
🌹VOTE🌹
Inanti tersenyum melihat Alan yang menidurkan Nadia di kakinya dengan beralskan kasur. Alan sedang menjemur bayinya di balkon dekat kolam renang.Â
Dinding pembatas balkon dan apartemen adalah kaca yang sangat besar dan luas. Hingga Inanti yang sedang mencuci piring bisa melihat punggung Alan.
Alan tertawa sesekali saat leluconnya membuat Nadia tertawa.
Bayi mungilnya mengangkat angkat tangannya seolah ingin disentuh. Membuat Alan mendekatkan wajahnya, membiarkan bayinya mengusap wajahnya secara perlahan.
Bayi Nadia tertawa hingga air liur nya keluar, dan itu membuat Alan ikut terkekeh sampai kekehannya mengeluarkan air mata.
Alan menatap mata putrinya sangat dalam. "Papa jahat ya, De?"
Nadia seolah mengerti, tangan mungilnya terus bergerak di wajah Alan.
"Maafin Papa ya, De. Papa jahat sama Mama, sama Abang Adam, sama Dede juga."
Alan mengucapkannya dengan pelan, hingga Inanti hanya melihat keceriaan mereka.
"Maafin Papa, De."
Alan tersenyum saat bayinya tersenyum, Alan menyeka air matanya dan kembali membuat lelucon.
"Naaaannn….?"
"Iya?"
"Aku mandiin Nadia ya?"
"Dia kan baru abis mandi, makannya dijemur."
"Maksudnya nanti sore. Aku yang mandiin ya."
"Emang bisa?"
"Ajarin sama kamu."
Inanti menyelesaikan cucian piring, dia mengeringkan tangannya dengan lap tangan. "Iya nanti."
"Nan, sini deh."
"Apaan?" Tanya Inanti ketus.
"Sini dulu napa."
"Apaan sih?" Inanti mendekat dengan malas dan berdiri di samping Alan.
Alan mengadah. "Kamu belum mandi?"
"Kenapa emang? Bau?"
"Mandi gih, Nan. Masa cantik cantik bau, sayang banget."
"Kamu juga belum mandi!"
"Aku gak mandi tetep ganteng."
"Aku juga gak mandi tetep cantik."
"Kamu cantik, aku ganteng. Cieee…. Pertanda jodoh, Nan."
"Hih." Inanti segera kembali masuk ke dalam.
"Mau ke mana, Nan?"
"Mau mandi biar jelek."
"Ha ha ha."
Dan tawa Alan malah membuat Nadia menangis.
"Aduhhh, anak Papa jangan nangis. Gendong yuk, ayoo sayang…. Eummmm, mulai berat ya dede."
Di sisi lain Inanti masuk ke kamar mandi. Dia mandi di bawah guyuran air shower dan menikmati semua fasilitas mewah milik Alan. Bahkan Alan sudah menyiapkan sabun khusus wanita untuknya.
__ADS_1
Sampai Inanti keluar, dia tidak mendapati pakaiannya. Hanya ada pakian seksi. Bukan lingeri, tapi gaun selutut berlengan pendek yang biasa dipakai ibu ibu sosialita jika di rumah.
"Nyari apa, Nan?"
"Ya Allah."
Inanti hanya menutupi tubuhnya dengan handuk. "Baju saya kemanain?"
"Yang mana?"
"Yang dibawa dari Bekasi."
"Oh, aku tinggalin di Bekasi."
"Kemarin juga ada!"
Alan yang menggendong Nadia kembali mencari alasan. "He he, aku buang, Nan."
"Apa?! Kenapa kamu buang, pakaian aku di sana semua."
"Itu aku beliin."
"Jilbab."
"Nah, itu. Kamu pake baju dulu, nanti aku ajarin shooping online."
"Ih! Nyebelin!"
Alan malah tertawa saat keluar kamar.
🌹🌹🌹
"Nah, gitu kan cantik. Dalemannya pake yang berenda?"
