Istri Untuk Alan

Istri Untuk Alan
Yang pertama ditemui


__ADS_3

🌹VOTE YAAA GAISSS🌹


"Assalamualaikum," ucap Bi Idah sebelum masuk saat pintu terbuka.


"Waalaikum salam," jawab Inanti.


"Ibu sedang masak apa?"


"Masak pie, Bi. Mas Alan hari ini pulang, katanya sih nanti sorean."


"Saya bantu ya, Bu."


"Gak usah, Bi. Bibi tolong bersihkan kamar Inan saja ya, Bi. Agak berdebu di sana."


"Baik, Bu," ucap Bi Idah mengeluarkan dahulu pesanan Inanti kemarin siang yang ingin banyak kentang. "Ibu mau bikin mustopa?"


"Bukan, Bi, bikin pie sama donat kentang."


"Oh iya iya, pengharumnya mau diganti, Bu?"


"Bibi beli yang aroma green tea?"


"Ada, Bu. Sama yang lavender."


"Kalau lavender di ruangannya Mas Alan, itu biar saya aja yang simpen. Bibi tolong bersihkan kamar saja ya."


"Baik, Bu."


Bi Idah melangkah menuju kamar utama. 


Inanti bahagia bukan main, suaminya akan pulang hari ini. Membuatnya semangat memasak dengan ditemani Nadia yang tertidur di box bayi di ruang keluarga.


Inanti sengaja menyalakan murottal al-Quran, itu selalu membuat putrinya tidur lebih nyenyak. Dan murrotal itu dibuat oleh Alan, dia sengaja merekam suaranya ketika mengaji untuk anak dan istrinya.


Alan memang datang nanti sore, tapi Inanti bersiap dari sekarang. 


Saat sedang sibuk memasak, Alan menelponnya. Membuat Inanti kesal, pasalnya saat ini dia sibuk menyiapkan kejutan untuk suaminya.


"Hallo Assalamuaikum, Mas? Gimana?"


"Yank, lagi sibuk nggak?"


"Kenapa emang?"

__ADS_1


"Hmm… sebenarnya aku…."


Jantung Inanti berdetak kencang. "Jangan bilang kamu gak jadi pulang loh, Mas!"


"Enggak, Sayang. Aku pulang, ini lagi di bandara. Cuma aku mau bilang sesuatu sama kamu."


"Apa? I Love You? Udah tau, Mas. Nanti lagi ya nelponnya, lagian Nadia lagi bobo, Mas."


"Aku belum bilang sesuatu itu loh."


"Sesuatu apa?" Kening Inanti berkerut. "Mas aku lagi sibuk tau."


"Sibuk? Cieee… pasti prepare buat kedatangan aku ya, Yank? Jangan lupa pake lingerie yang hijau tua ya, kontras banget di kulit putih kamu."


"Mas, kamu masih di sana. Jangan mikir yang aneh aneh, yang jorok jorok dulu. Nanti kalau udah di sini, deket aku sama aku, baru boleh."


"Boleh mirir yang jorok aneh aneh?"


Inanti diam, dia mengerucutkan bibirnya kesal. Pasti saat ini Alan sedang mengaktifkan mode tengilnya.


"Udah ah, aku lagi sibuk, Mas."


"Yaudah, kiss dulu dong."


"Assalamualaikum."


Inanti memutar bola matanya malas. "Muach."


"Aseekk… makasih, Sayang. Nanti kalau aku pulang jangan lewat udara lagi ya."


"Iya."


Dan tidak dipungkiri, setelah telpon terputus Inanti tersenyum bahagia. Mendapat candaan, gurauan sampai merasakan ketengilan Alan adalah kejengkelan yang membuatnya bahagia.


"Apa lagi yang harus aku buat?"


Sampai ingatan Inanti membawa pada banyaknya kiriman makanan pedas di ponselnya dari Alan dulu. "Bikin makanan pedes ah, buat Mas Alan."


🌹🌹🌹


Pesawat mendarat dengan selamat. Alan, Rizki dan Andria diam sebentar di caffe untuk bernapas lega. Pasalnya ada goncangan besar di udara tadi, dan itu membuat Andria muntah.


"Mendingan lu?" Tanya Alan.

__ADS_1


"Mendingan."


"Kalau gitu gue mau balik."


"Bentaran napa, lagian barang barang lu udah di handle sama Karl 'kan? Dia juga nungguin setia di mobil depan tuh."


"Gue mau balik."


"Kemana sih cepet cepet amat?" Tanya Rizki yang membawakan kopi. "Nih, Al."


"Thanks," ucapnya dingin.


"Al, lu masih marah sama gue? Karena tupperware?"


"Lagian lu malah pecahin gak ada kerjaan banget."


"Itu di bekas pie ada kecoa, ya gue banting terus geleng lah pake mobil."


"Makannya, lain kali lu jangan jorok, mobil orang juga, tetep aka jorok," ucap Andria ikut bergabung dalam percakapan. Dia menambahkan, "Beli lagi napa, Al."


"Gak bisa, itu udah dinamain sama bini gue. Lagian gue harus jujur."


"Anjaaaaiii, beda kalau udah nikah mah euy!" Teriak Rizki.


"Serah, gue mau balik. Jangan lupa kirimin laporan, atau kalian gue pecat," ucap Alan begitu sadis saat melangkah keluar dari caffe.


Di sana Karl segera membukakan pintu untuknya. "Langsung pulang, Tuan?"


"Ke toko bunga dulu."


"Baik, Tuan."


Alan membeli bunga rose dengan Karl yang turun memberikan uang pada pedagang di sana.


Tahu kemana tujuan yang diinginkan majikannya, Karl berhenti saat sampai di sebuah pemakaman keluarga. 


Tanpa berkata lagi, Alan keluar dari mobil. Langkahnya pelan dengan mata menatap tujuannya.


Di pinggir nisan seseorang yang sangat dia rindukan, Alan berjongkok dan menyimpan bunga di sana.


Sambil tersenyum dan mengusap nisan, Alan meneteskan air matanya. Di sana tertulis jelas nama Adam Praja Diwangsa.


Lalu bibirnya berkata, "Abang…., Papa kangen sama Abang."

__ADS_1


🌹🌹🌹


TBC.


__ADS_2