karena Eyang Sekar menyangka Inanti adalah yang membuat Alan berubah pada keluarganya. 


Bahkan pikiran Eyang sekar lebih ekstrem lagi. "Cucu kesayanganku pasti di guna guna oleh wanita penyedot uang itu."


Di saat bersamaan, Alan kembali ke kamar dan mempersilahkan agar pengasuh itu kembali setelah memberinya upah.


"Mau ke mana, Nan?"


"Bawa makan buat kamu."


"Cieee… yang baperan. Kamu mau aku buncit makan terus?"


"Ihhh, tar kalau kamu buncit Eyang nyangka aku bikin kamu kelaparan nyampe busung lapar."


"Allahuma, gak gitu juga, Sayangku. Sini tidur aja, kasian Nadia mau enen."


Inanti menutup pintu tidak jadi keluar. Dia mendekati Alan yang sedang menggendong Nadia.


"Udaahh itu mukanya jangan masam, nanti dicium baru tau rasa."

__ADS_1


"Apa sih ih?!" Tanya Inanti ketus, dia mengambil alih Nadia yang membuka matanya.


Di saat yang bersamaan, Alan menerima telpon. Membuatnya agak menjauh dari sana.


Inamti mengerutkan kening ketika melihat Alan gusar. Apalagi saat datang mendekat.


"Kenapa?"


"Ada investor yang ingin mencabut penanaman modalnya."


Inanti mana paham begituan. "Terus?"


"Di dekat sini kok, dia minta ketemu. Kamu ditinggal gak papa? Butuh sesuatu dulu nggak? Aku bawain?"


"Enggak, ini udah mau tidur kok."


Alan terlihat gelisah.


"Udah gak papa, pergi aja. Aku mau tidur ini, cape."


"Kalau ada apa apa panggil Alden ya? Atau Mama sama Papa? Jangan minta tante tante cabe di bawah sana. Jangan percaya siapa pun selain ketiga orang itu. Apalagi Eyang Sekar."


"Iya, Mas."


"Sun dulu sini keningnya."


"Gocap dulu! Mana ada yang gratis di sini."


Alan berdecak, dia mengeluarkan uang dari dompet. "Dasar betina."


🌹🌹🌹


Ini sudah tengah malam. Inanti memakai pashmina sebelum membuka. Ternyata di sana adalah Alden.


"Alden, ada apa?"


"Ponsel Mbak ke mana? Bang Alan dari tadi nelpon katanya."


"Ah, ponselnya mati. Baru aja di carg. Kenapa?"


"Ada kerabat Eyang yang datang, Mama, Papa, kakak kembar sama Alden mau nginep di hotel. Mbak mau ikut?"


Inanti menoleh pada Nadia yang sudah terlelap. Terlepas dari itu, barang bawaan banyak. "Gausah deh, di sini aja."


"Serius, Mbak?"


"Iya."


"Telpon dulu Abang ya," ucap Alden menelpom saudaranya. "Assalamualaikum, Bang? Mbak Inan gak mau ikut katanya, kasian Nadia udah tidur."


"Kasih telpon nya sama Mbak Inan."


"Abang mau bicara, Mbak," ucap Alden memberikan ponselnya.

__ADS_1


"Hallo, Mas?"


"Nan, kamu gak ikut?"


"Nadia baru aja tidur. Lagian ini tengah malem, bentar lagi juga pagi."


"Ponsel kamu ke mana sih?"


"Baru di carg, batre nya abis."


"Yaudah, aku pulangnya bentar lagi ya. Masih ngobrol."


"Iya, hati hati aja."


Setelah Alden pamit, Inanti hendak kembali melanjutkan tidurnya.


Dia ke kamar mandi dahulu, dan saat Inanti keluar dari kamar mandi, alangkah terkejutnya dia melihat Eyang Sekar yang masuk.


"Kenapa kamu masih di sini?!"


"Eyang, ada apa?"


"Kamar ini mau ditempatin sama saudara saya. Keluar kamu."


"Ke...keluar ke mana, Eyang? Pindah kamar?"


"Iya, pindah ke hotel."


"Ini udah malem, Eyang."


Eyang Sekar yang kesal itu datang dan memasukan barang barang Inanti ke dalam tas.


"Iya, Eyang. Iya, Inanti keluar," ucap Inanti menggendong Nadia yang terlelap.


Beberapa kali Eyang Sekar mendorongnya. Dan beberapa manula datang menggantikan tempatnya.


Saat keluar, Inanti melihat keadaan rumah menjadi sepi mengingat yang lain sudah tidur dan keluarga mertuanya sudah pergi.


Dan lagi, ponselnya masih belum bisa menyala.


"Ngapain kamu?"


"Carg sebentar, Eyang. Mau nelpon Mas Alan dulu."


"Gak ada sebentar sebentar! Keluar! Pintunya mau dikunci."


"Inan tidur di sini gak papa."


"Gak bisa! Sana pergi ke hotel! Pergi! Gerbangnya mau dikunci."


"Tapi ini tengah malam."


"Terserah! Saya gak peduli! Kamu bisanya cuma jadi benalu saja! Pergi sana! Supaya Alan sadar kamu gak ada apa apanya!"

__ADS_1


🌹🌹🌹


TBC.


__ADS_2