
🌹VOTE🌹
Inanti menatap kamar yang masih dikunci oleh Alan, kamar itu katanya untuk Nadia. Kamar yang dikunci itu memiliki dua pintu, satu yang menuju luar, dan satu yang terhubung dengan kamarnya guna jika Nadia tidur di sana, Alan dan Inanti bisa mengawasi.
Berbelok tatapan ke arah samping, Inanti menatap Alan yang memejamkan matanya. Kasur ini sangat besar, bahkan masih menyisakan ruang.Â
Nadia berada di tengah, dengan Alan yang memeluknya.
Inanti pergi ke kamar mandi untuk buang air kecil, setelahnya dia menyalakan televisi di ruang keluarga mengingat di kamar ada dua makhluk yang sedang tidur.
Ini masih jam dua dini hari, tapi Inanti tidak mengantuk kembali.
Yang dia lakukan adalah mengambil cemilan di kulkas, lalu memakannya sambil menonton serial telenovela berjudul Marimar.
"Nan?"
"Astagfirullah," ucap Inanti terkejut, dia menengok. "Sejak kapan berdiri di sana?"
"Baru aja, kenapa gak tidur?"
"Gak ngantuk," ucap Inanti kembali fokus pada televisi.
"Lagi nonton Marimas?"
"Marimar, bukan Marimas. Giman sih."
Alan yang masih mengantuk menggaruk kepalanya. "Salah dikit juga, lagian namanya mirip kayak minuman itu."
"Ngapain duduk di sini?"
"Nemenin kamu lah."
"Nadia kamu tinggal sendiri?"
Alan mengangkat monitor sebagai jawaban. "Relaks, kita pantau dia dari sini."
Sesaat keheningan melanda, Inanti fokus pada film sampai dia tidak sadar cemilannya dimakan Alan.Â
"Ih, Alan! Ambil sendiri."
"Jangan pelit, emang mau kamu abisin? Mubazir loh."
"Ish!" Inanti menggeser mangkuk keripiknya hingga menjauh dari Alan.
Sampai iklan tiba, baru Inanti kembali fokus pada cemilan.
"Nan?"
"Apaan?"
"Minggu depan kita adain aqiqah ya buat Nadia di Depok, semua keluarga saya datang."
Inanti diam menegang. Semua keluarga Alan? Itu sama saja dengan dirinya bunuh diri. Semua keluarga Alan membencinya kecuali Mama Madelle dan Papa Riganta, Alan pun dulu membecinya.
Mereka membicarakan Inanti di belakang, menghujatnya dan menolehkan tatapan sinis. Apalagi eyang nya Alan, dia sangat membenci Inanti hingga membuatnya sering menangis dalam diam. Ditambah dengan adik adik Alan yang sama menghujatnya bagaikan pasukan terdepan dari netizen nyinyir pengikut lambe turah.
"Nan?"
"Hem? Apa?" Inanti sadar dari lamunan.
"Mikirin apa? Eyang? Si kembar? Adik adik saya?"
'Itu tau,' ucap Inanti dalam hati
"Jangan khawatir, ada saya. Saya lindungin kamu kok."
Inanti belum percaya sepenuhnya, toh dulu Alan meninggalkannya saat dirinya dihujat.
"Nan." Alan menggenggam tangan Inanti, yang anehnya tidak Inanti tepis. Dia merasa mendapat kekuatan dari sana. "Jangan khawatir, ada saya. Kamu percaya kan sama saya?"
Inanti menarik napasnya dalam. "Kamu sayang sama saya? Sama Nadia?"
"Nyawa saya taruhannya, Nan."
__ADS_1
Inanti berusaha mengatur napasnya. "Hubungan kamu sama Vanesa?"
"Kamu tau sendiri, dia udah di penjara."
Karena Alan belum tahu kabar itu, sebab dia memblokir semua tentang Vanesa, dengan Karl sebagai benteng.
"Nan? Kamu percaya kan sama saya?"
Inanti ingin, tapi dia takut Alan kembali mengecewakannya. Namun, dia tidak akan tahu pengorbanan pria itu sebelum dirinya mencoba.Â
'Bissmillah,' ucap Inanti dalam hati sebelum akhirnya mengangguk.
Itu membuat Alan senang, dia menarik Inanti ke dalam pelukannya. "Makasih, Nan. Saya janji gak akan ngecewain kamu. Saya janji, Nan."
Hati Inanti berdebar, rasanya hangat dipeluk untuk pertama kalinya. Namun, Inanti tidak membalas pelukan itu, dia mendengarkan semua penuturan terima kasih dari Alan untuknya.
