Istri Untuk Alan

Istri Untuk Alan
Peredam suara


__ADS_3

🌹VOTE YEEE GAISSSHH🌹


Sambil menunggu bagian less, Madellw menimang cucunya. "Nan, Mbah Kung nya Nadia kangen katanya, boleh dibawa nggak?"


"Ehe he, nanti Inan bilangin sama Mas Alan."


"Dia juga lagi betah ya sama Nadia?"


Inanti yang sedang menyiapkan bahan dan alat memasak itu mengangguk. "Kemarin juga gak berangkat kerja, katanya mau main seharian."


"Lagian lagi gegemesnya, Nan. Mamah juga mau bawa pulang. Kalau aja Adam ad…." Kalimat Madelle menggantung, dia sadar apa yang dikatakannya. Dia menatap Inanti perlahan. "Maaf, Nan. Mamah gak maksud buat…."


"Gak papa, Mah. Inanti udah ikhlas kok, lagian mau gak ikhlaa gimana, orang Mas Alan tiap hari ke sana, ngaji buat Adam. Pasti Abang Adam di syurga-Nya bahagia dapet terus paket dari Papah nya."


Madelle tersenyum. "Kamu gak mau resepsiam gituh, Nan?"


Inanti diam sesaat.


Madelle menambahkan, "Kan dulu enggak ada pesta pesta, cuma akan doang terus udah. Kamu gak minta sama si Abang buat resepsian, Nan?"


"Inan sih terserah Mas Alan, Mah. Kalau Mas Alan mau ya ikut aja."


Tapi dalam tatapannya, Madelle melihat Inanti menginginkannya. "Eh, kamu haid nya udah?"


"Belum, Mah. Dikit dikit lagi."


"Mamah punya rahasia loh biar suami makin rapet, Nan."


"Ini udah rapet, Mah. Nanti Inan ripuh."


Madelle tertawa. "Ya gak papa kali, biar si Abang gak bisa nengok. Cuma kamu doang gituh."


"Apaan emangnya, Mah?"


"Nanti Mamah kirim link nya."


"Belanjaan, Mah?"


"Hooh, semacam teh gitu. Nanti kamu beli, sekalian buat Mamah. Buat tagihannya kasih ke si Abang."


Saat itu juga Inanti tertawa lepas, Madelle selalu mencari kesempatan dalam kesempitan.


"Itu juga, Nan.."


"Apa, Mah?"


"Kayak Mamah barusan, manfaatin keadaan. Tapi yang gak rugiin orang. Si Abang kan jajanin Mamah juga dapet pahala. Iya gak?"


Inanti mengangguk saja. "Iya, Mah."


🌹🌹🌹


"Karl, bagaimana perkembangan pembangunan rumah itu?"

__ADS_1


"Berjalan baik dan lebih cepat sesuai yang anda pikirkan."


Alan menurunkan kacamatanya, dia menatap Karl yang membawakan laporan di tangannya. "Itu laporannya?"


"Iya, Tuan." Karl memberikannya, dia masih berdiam di sana menunggu instruksi dari Alan.


Sampai akhirnya Alan tersenyum tipis. "Hanya tinggal rapat sore ini?"


"Iya, Tuan."


"Selepas itu kita akan mengecek pembangunan rumah."


"Baik, Tuan."


"Kau boleh pergi," ucap Alan.


Karl mengangguk, dia meninggalkan majikannya di dalam.


Setelah Karl menutup pintu, senyuman Alan melebar. Dia tidak sabar memberi kejutan pada istrinya untuk pindah ke rumah itu. Mengisi semua kamar dengan anak anak yang lucu dan sholeh.


Sampai tiba tiba pintu terbuka, Alan melunturkan senyumannya seketika.


"Mamah?"


"Assalamualaikum, Anakku."


"Kenapa Mamah ke sini? Bukannya less sama Inanti."


"Gegabah kalau ngomong," ucap Alan berdiri. "Waalaikum salam, Mamah Cantik."


Madelle langsung duduk di sofa dengan wajah cemberut, yang mana membuat Alan mengerutkan kening heran. "Kenapa, Mah? Papah hapus game cacingnya?"


