Istri Untuk Alan

Istri Untuk Alan
Menua Bersama


__ADS_3

🌹VOTEE YHEE GHAISSS🌹


"Kamu janji kan gak akan ninggalin aku?" 


"Enggak, Mas. Aku mau kemana coba?" Tanya Inanti menyendarkan kepalanya di dada sang suami.


Membuat Alan mencium puncak kepalanya berukang sambik mengusap punggung telanjang istrinya.


Kebersamaan setelah pertengkaran memang menakjubkan. Alan merasa sangat bahagia mendengar penuturan istrinya.


"Yank…."


"Hmmm?"


"Nanti sore keluar yuk."


"Keluar kemana?"


"Ada kejutan buat kamu," ucap Alan mengusap surai lembut istrinya.


Inanti mengadahkan pandangannya, menatap Alan yang begitu tampan. Rahangnya komoh, dengan manik hitam pekat. Hidungnya yang mancung sangat pas di wajahnya, ditambah bentuk tubuh yang proporsional. Alan sangat menawan untuk Inanti, selain rupawan, dia juga sangat baik.


"Kejutan apa, Mas? Aku kan gak ulang tahun."


"Itu dia, dulu pas kamu ulang tahun aku gak ngasih apa apa."


"Aku mah gak mau apa apa," ucap Inanti kembali memeluk suaminya. "Cukup kamu yang tuntun aku jadi lebih baik."


Saat itulah dering ponsel Inanti berbunyi, membuatnya hendak beranjak. "Aw….," Gumam Inanti merasakan lengket di pangkal pahanya.


Rasa sakit itu kembali dia rasakan.


"Yank, sakit ya?"


"Dikit."


"Abis gemes sama kamu, jadi aku dalemin aja."


PLAK!


Inanti memukul tangan atas Alan saat suaminya kembali berpikiran kotor.


Alan tertawa. "Biar aku ambilin ponsel kamu."


Saat Alan beranjak, Inanti memejamkan matanya. "Mas ih!"


"Iya, udah pake boxer ini."

__ADS_1


Alan mengangkat panggilan.


"Hallo assalamualaikum, Nan. Gimana? Mau diambil?"


Alan seketika memberikannya pada Inanti. "Dari Mamah."


"Hallo, Assalamualaikum, Mah? Inanti gak ambil study nya ya. Maaf, Mah."


Saat itulah Alan tersenyum lebar.


🌹🌹🌹


Nadia menangis kencang saat papa nya terus saja menciumi pipinya. Rasa gemas Alan membuat Nadia yang terlelap bangun dan menangis seketika.


"Uh… anak Papa, mau Papa gendong ya? Sini… kiss Papa dulu dong. Ihh nangisnya kenceng banget."


Inanti yang baru selesai mandi menatap malas suaminya. "Kamu bangunin kan, Mas?"


"Enggak, dia bangun sendiri."


"Jangan bohong loh."


"Abis greget, Nan. Mana tahan liat pipinya yang embul. Salah dede juga ya de ya?"


Nadia malah semakin menangis kencang, membuat Inanti mengurungkan niat memakai baju. Dia menyusui anaknya dulu.


"Gemesh pikiran kamu jorok ya kan."


Alan malah tertawa.


Sore ini mereka akan pergi ke tempat yang Alan katakan. Inanti menerka nerka, tapi suaminya tidak juga memberitahunya.


"Sebenarnya kita mau kemana sih, Mas?"


"Jalan jalan, Yank. Sama menuju masa depan."


"Masa depan? Menuju?" Kalimat Alan membuat Inanti berfikiran yang tidak tidak. "Kamu mau kenalin aku sama selingkuhan kamu?"


"Ya allah lucu banget sih kalau udah posesive kayak gini. Bikin aku betah tau, jadi pengen kiss lagi."


"Mas, ja--- hmpphhh!"


Alan terkekeh mendapatkan gigitan dari bibir kenyal istrinya. "Rasa pepsodent ya? Strawberry nya ilang."


Inanti cemberut. Setelah Nadia mulai tenang, dia kembali menyerahkannya pada Alan. "Jangan diuyel uyel loh, Mas."


"Enggak, Yank."

__ADS_1


"Aku mau pake baju, jangan cari kesempatan."


Tatapan Alan terpaku pada dada istrinya yang meninggalkan bercak bercak kemerahan. "Itu bekas aku ya, Yank?"


"Ihhh… jangan liat," ucap Inanti malu. Dia melangkah ke walk in closet.


Inanti memakai gamis biru muda dengan kerudung soft pink. Dia terlihat anggun apalagi menggendong bayi. Inanti terlihat jelas memiliki sifat keibuan.


"Yuk, Mas."


Sepanjang jalan menuju mobil, Alan merangkul pinggang istrinya.


"Kita mau ke mana sih, Mas?"


"Liat aja, Yank. Kamu pasti suka."


Alan mulai mengendarai mobil, sepanjang perjalanan Inanti menceritakan pengalamannya saat perlombaan.


Alan tersenyum mendengarnya. 


Sampai saat mobil masuk ke sebuah kompleks perumahan, kening Inanti berkerut.


"Kita mau ke rumah siapa, Mas?"


Dan mobil pun berhenti di sebuah rumah yang berbeda dari yang lain. Lebih luas dan besar tiga kali lipat dari bangunan serupa di sampingnya.


Inanti turun, dia menyerahkan Nadia saat Alan meminta.


Mengikuti langkah suaminya yang merangkul pinggangnya, Inanti masih bingung.


"Mas, punya siapa ini maen masuk aja?"


Alan baru berhenti saat di depan pintu. "Ini rumah kita, Sayang."


"Hah?" Inanti masih bingung.


Alan menyerahkan sebuah kunci.


"Hadiah buat kamu."


"Buat aku?"


Alan mengangguk. "Aku harap rumah ini menjadi perantara antara kita dan jannah-Nya. Dimana kita bisa lebih dekat satu sama lain, dengan Allah dan keluarga. Dan juga tempat kita menua sebelum menghadap-Nya. Kamu mau kan temani aku menua?"


Inanti yang berkaca kaca itu mengangguk. "Aku mau, Mas."


🌹🌹🌹

__ADS_1


TBC


__ADS_2