Istri Untuk Alan

Istri Untuk Alan
Perubahan Hati


__ADS_3

🌹VOTE🌹


Tangan Inanti menahan tengkuk suaminya. Meyakinkan diri, dan mulai menikmati. Apalagi ketika tangan Alan merayap memegang pahanya, Inanti merasakan ada sensasi yang belum pernah dia rasakan. Ada rasa geli dan…. Nagih.


Alan merasakan tidak adanya penolakan, membuatnya semakin menghimpit istrinya hingga dada mereka benar benar bersentuhan. Inanti membuka kakinya membiarkan Alan semakin dekat, mereka merekat dengan bibir saling beradu dan membalas dengan lembut dan gigitan nakal sesekali.


"Nan…?"


Inanti kembali mendahului Alan, dia mencium bibir suaminya sebagai tanda mengizinkan. Inanti sedikit tidak sadar dirinya dikendalikan napsu, rasanya nikmat mendapat sentuhan dalam keadaan tanpa paksaan.


Alan begitu lembut, sentuhan jemari tangannya menyentuh secara langsung ke paha belakangnya, lalu merayap ke dalam kaos dan menyentuh punggung telanjang istrinya.


"Hmmmm……," desah Inanti dalam ciuman.


Dia menikmati kedekatan ini, melupakan rasa gengsinya. Bagaikan candu, setiap Alan melakukan lebih, Inanti menyukainya.


Namun, baru juga Alan hendak membuka kancing kemeja istrinya, bayi mereka menangis kencang.


Alan segera melepaskan ciumannya. "Biar aku aja, Nan."


Alan menjauh meninggalkan istrinya yang masih duduk di atas lesmer laci.


Di sana Inanti mengusap bibirny yang basah, juga mengeringkan lehernya akibat ada air liur dirinya dan Alan yang menetes ke sana. Dia juga menurunkan roknya yang sempat terangkat.


"Uh…. Anak Papa," ucap Alan menimang Nadia, tapi bayinya tidak berhenti menangis.


Alan segera menidurkannya dan mengganti popoknya. "Basah ya….? Uh… sayang… ke kamar mandi yu, dibersihin sama Papa…."


Inanti menatap Alan yang membawa bayi mereka ke kamar mandi. Dirinya masih di sana memikirkan apa yang dilakukannya, Inanti tidak percaya pada dirinya sendiri yang telah menahan Alan. 


Jantungnya berdetak kencang, apalagi saat Alan keluar kamar mandi lalu berucap, "Mama kenapa ya, De? Kesambet kali ya?"


Dan Inanti tetap diam di sana menatap Alan yang memakaikan baju pada Nadia. 


Setelah selesai, Alan menggendong bayinya yang kini tidak lagi menangis.


"Aku ke bawah dulu ya, Nan. Mau ajak Nadia keliling, kasian dia sumpek di kamar." Kemudian Alan kembali menggendong Nadia. Sebelum keluar, dia mendekat dan mencium bibir istrinya.


"Nanti dilanjut lagi ya, Sayang."


Inanti menelan ludahnya kasar. Saat Alan keluar, Inanti buru buru mengambil ponsel lalu melakukan sebuah pencarian dengan kata kunci, *Fadhilah Istri minta Duluan.*

__ADS_1


Kemudian munculan apa yang Inanti inginkan. Dia membaca dengan gumaman, "Alloh akan mengharamkan dirinya dari api neraka, memberinya pahala dua ratus ibadah Haji dan Umroh, dicatatkan untuknya dua ratus ribu kebaikan dan diangkat untuknya dua ratus ribu derajat di Surga."


Inanti menarik napas dalam setelah membaca itu. "Apakah harus aku lakukan ini?"


🌹🌹🌹


Inanti menggendong Nadia di pangkuannya. Mereka hendak pergi ke rumah sakit untuk menemui Eyang Sekar.


"Nan….?"


Inanti diam, dia enggan digoda oleh Alan. Satu satunya agar pipinya tidak memerah, malu karena apa yang diperbuat, yaitu dengan menaikan kembali kadar gengsi dan harga dirinya.


"Nan…? Kenapa sih dari tadi diem aja? Sakit gigi?"


"Iya, gigi aku banyak bolong. Makannya jangan cium aku."


"Ciee…. Yang mau bahas ciuman. Nanti lagi ya, bibir kamu enak, manis banget."


"Kamu pikir ini permen?"


"Candu, Nan. Bawaannya pengen kiss kamu terus."


"Dasar mesum."


"Hiiihh, siapa yang mau apa apain kamu?"


"Kayak tadi, kamu apa apain aku."


Inanti cemberut, dia menatap keluar jendela.


"Semoga aja next ronde bisa kaya dede Nadia, bisa sedot itu kamu."


"Dasar mesum!" Teriak Inanti dan menutup bagian dadanya yang sedang menyusui. "Mata kamu belekan loh."


"Ya enggak lah. Orang punya bini sendiri."


"Tau ah!"


"Ha ha ha, dapet pahala loh nempel sama suami."


Inanti diam, dia kembali menimang keputusannya nanti malam. Inanti sudah bulat nanti malam akan meminta duluan pada Alan. Terlepas dari pahala yang akan didapatkan, dia juga merasa nyaman. Namun, untuk saat ini dirinya enggan diganggu. Inanti sangat malu.

__ADS_1


Sampai di rumah sakit, Inanti menyelesaikan menyusui Nadia. Dia menarik napas dalam saat turun dari mobil.


"Tenang, Sayang. Ada Mas Alan di samping kamu."


"Dari tadi juga tenang."


"Tegang muka kamu, harunya tegangnya nanti, kalau mau kita mau kuda kudaan," bisik Alan di telinga istrinya.


Yang mana membuat Inanti menepuk pundaknya, Alan malah tertawa.


Berada di lantai atas, Alan tidak sekali saja melepaskan genggaman tangannya. 


Jantung Inanti berdetak kencang, apalagi saat melihat Madelle di koridor, yang menandakan mereka semakin dekat.


"Mama." Alan yang pertama kali memanggil.


"Abang, Inanti… Alhamdulillah." 


Tatapan Madelle fokus pada Nadia. "Ya Allah…. Cucu Eyang…. Mama gendong ya, kalian masuk aja."


"Papa ke mana, Mah?" Tanya Alan.


"Lagi ngomong sama Om kamu," jawab Madelle sambil mengambil alih Nadia. "Kalian masuk saja, Nadia mau Mama bawa keluar, kasian di sini banyak yang sakit."


"Iya, Mah. Makasih."


Dan saat Madelle pergi, saat itulah Alan kembali menggenggam tangan Inanti masuk ke dalam.


Dan tanpa diduga, saat membuka pintu, Inanti dikejutkan dengan Eyang Sekar yang menagis. "Aa……," panggilnya pada Alan.


Saat itu perawat yang ada di sana keluar.


"Aa… maafin Eyang… Aa jangan marah lagi sama keluarga ya, ini Eyang yang salah."


Alan mendekat. "Eyang harusnya minta maaf sama Inanti."


Inanti menunduk di samping Alan ketika semakin dekat. Tangisan Eyang Sekar terdengar pilu.


Dan tanpa diduga, Eyang Sekar menggenggam tangan Inanti dan menciumnya dengan kening beberapa kali. "Maafkan Eyang, Nan. Maafkan Eyang…. Eyang salah, maafkan Eyang…."


🌹🌹🌹

__ADS_1


Tbc.


__ADS_2