Istri Untuk Alan

Istri Untuk Alan
Sang Leader


__ADS_3

🌹VOTE🌹


Acaranya berjalan dengan baik, semuanya lancar dengan Alan yang selalu ada di sampingnya. Mereka semu menunduk, seolah ketakutan pada kekuasaan Alan.


Kembali ke kamar, Alan memberi lelucon pada Nadia hingga membuat bayinya tertawa berulang kali.


"Mas?" Tanya Inanti saat menutup pintu kamar.


"Apa, Sayang?"


"Ih! Jangan panggil begitu!"


"Iya deh, Darling aja ya?"


"Ih, gak suka!"


"Baby? Jadi saingan dede dong."


"Mas aku serius!"


"Kenapa hmm? Bilang sama Mas Alan sini," ucap Alan menarik tangan Inanti supaya duduk di sampingnya. "Liat deh, Nan. Nadia mirip aku banget ya?"


"Orang kamu bapaknya," guman Inanti yang lebih memikirkan acara tadi.


Dan Alan menyalah artikan kalimat itu dengan kesedihan, mengira Inanti mengingat kembali perkataannya di masa masa lalu.


Alan kembali memasang mode tengil. "Hehe iya ya. Untung mirip aku, coba mirip kamu, Nan. Agak galak kali, jutek juga. Kalau ditanya nangis kenapa malah nabok sama marah marah."


"Kapan aku begitu?!"


"Sering lah."


"Lagian kamu nya yang tengil, Mas. Berapa kali kamu jailin aku."


"Ya kan aku tuh gemes sama kamu. Imut imut kayak cacing gitu."


"Ya Allah, siniin Nadia."


"Eh, mau apa? Jangan gituh dong, Yang."


"Apasih ih! Orang dia bangun tuh mau dikasih enen."


"Eh iya." Alan cengengesan dan memberikan Nadia pada istrinya. 


Saat Inanti menyusui, Alan menaruh dagunya di bahu Inanti.


"Berat ih! Kepala kamu gede, Mas. Singkirin ih."

__ADS_1


"Ya ela, Nan. Gak seberat itu kali."


"Mas ih!"


"Iya, Sayangku, Cintaku, Syurgaku."


"Manusia hiperbola," gumam Inanti merasa kesal pada Alan.


Alan terkekeh, sampai dia ingat sesuatu kembali. "Nan, tadi mau ngomong apa?"


"Eum… itu sih…"


"Apa? Ngomong dong. Bilang sama Mas Alan."


"Kamu leader nya set*n ya, Mas?"


"Astagfirullah, Allahu akbar, leader s*tan? Yang kalau mau comedy jangan gitu dong, serem. Masa iya jadi leadernya setan!" Alan tidak terima dengan masih memasang wajah tengil.


"Soalnya tadi semua orang kebanyakan gak berani liat mata kamu."


"Soalnya di mataku ini hanya ada kamu seorang, Sayangku."


"Ih! Aku serius, Mas!"


"Gak tau lah, Nan. Masa aku harus paksa mereka liat mata aku, anggap aja mereka liat upil di mata aku."


Dan seketika Inanti tertawa hingga membuat Nadia menangis kencang.


"Apasih ih?!"


"Sini, Baby. Dede mau sama Papa ya? Iya ya? Dede kaget denger Mama ketawa? Papa juga kaget, soalnya Mama jarang ketawa. Pikir Papa itu kuntilanak ya--- Aaadaaaww sakit, Nan."


"Mau di cubit lagi itu tangan?!"


"Jangan tangan doang dong, Nan. Batang juga."


"Allahu akbar."


Inanti menjauh saat Alan mengambil alih Nadia. "Gesrek gesrek otak kamu tau."


"Iya, soalnya jarang di 'Gesek gesek.' sama kamu, Nan."


🌹🌹🌹


Ini sudah sore, dan Inanti belum keluar kamar karena Alan melarang. Apa pun yang Inanti minta, Alan langsung membawanya. Apa pun yang Inanti rasakan terhadap seseorang, Alan langsung pergi dan menemui orang itu.


Saat sore, Inanti diam di balkon dengan Alan yang sedang memandikan Nadia.

__ADS_1


"Nan, bajunya mana?"


"Di atas kasur. Mau aku bantu?"


"Boleh dong, sini. Mau deket sama Mas Alan ya?"


"Serah ah," gumam Inanti mendekat dan membantu Alan.


"Nadia sholeh banget, jarang nangis ya?"


"Kamu aja yang gak tau, dia sering nangis kok."


"Masa?"


"Pas bulan bulan pertama sih."


"Nah, itu tanda nya dia gak mau jauh jauh dari Papa nya, Nan."


Inanti berdecak.


"Tadi aku liat ada mobil baru masuk lagi, kerabat yang lain?"


"Yang mana?"


"Toyota Vios."


"Oh, saudaranya Eyang Sekar. Kamu mah belum kenal, nanti makan malam kita turun kok. Semua keluarga besar kumpul?"


"Semuanya?" Tanya Inanti mengulang. "Yang jumlahnya 38 orang itu?"


"Iya, semua keturunan Eyang Sekar Praja Diwangsa akan datang, di tambah saudaranya. Mungkin jadi 50an lah."


Inanti agak gusar di sana.


"Nan?"


"Hmmm?" Inanti duduk di pinggir ranjang dengan menatap Alan yang memakaikan baju pada Nadia. "Apa?"


"Kenapa? Khawatir? Tenang aja, Nan. Kan mereka semua nunduk kalau aku datang. Yah… kata kaya kamu sih, aku leader nya set*n. Anggap aja begitu."


"Iya in aja dah."


"Ih sholet banget bini cantik indah permai."


Inanti menyipitkan matanya. "Jangan mulai lagi deh."


🌹🌹🌹

__ADS_1


To be continue...


ha ha ha


__ADS_2