
🌹VOTE, CAPE INI NULIS, SAYANG (~‾▿‾)~ (~‾▿‾)~🌹
Saat itu, Inanti diam menunduk bingung dengan apa yang akan dia katakan. Alan keluar untuk memberikan Eyang Sekar waktu untuk meminta maaf dengan sungguh sungguh. Tentu saja Alan tidak meninggalkannya begitu saja, dia menunggu di luar pintu dan menatapnya dari kaca kecil di sana. Dia tidak ingin istrinya mendengar kata makian lagi, tapi Alan juga tidak bisa menolak keinginan Eyang Sekar untuk memberikan waktu, apalagi dia meminta sambil menangis.
Di dalam sana, tangan Eyang Sekar masih menggenggam tangan Inanti. "Alan marah, Riganta marah, Eyang sadar kalau kamu sangat berarti buat mereka."
Inanti masih diam.
"Eyang emang benci sama kamu."
Dan kalimat itu membuat Inanti semakin bungkam, tapi hatinya terus melafalkan doa.
"Eyang benci karena kamu bukan dari turunan ningrat. Coba kamu dari turunan ningrat, hamil duluan pun gak akan masalah."
Kali ini Inanti menatap balas Eyang Sekar, wanita tua yang terbaring itu menangis.Â
"Maaf ya….. maafin Eyang. Kamu mau kan?"
Inanti mengangguk, dia membiarkan tangannya digenggam Eyang Sekar. "Inan maafin Eyang kok. Eyang cepet sembuh, biar bisa pulang."
"Jaga Alan ya… dia cucu kesayangan Eyang."
Inanti mengangguk.
"Iya, Eyang."
"Malam ini tidur di mana?"
"Di rumah Eyang," ucap Inanti pelan, dia takut wanita tua itu akan kembali melemparnya.
"Iya di sana aja. Ada makanan di kamar Eyang, ada manisan jahe kesukaan Aa, kamu ambil ya. Kuncinya ada di penjaga rumah."
"Iya, Eyang."
"Nadia ke mana?"
"Sama Mamah keluar."
"Abis ini mau pulang?"
Inanti mengangguk.
"Besok jangan dulu pulang ya, doain Eyang sembuh supaya bisa makan malam bareng lagi."
Inanti terdiam lama, makan malam sebelumnya membuatnya trauma dengan semua tatapan dan intimidasi.
Dan saat itulah Alan kembali masuk dengan membawakan nampan makan.
"Eyang waktunya makan malam," ucap Alan membuat genggaman tangan Eyang lepas pada Inanti. Saat itu Alan berbisik pada istrinya, "Nadia mau mimi, dia diluar sama Mamah."
Inanti segera beranjak. "Inan keluar dulu ya. Eyang cepet sembuh."
Inanti menarik napasnya dalam setelah keluar dari sana. Dia mengusap air matanya dengan hijab sebelum melangkah menuju ke bawah menemui Nadia.
Di pinggir rumah sakit ada sebuah rumah makan, di sana Madelle menunggu.
"Nan? Mama tadi telpon Alan, soalnya takut ganggu kamu."
"Nangis dari tadi, Mah?"
"Baru aja, emang gak bawa dot?"
"Lupa, Mah," ucap Inanti mengambil alih Nadia dan menyusuinya.
Mereka berada di sisi yang sepi.
Madelle tersenyum melihat Inanti yang menyusui anaknya. Walau pun masih muda, aura keibuannya sudah terlihat.
"Nan, bekas operasi masih ada?"
__ADS_1
"Ada, Mah."
"Mama punya obatnya, yang mujarab. Besok Mama bawa, masih di sini kan?"
"Insyaallah, kalau Inanti gimana Mas Alan."
Keduanya berbincang di sana, selama beberapa menit sambil menunggu Alan dari Rumah Sakit.
Dan ketika Nadia selesai minum susu dan tertidur, tiba tiba seseorang datang.
"Inanti?"
"Ya?"
"Ya Allah…. Inanti, kamu udah gede!"
Inanti diam melihat wanita paruh baya di depannya. Dia kebingungan.
"Ini Bibi…. Bi Rukmini, adiknya Mamah kamu."
"Ya Allah, Bibi…."
Inanti segera menyalaminya. "Bibi di sini?"
"Bibi kerja di sini."
"Bi, ini mertua Inan."
"Kamu udah nikah?"
"Udah punya anak, Bi."