"Berenda matamu," ucap Inanti ketus, dia menatap Nadia yang tertidur di sofa.Â
"Nan, sedot enen dulu deh. Biar nanti aku kalau lagi sama dede gak perlu manggil kamu."
"Kenapa gituh?"
"Quality time kali sama anak. Iri ya? Cieeee…… nanti deh malem main kuda kudaan."
"Sedot enen, Nan," ucap Alan mengambil alatnya. "Buka enen nya."
"Gila kamu! Di sini?!"
"Aku udah pernah liat kok, cuma dulu kecil, kayak enen kucing."
"Ish!" Inanti yang kesal mencubit Alan.
"Ha ha ha, gemesin deh kamu kalau gini."
"Jangan noel ih! Aku bilang jangan noel!" Inanti mengambil alatnya.
"Mau dibantuin gak?"
"Gak usah! Orang di sini ada petunjuknya."
Inanti membelakangi Alan saat menyedot asi dari dadanya, dia melakukan apa yang disuruh oleh petunjuk di sana.
"Udah belum?"
"Diem ih jangan ke sini."
"Enen nya di buka semua?"
"Masya Allah, diem!"
"Oke, diem."
"Jangan nyahut."
"Oke."
"Aaaaaiiishhh."
__ADS_1
"Wariaray Bachan."
Inanti ingin sekali membanting Alan yang kini mengusap kepala Nadia.
Sesudah menyedot asi dalam botol, Inanti menyimpannya dalam kotak khusus kemudian menyimpannya dalam kulkas sesuai dengan petunjuk di sana.
"Udah, Nan?"
"Udah," ucap Inanti mendekat hendak mengecek popok Nadia.
"Nan, nih, pilih mau yang mana hijab nya."
Alan memberikan i phone nya, memperlihatkan pilihan baju yang…. "Ya Allah, ini mahal mahal banget."
"Ya kali lingeri kamu doang satu juta, segitu mah murah, Nan. Beli aja sok."
Inanti seketika menatap Alan yang duduk di atas karpet bersamanya, di belakang mereka ada Nadia yang tertidur.
"Kamu tuh boros tau, gimana kalau bangkrut?"
"Tenang aja, Nan. Semuanya di handle. Asalkan kalau keluar enen kamu gak diliat orang. Gede soalnya, tuh kancing aja udah mau meletek. Makannya punya enen jangan gede gede amat, kayak melon ini."
"Jangan sentuh!" Inanti menepuk tangan Alan.
"Adaw, sakit ya?"
"Sini, saya pilih semua. Saya bakalan abisin uang kamu."
"Abisin, Nan. Asal dapet bintang ya?"
"Terserah saya!" Ucap Inanti membelakangi Alan supaya dirinya bisa menguasai ponsel.
"Nan.."
"Paan?"
"Mau gak i phone kayak gitu?"
"Niat beliin gak? Kalau niat beliin aja, gak usah nanya."
"Jadi kalau mau ngasih gak usah ngomong gitu?"
"Bodo ah."
Alan terkekeh, dia segera berdiri dan melangkah ke balkon untuk menelpon Karl.
"Hallo, Tuan?"
"Beli ponsel i phone dan honda civic."
"Baik, Tuan."
"Dan, Karl…."
"Ya, Tuan?"
"Cari lahan kosong di tempat strategis, aku ingin membangun rumah."
"Baik, Tuan."
Selesai menelpon, Alan kembali masuk.
"Naaaannn… tau gak?"
"Gak tau ih!"
"Belum juga ngomong."
"Popoknya penuh, tolong ambilin."
"Baik, My Baby."
"Jangan panggil aku begitu!"
"Tuh kan lagi lagi, orang ngomong sama dede nadia, yeee…. Jealous ya? Cie… De, nih Mama iri sama dede. Kasian banget ya, De?"
__ADS_1
🌹🌹🌹
TBC.