"Nan?"
"Hmmm?" Jawab Inanti yang teredam dalam pelukan.
"Panggilnya jangan saya saya lagi ya, aku kamu yang paling cocok."
"Heem."
"Sama panggil aku Mas, panggilnya yang halus halus gitu loh."
"Nanti kalau udah maafin setengahnya."
"Kok gitu?"
Inanti diam dalam pelukan Alan.
"Nan?"
"Hmmm?"
"Dada kamu empuk."
Seketika Inanti mendorong Alan, dia mencubt kuat lengan pria itu.
"Dasar mesum, Omes, gesrek, belum waras kamu."
"Lah, itu kan kenyataan, Nan."
"Bodo," ucap Inanti hendak pergi.
Tapi Alan menahan lengannya. "Lepasin gak?!"
"Enggak."
"Alan!"
"Daripada marah marah terus darah tinggi, mending kita sholat tahajud yuk."
🌹🌹🌹
"Assalamualaikum warahmatulllah."
Inanti mengikuti setiap gerakan Alan yang mengimaminya. Kini mereka sholat di kamar guna menjaga Nadia.
Setelah sholat, Inanti kembali mencium tangan suaminya.
Dan saat Alan hendak mengecup kening Inanti, Inanti malah menguap lebar.
"Tutup, Nan, kalau nguap."
"Maaf lupa."
"Ngantuk?"
Inanti mengangguk.
"Yaudah tidur sana."
__ADS_1
"Kamu gak tidur?"
"Aku mau ngaji dulu, biar makin di sayang istri."
Inanti berdecak. "Mana al-Quran nya? Aku juga mau ngaji."
"Di rak buku, Nan."
Ada dua al-Quran di sana. Satu berwarna hitam, satunya lagi berwarna putih. Yang putih terlihat lebih feminim dengan kaligrafi bunga emas di covernya.
"Ini dua duanya punya kamu?"
"Yang putih punya kamu."
"Bekas siapa ini?"
"Ngeledek banget bekas, Nan."
Inanti kembali berdecak, dia menyerahkan al-Quran hitam pada Alan. "Ya maksudnya sering dibaca sama siapa sebelumnya?"
"Belum ada yang pakai, saya beli itu buat kamu. Coba buka halaman akhirnya."
Inanti menurut, dia membukanya. Di sana ada lembaran kertas dengan tinta emas yang menuliskan namanya dengan begitu indah.
"Ada?"
"Ada," ucap Inanti dengan suara serak menahan tangis.
Keduanya mengaji, tapi Inanti selesai duluan karena mengantuk berat, kepalanya terasa pusing.
Inanti naik ke atas ranjang di samping Nadia.
Dan bersamaan dengan Alan yang berhenti mengaji, Nadia menangis kuat.
Inanti membuka matanya seketika, dia membuka kancing bajunya hendak menyusui Nadia. Tapi bayinya itu memalingkan wajah.
"Popoknya penuh kali, Nan."
Inanti memeriksa. "Masih kering."
"Lah, inimah mau bergadang sama Papa ya, de?"
Inanti menarik napasnya dalam, dia benar benar mengantuk.
"Kamu tidur aja, Nan. Biar aku yang ajak main Nadia."
"Kalau mau mimi bangunin aja."
"Iya, aku bawa ke ruang kerja ya?"
"Kamu mau kerja? Sini Nadianya sama Mama aja."
"Enggak, cuma mau cek doang. Lagian dede maunya sama Papa aja ya, De, ya?"
Inanti hendak berucap, tapi Alan pergi lebih dulu. Membuat Inanti memutuskan terlelap saja karena mengantuk.
Dan di ruangan kerjanya, Alan harus menyelesaikan tugas yang belum dia penuhi untuk wisuda bulan depan. Sambil menggendong Nadia, Alan menyalakan laptop.
"Dede, Papanya buka ini dulu ya. Kalau udah selesai nanti Papa ngaji lagi buat dede."
Nadia seolah mengerti, matanya menoleh ke layar laptop penasaran.
"De, jangan liatin monitor."
Nadia enggan dipindahkan pandangannya.
"Ampun dah mirip Mamanya," ucap Alan memilih untuk menurunkan pencahayaan laptop hingga Nadia tidak terlalu terpapar sinar.
"Bentar ya anak Papa, anak Mama. Dede nya jangan pegel dulu ya."
🌹🌹🌹
Ini dia foto Alan sama Baby Nadia. Aku sengaja crop foto Alan. Biar apa? Biar kalian penasaran lah wajah Mas Alan kayak gimana. Wk wk wk wk.
__ADS_1
TBC.