
🌹Jangan lupa kasih emak vote sebelum membaca ya anak anak kesayangan emak.🌹
🌹follow juga igeh emak di : @REDLILY123.🌹
🌹SElamat membaca, emak sayang kalian anak anak.🌹
“Kita Oteweee, Van! Ayoooo!” teriak Oma Asih yang sudah siap di lantai bawah, dia bertanya tanya kenapa Vanessa begitu lama di sana. Padahal dia sudah bersiap siap dan menyuruh Oma Asih turun duluan. “Van!”
Dan Oma Asih yang terus berteriak membuat si bibi pembantu itu mendekat karena khawatir. “Nyonya jangan berteriak, biar saya saja yang menyusul Nyonya Vanessa.”
“Yaudah, Bi. Bilang kalau gak cepet saya tinggalin nih.”
“Baik, Nyonya Besar.”
Namun saat Bibi pembantu hendak naik dan memanggil, Vanessa lebih dulu turun. “Nyonya, baru saja mau saya jemput.”
“Oma marah ya, Bi?”
“Tau ah,” jawab Oma yang mendengar. Dia duduk di sofa sambil memalingkan wajah.
Vanessa mendekat sambil cengengesan. “Maaf, Oma.”
“Ngapain sih lama betul?”
“Tadi Mas Judi nelpon lagi.”
“Masya allah, dia nelpon lagi?”
Vanessa mengangguk malu malu lagi kemudian memeluk Oma Asih supaya tidak marah. “Sebenarnya dia video call sih, Oma.”
“Pantesan lama.”
“Yuk berangkat yuk.”
“Kita jalan kaki ‘kan? Kan deket.”
“Iya jalan aja biar pahalanya banyak.”
__ADS_1
“Tapi nanti Oma takut dimarahin,” ucap Oma Asih sambil melihat pada perut buncit milik Vanessa.
“Gak papa, orang deket,” ucap Vanessa melingkarkan tangannya pada Oma.
Sebenarnya ini bukan pertama kalinya Vanessa ke pengajian, biasanya dia diantar oleh Judi. Namun tidak datang tiap minggu karena harus mengurus suaminya yang manja. Berbeda dengan Oma yang selalu datang tiap minggu.
“Pengajian, Bu?” tanya salah satu satpam yang menjaga rumah Vanessa.
“Iya, Pak.”
“Tidak diantar Ibad, Bu?”
“Gak lah jalan aja biar sehat,” ucap Vanessa.
Ibad yang dimaksud adalah supir yang bekerja pada mereka tapi jarang digunakan Vanessa karena dia tidak nyaman diantar oleh pria lain selain sang suami. Terlepas dari itu, Vanessa juga bisa menyetir sendiri.
Saat sedang berjalan sambil berbincang bincang dengan Oma, ada seorang ibu ibu yang juga hendak menuju masjid.
“Neng Vanessa?”
Vanessa menengok. “Eh… Bu Ocoh.”
“Mari, Bu. Saya tunggu.”
“Cepetean atuh,” ucap Oma yang ikut berhenti.
“Eh, Oma. Gimana kabarnya Oma?” tanya ibu ibu itu menyalami Oma.
“Kemana kamu minggu kemaren?”
“Pulang kampong, Oma. Oh iya, minggu nanti Oma sama Neng mau ikut?”
“Ikut kemana?” tanya Vanessa menatap Oma dan ibu ibu itu bergantian.
“Loh, Oma gak ngasih tau? Katanya anggota pengajian mau ngadain ziarah ke makan ulama.”
“Kok Oma gak bilang?” tanya Vanessa.
__ADS_1
“Oma tau Judi gak bakalan izinin.”
“Tapi aku mau ikut.”
“Tuh kan kamu malah ngasih tau,” ucap Oma menatap tajam pada orang yang membocorkan hal ini.
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Sore ini Judi ingin menenangkan dirinya. Ada begitu banyak beban di pikirannya, apalagi kini usahanya terancam. Yang mana membuatnya mengusap wajah kasar dan kembali menarik napas dalam untuk yang kesekian kalinya.
Prediksinya, dia akan sedikit lebih lama berada di kota lain. Jika dia pulang dengan memperlihatkan wajah yang dipenuhi masalah, Judi takut sang istri akan ikut stress dan kemudian berdampak pada calon buah hati mereka.
Judi berjalan jalan di sekitaran hotel, ada taman di sana. Dia tersenyum saat melihat anak kecil berlarian ditemani kedua orangtuanya. Bagi Judi, anak adalah obat segalanya. Maka dari itu dia mencoba menjaga sang istri dengan baik.
BUK!
Seorang anak tidak sengaja menabraknya.
“Maaf, Om.”
“Astaga, hati hati, jangan berlarian seperti itu,” ucap Judi mencoba membantu anak perempuan itu berdiri. “Tidak apa apa?”
Anak itu mengangguk. “Maaf.”
“Om tidak terluka. Dimana ibumu?”
“Mika!” teriak seorang wanita yang datang ke sana dan menggendong anak perempuan itu. “Maaf, Mas.”
“Saya yang minta maaf, dia terjatuh karena menabrak saya.”
Wanita itu tertawa kecil. “Saya Arumi.”
“Hah?” tanya Judi saat melihat wanita itu menodongkan tangannya. “Oh saya Judi.”
Saat Judi hendak pergi, wanita itu tiba tiba berkata, “Saya janda.”
Judi mengkerutkan keningnya, dia berbalik kemudian berkata, “Istri saya galak.”
__ADS_1
🌹🌹🌹🌹🌹🌹
TO BE CONTINUE