Istri Untuk Alan

Istri Untuk Alan
Tidak Peka


__ADS_3

🌹VOTE YA GAISS🌹


🌹FOHLOW MY IGE : @Redlily123🌹


Inanti kebingungan dengan Delisa yang memaksa masuk. Membuatnya tidak bisa berkata apa apa. Inanti tidak tahu apa yang harus dia katakan, karena itu adalah wewenang Alan. 


Sekarang, Inanti sedang membuat minuman untuk Delisa.


"Biar saya saja, Bu."


"Gak papa, Bi. Tolong ambilin monitor Nadia aja ya, biar saya bisa awasi dia."


"Baik, Bu," ucap Bi Idah pergi.


Inanti yang selesai membuat es madu membawanya menuju Delisa yang duduk gelisah di sana.


"Nan, lu bakal bilang sama Alan kan?" Tanya Delisa saat Inanti duduk.


Inanti kebingungan. "Maaf, Kak. Itu bukan wewenang saya. Lebih baik kakak bicara baik baik sama Mas Alan."


"Dia gak mau bicara sama gue, Inan."


Saat itulah Bi Idah datang memberikan monitor. "Ini, Bu."


"Makasih, Bi. Tolong balikan jemuran ya."


"Baik, Bu."


Ketika Bi Idah pergi, Delisa kembali fokus pada Inanti. "Dia gak mau ngomong sama gue, Nan. Dan gue tau penyebabnya karena lu. Plisss, bilang sama dia."


"Itu diluar wewenang aku, Kak. Maaf."


Inanti memang merasa demikian. Dia tidak mengerti dunia bisnis yang di dalam genggaman Alan. Bahkan saat keluarganya di pecat pun, Alan berkata dengan santai bahwa sopan santun, kejujuran dan saling menghargai adalah hal yang utama.


"Plisss… Nan, minta sama Alan jangan turunin posisi gue."


Inanti bingung, jika dia bilang begitu saja itu tidak baik. Sebab tidak tahu masalah sebenarnya.


"Ya, Nan… plisss…"


"Coba minta baik baik sama Mas Alan, cari waktu yang tepat, Kak. Pasti dia mau bicara sama Kakak."


Dan saat itulah Delisa marah besar. "Rugi ya gue ngomong sama lu yang bodo! Gue minta minta juga lu tetep aja bilang gak tau apa apa, dasar cewek kampungan!" Teriak Delisa yang membuat Inanti terkejut.


"Bu--"


"Serah lah, emang bener kata orang kalau ngomong sama orang bodo gak akan menang. Gue pergi, Bye," ucap Delisa pergi dari sana membuat Inanti terkejut.

__ADS_1


Bi Idah yang melihat itu mendekat. "Ibu, gak papa?"


"Enggak, Bi, udah biasa kok," ucap Inanti meminum es madu miliknya.


"Duduk sini, Bi."


"Enggak, Bu. Mau buang sampah."


"Nanti aja, Bi. Ini belum diminum Delisa kok, Bi. Mubadzir, Bibi kan suka madu," ucap Inanti menyodorkan gelas berisi es madu.


Bi Idah duduk di sana. Sesekali Inanti melihat layar monitor untuk memastikan Nadia masih terlelap.


"Non muda baik, gak minum susu pun tidur."


Inanti tersenyum gemas. "Oh ya, Bi. Besok sebelum ke sini beli isi ulang pewangi buat di kamar ya."


"Baik, Bu."


Inanti diam sesaat masih ingat Delisa. "Eum… Kak Delisa sama Mas Alan berteman lama, Bi?"


"Kalau mulai main ke rumah sih pas Tuan Alan mulai kuliah S-2 lagi, Bu."


"Temennya Vanessa ya, Bi?"


"Iya, temen deketnya."


Dan saat itulah Inanti ingat tentang Vanessa dan Judi.


🌹🌹🌹


"Keluar yu, De. Mumet di kamar terus."