"Bang, duduk deh sini."


"Gak mau, Mamah pasti mau instal apk cacing di hape Abang kan? Buat nebeng kan?"


"Tuman kamu soudzon sama orangtua. Sini dulu napa."


Alan terpaksa mendekat dan duduk. Dia masih curiga dengan Madelle. "Bang, kamu gak mau nikahin Inanti?"


"Nikahin apaan, emang dia bininya Abang ih!"


"Maksudnya gak mau hajatan gituh? Ngumumin sama orang kalau dia bini abang? Kan nikahnya kalian pake umpet umpetan."


Alan menatap malas ibunya saat memulai lagi percakapan seperti ini, yang menyinggungnya.


"Bang, Mamah bukan niat nyinggung. Seriusan, tadi Mamah nanya sama Inanti katanya dia nunggu keputusan dari kamu aja."


"Abang udah ada niat," ucap Alan mengambil berkas berisi desain rumah barunya. "Abis pindahan ke sini, selain syukuran nanti resepsian juga. Halamannya luas kok."


Madelle mengerutkan kening saat menerimanya. "Ya Allah, Bang. Kamu bikin rumah buat Inanti?"


"Bikin Candil aja aku sanggup kalau buat Inanti, Mah. Udah jangan khawatir. Mamah pulang aja ya, Abang ada rapat."

__ADS_1


"Nanti langsung pulang?"


"Enggak, ada urusan lagi."


"Apaan? Awas kalau macam macam sama menantu Mamah kamu, Bang."


"Ya Allah nyangka buruk mulu. Pulang dulu, Mah. Nanti abang beliin cacing beneran."


"Durhaka kamu. Yaudah, cacingnya kirim ke kebun Mamah. Assalamualaikum."


Alan diam sesaat, dia hanya bercanda dan Madelle menginginkan cacingnya sungguhan. "Waalaikum salam."


Sesuai rencana, setelah rapat sore ini Alan langsung pergi ke lokasi pembangunan. 


Penjagaannya yang sangat ketat membuat Alan memiliki banyak pikiran positive jika tinggal di sini. Setiap tamu yang masuk wajib menyerahkan KTP dan menjelaskan tujuan dahulu. 


Di dalam perumahan luas ini sudah ada sekolah, swalayan bahkan tempat bermain seperti bioskop, kolam renang dan berbagai area olahraga.


Lingkungan yang didominasi orang orang islami ini membuat Alan berharap banyak supaya dirinya juga lebih baik lagi.


Sampai di lokasi pembangunannya, di mana dia membeli tiga unit dan menyatukannya menjadi satu. 


Alan masuk ke dalam diikuti Karl.


"Kapan akan selesai?"


"Perkiraan paling lambat adalah empat bulan lagi, tapi yang paling cepat bisa mencapai dua bulan, Tuan."


"Naikan gaji mereka, perbanyak pekerja."


"Baik, Tuan."


Kaki Alan melangkah ke kamar utama, tempat dirinya dan Inanti akan menghabiskan banyak waktu nantinya. 


Untuk saat ini, kamar itu masih belum sempurna.


Sampai sebuah ide terbesit, Alan yang yakin nantinya akan punya banyak anak tidak ingin ketahuan jika sedang memasang kuda kuda pada istrinya. "Pasang alat peredam suara di sini," ucap Alan.


"Apa anda ingin menambahkan ruang karaoke, Tuan?"


Alan masih dengan wajah tenangnya, dia tidak ingin Karl berspekulasi hal lain. "Lakukan apa yang aku perintahkan, Karl."


"Baik, Tuan. Maafkan saya."


"Aku maafkan. Dan jangan lupa pasang peredam, tidak boleh ada suara bocor," ucap Alan berjalan meninggalkan Karl dengan penuh wibawa.


"Baik, Tuan."


Saat melangkah keluar, Alan tersenyum lebar dengan Karl yang ada di belakangnya.


🌹🌹🌹


TBC.

__ADS_1


__ADS_2