Istri Untuk Alan

Istri Untuk Alan
Season 2 : Persiapan Tidur


__ADS_3

🌹JANGAN LUPA KASIH EMAK VOTE YA.🌹


🌹EMAK SAYANG KALIAN, SELAMAT MEMBACA DAN FOLLOW IGEH EMAK DI @REDLILY123.🌹


“Lepasin ih! Lepasin, Mas!” teriak Vanessa yang membuat Judi melonggarkan pelukan mereka dan memebrikan jarak diantara mereka.


Mata merah Vanesa menatap tajam suaminya, dadanya naik turun menahan rasa sesak. 


“Kamu boleh pukul aku kok.”


Vanessa yang masih menahan kesabarannya itu mengusap air matanya kasar dan melangkah menjauh.


“Sayang, please jangan marah lagi,” ucap Judi yang masih mencoba membujuk istrinya yang sedang membereskan mukena. Dia mencopotnya dan melipatnya sambil membelakangi.


“Iya aku salah, kamu boleh pukul aku, teriak sama aku. Tapi jangan diemin aku. Sayang.”


Vanessa tetap mengabaikannya, dia hanya focus pada apa yang dilakukan. Sampai ketika Vanessa hendak berbalik, Judi mengagetkannya dengan tiba tiba berada di hadapannya hingga membuat Vanessa jatuh terduduk di atas kasur.


“Mas!”


Judi tanpa aba aba berjongkok supaya dia bisa mengurung istrinya dengan tangan yang menyentuh bibir ranjang.


“Pukul aku aja, teriakin aku. Iya aku salah, aku egois.”


“Kamu jahat.”


“Iya aku jahat.”


“Kamu tega.”


“Iya aku tega.”


Suara Vanessa semakin parau ketika mengatakan apa yang ada dalam pikirannya. “Kamu pembohong.”


“Iya itu aku.”

__ADS_1


“Kamu gak sayang sama aku.”


“Aku sayang sama kamu, Van.”


“Tapi kamu bikin aku sakit hati,” ucap Vanessa dalam satu tarikan napas dengan air mata yang menetes.


Saat tangan Judi terangkat untuk mengusapnya, Vanessa menepisnya pelan. Dia masih marah pada suaminya, emosinya tidak stabil.


“Aku kesal, kok bisa sih kamu nyembunyiin hal itu dari aku? Itu Papah aku, Mas……,” ucapan Vanessa berhenti sesaat karena air mata yang berjatuhan. “Seenggaknya aku anter dia ke rumah terakhirnya, Mas. Itu yang aku inginkan. Kenapa kamu tega?”


“Maafin aku, Van.”


“Aku masih benci sama kamu, marah sama kamu.”


“Maka dari itu, kamu pukul aku, luapin semua rasa kesal kamu supaya bisa lega.”


Vanessa menggeleng. “Ini butuh waktu, aku gak mau liat kamu dulu.”


“Van, jangan gini. Aku lebih suka kamu pukul aku.”


Karena kesal dengan suaminya yang terus meminta dipukul, Vanessa pun mengambil bantal dan memukulkannya pada tubuh Judi berulang ulang.


“Sa⸻” BUK!


“⸻Yang” BUK!


Judi menarik napasnya panjang saat Vanessa berhenti memukulinya. “Udah gak marah?”


“Masih.” BUK!


🌹🌹🌹🌹🌹🌹


Bahkan saat makan malam pun, hanya ada keheningan di sana. Suara denting sendok dengan piring yang hanya terdengar. Sisanya hanya keheningan belaka. Apalagi Vanessa yang hanya menatap makanan di depannya.


“Mau kemana, Yank? Makannya udah?” tanya Judi mendapati istrinya hendak beranjak.

__ADS_1


“Kenyang,” jawab Vanessa lalu melangkah pergi dari meja meninggalkan Judi dan Oma Asih.


Tatapan Judi beralih pada Oma Asih seolah meminta bantuan lewat tatapannya. “Oma….,” ucap Judi dengan suara pelannya.


“Oma gak tau juga harus gimana. Yang sekarang biarin Vanessa memiliki waktu sendiri, dia juga akan baikan nantinya.”


“Tapi kapan?”


“Ya sabar aja, kan ini juga salah kamu. Tanggung semuanya sendiri.”


Judi mengerucutkan bibirnya. 


Membuat Oma semangat untuk menasehati. “Nah kan, bukan berarti orang yang umurnya banyak itu bisa menerima kesalahan dengan mudah. Tua bukan berarti dewasa. Lagian sedewasa dewasanya seseorang mana ada yang mau dibohongi, disakiti, Jud. Kamu mikir lah.”


Judi menarik napas dalam. “Judi mesti gimana? Judi takut bayi Judi sama Vanessa kenapa napa.”


Oma mendaratkan pukulan di punggung cucunya.


“Aw, sakit, Oma.”


“Jangan egois mikirin bayi kamu mulu, pertama itu perasaannya Vanessa.”


“Iya,” ucap Judi pada akhirnya.


“Tuh ambil selimut di kamar Oma.”


“Buat apa?” tanya Judi.


“Kamu gak pede kan mala mini bisa bobo bareng Vanessa?”


“Hah?”


🌹🌹🌹🌹🌹🌹


TO BE CONTINUE

__ADS_1


__ADS_2