
🌹Jangan lupa kasih emak vote ya anak anak kesayangan emak.🌹
🌹Follow juga igeh emak di : @RedLily123.🌹
🌹Sayang sekali emak sama kalian, jadi selamat membaca yaaaa.🌹
Sepanjang malam, Vanessa mengusap punggung suaminya agar tertidur lelap. Vanessa tidak tega melihat suaminya terus terbayang kotoraan yang dia injak tadi di samping rumah.
Bahkan Vanessa ingat bagaimana Judi muntah sambil mencuci kakinya.
“Besok suruh orang buat buang pasir bekas bangunan.”
“Iya, besok udah gak ada itu pasir. Udah sekarang Mas tidur, udah malem.”
Judi mengangguk, kemudian membalikan badannya menatap sang istri sebelum memeluknya. Vanessa mengusap rambut suaminya yang brsandar di dadanya. Vanessa mencium kening suaminya, dia tersenyum saat merasa sedang merawat seorang anak.
Saat suaminya sudah terlelap, Vanessa perlahan bangkit untuk kembali memakan sesuatu. Akhir akhir ini dirinya gampang sekali lapar, jadi Vanessa turun ke lantai pertama untuk mencari sesuatu.
Vanessa mengambil beberapa roti tawar dan memanggangnya di mesin. Vanessa tidak peduli apa yang dia makan selama itu baik dan mengenyangkan. Dirinya tidak terlalu memilih makanan akhir akhir ini, semua makanan terasa sangat nikmat untuk dimakan.
Dan Vanessa pikir ini semua karena kehamilannya, dia bersyukur karena itu. Semua makanan yang masuk ke dalam mulut terasa sangat enak sekali.
Saat sedang asyik makan, Bibi Pembantu bangun dan mendekat.
“Nyonya?”
“Astagfirullah, Bi! Kaget saya,” ucap Vanessa memegang dadanya yang berdetak kencang.
“Maaf, Nyonya,” ucapnya tersenyum. “Nyonya kenapa bangun? Ada sesuatu yang Nyonya inginkan? Mungkin Bibi bisa bantu.”
“Tidak perlu, Bi. Bibi kembali tidur saja, saya Cuma mau ngemil kok.”
Bibi pembantu itu merasa tidak enak, jadi dia diam saja. takut majikannya membutuhkan sesuatu.
“Yakin kok, Bi. Saya gak perlu bantuan Bibi, Bibi kembali tidur aja ya.”
“Kalau begitu, Bibi permisi ya, Nyonya.”
__ADS_1
Vanessa tersenyum, dia kembali menikmati rotinya saat Bibi Pembantu itu pergi. Namun saat Vanessa kembali mulai menikmati kesendiriannya, Oma Asih terbangun dan mendekat juga.
“Van.”
“Astagfirullah, Oma! Ngagetin aja sih.”
“Kok sendirian?”
“Harusnya gimana dong?”
“Mau Oma temenin?” tanya Oma Asih.
Sebelumnya Vanessa melihat mata Oma dulu, sepertinya Oma terbangun dan tidak mengantuk lagi. Jadi Vanessa mengangguk. “Duduk sini, Oma.”
“Tapi buatin dulu Oma roti yang kayak gitu, masa Oma duduk liatin kamu doang.”
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Oma datang ke dapur saat bagian sarapan sudah tiba, dan dia tidak melihat seorang pun di sana kecuali Bibi Pembantu yang sedang mencuci piring bekas memasak. Makanan sudah siap, tapi belum ada penghuninya yang duduk.
“Vanessa sama Judi kemana, Bi?”
Mendengar itu, Oma melangkah menuju tempat yang dimaksud. Dan benar saja, di sana ada Judi yang sedang disuapi oleh Vanessa. Dan yang Oma lihat, Judi begitu manja sehingga Vanessa beberapa kali mengusap kepala suaminya.
Oma yang merasa kasihan pada Vanessa itu berdehem, karena seharusnya Vanessa lah yang dimanja. Apalagi ini adalah kehamilan pertamanya.
“Judi, jangan manja.”
Judi yang sensitive itu menatap Oma Asih. “Manja gimana? Orang sama istri sendiri.”
“Iya, Oma tahu kamu pusing sama mual, tapi jangan manja kayak gitu. Tau gak semalem Vanessa bangun sendirian karna laper? Oma yang temenin, jangan lembek.”
“Maksud Oma gimana yah?” tanya Judi yang kesal.
Vanessa mencoba menengahi dengan memegang tangan suaminya.
“Ya kamu harus perhatiin Vanessa, jangan manja manja mulu sama dia.”
__ADS_1
“Lah kan Vanessa istri Judi.”
“Kamu kayak anak kecil daripada suaminya.”
Dan Judi yang kesal itu beranjak pergi tanpa mengatakan apa pun, membuat Oma berteriak memanggil manggilnya. “Judi! Judi!”
“Oma, tenang dulu,” ucap Vanessa. “Aku gak papa, Oma jangan khawatir. Mas Judi manja malah buat aku seneng.”
Oma yang marah itu memalingkan wajahnya, membuat Vanessa berkata, “Aku nyusul dulu Mas Judi ya.”
Dan saat Vanessa menemui suaminya, dia sedang memasukan berkas berkas ke dalam tas dengan wajahnya yang kesal. “Mas.”
“Gak mau ngomongin Oma, lagi kesel sama Oma.”
“Mas jangan gitu,” ucap Vanessa. “Lihat aku.”
Judi tidak melakukannya.
“Mas, lihat aku.”
Dan akhirnya suaminya melakukannya.
“Jangan terbawa emosi,” ucap Vanessa memegang tangan sang suami. “Oma itu udah tua, kadang pemikirannya berbeda sama kita. Dan kita harus mencoba beradaptasi dengan pemikirannya. Inget dia itu orangtua, gak ada yang tahu umurnya sampai kapan. Jangan sampai ucapan atau tindakan kamu menyakitinya, nanti malah bikin Oma sakit.”
Mendengar kalimat itu, Judi yang sensitive menarik napasnya dalam. Dia memeluk istrinya. “Terima kasih, Sayang.”
“Oke, sekarang temui Oma ya sebelum Oma minggat ke Belanda.”
Judi melakukannya, dia menemui Oma yang masih ada di taman depan rumah. Judi berencaana untuk mengajak Oma makan malam nanti dan berbicara berdua saja dengan Oma.
“Oma?”
“Mau apa?” tanya Oma sewot.
“Apa… nanti malam Oma akan makan malam?”
Oma Asih mengerutkan keningnya. “Setiap malam Oma makan malam.”
__ADS_1
🌹🌹🌹🌹🌹
To BE COntinue