Inanti berpindah posisi ke ruangan televisi yang luas dengan pintu kaca terbuka. Yang mana memperlihatkan langit luas dan hijaunya kebun miliknya.


Bi Idah sudah pulang, membuat Inanti harus mengambil sendiri minuman yang dia inginkan.


Dan saat dia meminum susu, Nadia berhenti menyedot. "Kenapa, De? Dede kan juga minum susu. Mau ya? Mau ya? Uhhhh… gemessshhh deh."


Mengecek ponsel, ada pesan dari Alan.


Mas Alan Ganteng : Yank, ngapain? Udah makan? Nadia lagi apa?


Mas Alan Ganteng : Lagi tidur ya? Yaudah, met bobo sayangku.


Mas Alan Ganteng : Udah bangun, Yank? Mau aku bawa makanan gak?


Mas Alan Ganteng : Tapi nanti minum teh kelor loh.

__ADS_1


Mas Alan Ganteng : Aku pulangnya sorean ya, soalnya ada rapat lagi. 


Mas Alan Ganteng : Mau pesan apa sok, Yank? Aku kaya.


"Dasar," gumam Inanti saat Alan kembali membanggakan diri.


Me : Mau bakso pentol sama ayam geprek ya.


Setelah mengirim pesan, lama Alan tidak membalas. Yang dipastikan dia sedang rapat yang tadi dimaksudkan.


Belum juga mematikan ponsel, ada telpon dari Madelle.


"Assalamualaikum, Nan?"


"Waalaikum salam, ada apa, Mah?"


"Nan, tau gak? Alan turunin Delisa tau! Delisa itu wanita yang membawa villa villa Alan maju tau."


Inanti terkejut. "Jadi…., Gawat ya, Mah?"


"Kerennya nih, Alan bilang semua manusia menjadi manusia dengan etika. Dan manusia tanpa etika, bukanlah manusia. Dan Alan tidak ingin memperkerjakan Delisa karena tidak punya etika."


"Kak Delisa bikin ulah apa gimana, Mah?"


"Ya ampun, Inan. Itu semua karena kamu! Delisa jahat kan sama kamu? Alan gitu karena kamu. Dia bilang dia lebih sayang sama istrinya. Itu Alan bilang di depan para pemegang saham, yang orang pikir dia dingin, gak berperasaan, kenyataannya enggak."


Inanti terdiam tidak percaya, mendengar dengan seksama perkataan Madelle.


"Itu hot gossip nya, he he he he. Mamah mau makan dulu ya. Assalamualaikum."


"Waalaikum salam," ucap Inanti menutup panggilan dengan wajah masih tidak percaya.


Nadia yang sudah tidak menyusu, membuat Inanti menidurkannya di atas karpet.


"Bentar ya, De. Mama mau bikin pie kentang buat Papa," ucap Inanti ingat makanan kesukaan suaminya.


Dengan wajah masih bingung, Inanti hendak berdiri. Namun, baru juga berdiri, pintu apartemen terbuka.


"Assalamualaikum, istriku. Sayang…, aku bawa geprek geprek ayam. Nanti imbalannya peluk ya, terus kiss," ucap Alab menyimpan sepatu di rak. Dia mengerutkan kening melihat Inanti yang berdiri di sana. "Kenapa, Yank?"


Inanti melangkah mendekat pelan, kemudian memeluk suaminya tanpa berkata apa pun.


"Kangen, Yank?" Tanya Alan. "Empuk tau dada kamu, anget banget bikin serrrr… gitu.. tuh kam bener kangen? Ya kan? Kangen ya sama Mas Alan ganteng ini?"


Inanti diam, dia tetap memeluk suaminya menyalurkan rasa yang tidak bisa dia deskripsikan.


"Yank…? Kalau mau cium aku ridho kok."

__ADS_1


🌹🌹🌹


TBC


__ADS_2