Inanti hampir meneteskan air matanya, orang di depannya adalah orang yang sangat menyayanginya sampai dia dibawa suaminya entah kemana saat itu.
Saat itulah Alan datang.
"Mas! Kenalin, ini bibi aku, adiknya Ibu aku. Bi, ini suami Inan."
Inanti terlihat antusias melihat keduanya bersalaman.
"Mas, kita ke rumah Bibi dulu ya."
"Eum… aku mau antar Papa dulu nyari lampu. Aku anterin kamu ke rumah Bibi ya, Sayang."
🌹🌹🌹
Seperti perkataannya, Alan mengantarkan Inanti ke rumah bibinya yang baru dia jumpai hari ini.
Setelah Alan pergi dengan mobilnya, Inanti bersama Rukmini melangkah menuju kontrakan.
"Bibi tinggal dikontrakan, Nan."
"Sendiri, Bi?"
"Iya, suami Bibi nikah lagi, anak bibi dibawa sama dia."
Inanti menatap kasihan, ternyata masih ada orang yang lebih menderita daripada dirinya.
"Assalamualaikum," ucap Rukmini saat memasuki rumahnya guna mengusir setan dari dalam.
"Duduk, Nan. Bibi bawain minum."
"Iya, Bi."
"Dede nya tidurin aja di kamar. Noh kamar itu kosong kok, tenang aja sering Bibi sholatin."
Inanti menurut, dia menidurkan bayinya di sana. Sebuah kamar sederhana di kontrakan kecil. Hanya ada dua kamar di sini.
Setelahnya Inanti kembali duduk di sofa dekat kamar, dia bisa menatap Nadia dari duduknya.Â
__ADS_1
"Jadi…., Bapak kamu sekarang gimana, Nan?"
"Ayah masih kayak dulu, Bi."
"Ya Allah, sabar ya, Nak. Tapi jujur Bibi kaget liat kamu udah punya anak, udah punya suami. Untungnya suaminya dari kalangan ningrat, Nan. Hidup kamu enak."
"Alhamdulillah, Bi," ucap Inanti tersenyum kecut jika mengingat kejadian dulu.
"Di sini ngapain?"
"Itu, Eyangnya suami Inanti sakit."
"Ohhh… Bu Sekar?"
"Bibi tau?"
"Suami bibi dulu kerja di sana. Marga anak kamu Praja Diwangsa dong, Nan?"
"Iya, Bi."
"Alhamdulillah, hidup kamu udah terjamin. Maaf dulu Bibi gak bisa bantu Ibu kamu."
Malam itu mereka menghabiskan waktu sambil bercengkrama. Sampai Inanti tidak sadar ini sudah jam 10 malam.
"Nan, tidur aja di sini. Kamu ngantuk kan?"
"Iya kayaknya, Bi. Inanti ngantuk."
"Udah, sana tidur. Nanti kalau suami kamu datang biar bibi yang buka pintunya."
"Makasih, Bi."
Inanti masuk ke kamar dan menutup pintu. Inanti membuka gamisnya hingga menyisakan kaos dan hot pants.
Dia hendak mengirimkan pesan pada Alan.
Tapi di sana sudah ada pesan dari suaminya.
22.01 P.M
Mas Alan Tersayang : Yankk… kayaknya aku agak maleman deh. Aku muter muter di sini, Papah kayaknya beli lampu kembarannya matahari deh.
Mas Alan Tersayang  : Gimana kalau nginep di sana, kasian Nadia kalau kemalaman soalnya.
Inanti tersenyum membaca pesan itu. Alan sendiri yang menamakan dirinya dengan itu.
Me : Iya, Mas. Di sini aja. Nadia udah tidur.
Mas Alan Tersayang : Kok Sayangnya Mas Alan belum tidur? Gak bisa tidur ya gak ada Mas di sana?
Me : Hoax
(foto, silahkan mengkhyal sendiri)
Mas Alan Tersayang : Subhanallah, cantik banget sih bini nya Mas Alan. Lagi dong, tar dapet piring.
Me : Gak mau piring, mau martabak manis, Mas.
Mas Alan Tersayang : Iya, apa sih yang enggak. Sama gerobaknya juga bisa aku beli, Nan.
Me : Yang rasa keju madu sama cokelat kacang ya, Mas.
Mas Alan Tersayang : Siap, Sayang.
Me : Makasih, cepet pulang ya, Mas.
🌹🌹🌹
Tbc.
__ADS_1