Istri Untuk Alan

Istri Untuk Alan
Kesalahan pahaman


__ADS_3

🌹VOTEE YEEE GHAISS🌹


🌹Klik profilku dan baca cerita yang lainnya juga🌹


Alan tidak ingin menyinggung nyinggung tentang perkuliahan Inanti, dia selalu menutupnya karena tidak ingin ditinggalkan istrinya. Banyak kecemasan yang melanda. Salah satunya mendapatkan pria di luar sana lebih baik daripada dirinya saat kesan pertama.


"Abang?????" Panggil Madelle sambil mengetuk pintu. "Mamah masuk ya?"


"Masuk aja, Mah."


Saat Madelle masuk, dia mendapati wajah anaknya terlihat lesu di atas ranjang dengan posisi duduk. Madelle mendekat dan duduk di samping ranjang di dekat anaknya. "Kenapa, Bang?"


"Gak papa."


"Nguping ya?" Tanya Madelle menyipitkan matanta.


"Enggak."


Saat itulah Inanti masuk, membuat Madelle menghentikan pertanyaannya.


"Mas, aku ke bawah dulu ya. COD seblak, hehe."


"Gak diantar ke sini aja, Nan?" Tanya Madelle.


"Enggak, ini dari pedagang baru, gak diizinin masuk sama penjaga."


"Hati hati, Yank."


"Iya, Mas." Inanti mendekat untuk menyerahkan Nadia pada Madelle. "Aku titip bentar ya, Mah. Assalamualaikum."


"Waalaikum salam."


Setelah Inanti pergi, Madelle menimang dahulu Nadia agar tidak bangun sebelum. 


Alan di sana mengusap pipi bayi mungilnya. 


"Abang…. Inanti gak boleh kuliah?"


"Abang takut nanti dia jumpa sama laki laki yang lebih baik dari Abang."


"Jadi?" Madelle menyipitkan matanya. "Abang? Abang pikir Inanti gak setia?"


"Bukan gitu, Mah. Cuma Abang khawatir aja. Takut Inanti ninggalin Abang."


"Ninggalin gimana?" Madelle sedikit menaikan nada bicaranya. "Karena laki laki lain?"


"Abang takut….. Inanti tau dunia di luar sana lebih indah daripada bersama Abang, Mah," ucap Alan dengan suara memelan.


Yang mana membuat Madelle menghela napasnya dalam. "Abang, Inanti udah punya kamu, punya Nadia. Syurga Inanti ada di bawah kaki kamu, dia mau kemana?"

__ADS_1


Alan masih diam.


"Bang….?"


"Abang gak mau bahas dulu hal ini, Mah."


Madelle mengangguk. "Oke, Mamah tidurin Nadia dulu. Mau makan apa minum nggak?"


"Enggak, besok juga mulai ngantor lagi kok, jadi mau istirahat cepet."


"Yakin?" Tanya Madelle.


Alan mengangguk. "Tidurinnya deket Abang aja, Mah."


Madell melakukannya, dia menidurkan Nadia di samping papa nya.


"Mamah pulang ya."


"Hati hati."


"Assalamualaikum."


"Waalaikum salam."


Saat Madelle keluar, Inanti masuk dengan membawa makanan yang dia pesan. "Mamah mau?"


"Enggak, Mamah mau pulang, Nan. Bapaknya si Abang nanyain terus. Pulang dulu ya, Assalamualaikum."


"Waalaikum salam."


"Mas? Mau seblak?"


"Enggak. Aku mau tidur duluan ya, besok mau ngantor."


Dan saat itulah jantung Inanti berdetak kencang, dia merasa diabaikan.


🌹🌹🌹


Inanti perlahan membuka matanya, dia terkejut tidak mendapati Alan di sana, padahal ini masih jam dua malam.


Inanti mendudukan dirinya, dia memindahkan dulu Nadia. "Dede pindah dulu ya, biar Mama bisa deketan sama Papa."


Inanti sadar ada sesuatu yang salah. Pikirnya, Alan marah karena akhir akhir ini dirinya terlalu ketus dan jutek pada suaminya.


Inanti keluar kamar mencari suaminya.


"Mas?" Tanya Inanti mencari keberadaannya. Sampai dia mendapati Alan ada di ruangan gym sedang meninju samsak di sana.


"Mas?"

__ADS_1


"Yank? Kok bangun?"


"Kenapa di sini?"


"Gak ngantuk, Yank. Jadi main tinjuan di sini," jawab Alan tanpa menatap istrinya.


Yang mana membuat Inanti semakin sedih. "Mas kesel ya sama aku?"


"Hah?" Alan menengok, dia segera mengakhiri kegiatannya dan membuka pelindung tangan. "Enggak, Sayang. Ayo tidur lagi."


"Duluan aja. Aku mau minum dulu."


"Mau aku temenin gak nih?"


"Enggak, ganti baju sana. Jangan mandi, nanti masuk angin."


"Siap, Boss." Alan mencubit pipi istrinya.


Meskipun Alan terlihat biasa, tapi Inanti merasakan perbedaannya. Dia sedih. Setelah Alan masuk kamar, Inanti melamun sendirian. Pikirannya masih mengira sifatnya yang ketus penyebab semua ini.


Dadanya terasa sesak mengingat Alan mengabaikannya. 


Membuat Inanti kembali masuk kamar. Dan dilihatnya, Alan sudah terlelap tanpa pakaian.


Inanti ikut berbaring di sampingnya, posisi mereka berhadapan.


Tangan Inanti perlahan terangkat mengusap pipi suaminya, air mata Inanti menetes.


"Maaf ya, Mas. Hari ini aku banyak jutekin kamu, ketus juga."


Alan yang sudah terlelap tidak mendengar kalimat itu.


Namun, saat mendengar isakan, mata Alan perlahan terbuka. "Yank? Kenapa nangis?"


"Maaf hari ini aku jutekin kamu, Mas… hiks… aku…. Banyak…. Hiks…. Ketus sama kamu. Jangan marah lagi… hiks...."


Alan yang terkejut segera menghapus air mata istrinya. "Enggak, Sayang. Aku marah? Enggak."


"Kamu cuekin aku."


"Kapan?"


"Tadi," ucap Inanti dengan suara tersendat.


Yang mana membuat Alan menarik istrinya ke dalam pelukan dan mencium kepalanya berulang.


"Maaf, Mas… hiks… jangan cuekin aku… lagi…"


"Enggak, Sayang. Udah jangan nangis. Tuh sesegukan gitu, tar cape. Udah ya."

__ADS_1


🌹🌹🌹


TBC


__ADS_2