
🌹VOTEEE YEEE GAISSS🌹
Judi menatap istrinya yang terlelap, dia terlihat sangat kelelahan. Dari jam tiga pagi, Judi menemani Vanessa belajar sholat sunah tahajud. Menyambung ke sholat subuh dan berakhir jam lima pagi sampai Judi mengajarkan Vanessa mengaji lebih baik lagi.
Menatap jam di dinding sudah menunjukan pukul enam saat ini, Judi bersiap untuk pergi ke kantor.
Dia tidak membangunkan Vanessa, Judi memilih menyiapkannya sendiri.
Dan sebelum keluar kamar, Judi mengusap kepala istrinya pelan.
Saat keluar dan menuruni tangga, Oma Asih yang menunggu kedatangan Vanessa iti mengerutkan keningnya. "Mana istrimu, Judi?"
"Masih tidur."
"Astaga, dia masih ti……," ucapan Oma Asih tertahan saat dia melihat Tante Metry mengisyaratkan untuk diam. Membuat Oma Asih memilih untuk menghidangkan sarapan untuk cucunya. "Makanlah yang banyak, Judi."
"Terima kasih, Oma. Aku bisa melakukannya sendiri."
"Hei sudahlah, Oma ikhlas melakukannya. Tapi, Judi, apa yang sebenarnya disukai istrimu? Makanan apa?"
Judi sendiri diam, dia tidak tahu apa yang disukai istrinya. Dan saat itulah Judi sadar, dia terlalu sibuk dengan kebahagiaan orang lain daripada mementingkan masa depan pernikahannya.
Karena Judi tahu, keberhasilan sebuah pernikahan dimulai dari hal hal kecil.
"Judi," ucap Tante Metry menydarkan lamunan keponakannya. "Oma bertanya padamu."
"Vanessa? Dia suka apa saja, Oma."
"Bahkan taeeekkk sekalipun?" Tanya Oma Asih menyindir. "Apa yang kamu lakukan, Judi. Seharusnya kamu tau apa yang istrimu sukai, jangan asal semuanya suka."
"Ibu sudah, kita sedang sarapan. Debatnya tunda saja nanti."
Judi menghela napas. "Vanessa suka makanan makanan barat, Oma."
"Nah seperti itu dong."
Dan sisa sarapan mereka dihiasi oleh keheningan. Hanya ada denting sendok sampai Judi mengakhirinya lebih dulu.
"Aku sudah selesai."
"Oma belum," ucap Oma Asih. "Pergi saja tidak usah salam, tangan Oma penuh dengan ayam. Hati hati di jalan."
Tanta Metry memberi isyarat yang sama pada Judi.
Sebelum pergi, Judi memberi pesan pada kepala pelayan. "Jika Vanessa sudah bangun, siapkan makanan untuknya."
"Baik, Tuan."
"Aku berangkat, Assalamualaikum," ucap Judi pada Oma dan tante metry.
"Waalaikum salam," jawab keduanya bersamaan.
Oma Asih menatap anaknya, dia tersenyum memperlihatkan sisa gigi depannya yang tinggal empat.
__ADS_1
"Kenapa, Bu? Mau apa?"
"Bantuin Ibu ya biar Ijah gak kesel lagi sama Ibu."
"Namanya Vanessa."
"Iya, Vanessa namanya."
🌹🌹🌹🌹
Vanessa menggeliat, dia tidak mendapati suaminya. Keningnya berkerut bertanya tanya ke mana Judi. Dan saat melihat jam, Vanessa terkejut. Di sana sudah jam sembilan.
"Ya ampun, gue pingsan apa tidur?" Tanya Vanessa pada dirinya sendiri.
Dia segera mengaktifkan ponselnya untuk menghubungi Judi.
Namun ketika ponselnya nyala, langsung ada notifikasi pesan.
Judi : Udah berangkat kerja. Diem di rumah jangan ke mana mana. Kalau mau apa apa minta sama pelayan. Jangan lupa sholat, aku pulangnya agak maleman.
Dan entah kenapa Vanessa tersenyum membaca pesan itu. Dia segera mengganti nama Judi di kontak ponselnya dengan nama, *Suamiku Brondong.*
Vanessa cekikikan melihatnya. Sesaat dia menghela napas, Vanessa sebenarnya kesal dikurung terus oleh Judi. Tapi dia ingin dan berusaha menjadi istri yang baik.
Lagipula jika dirinya ingin keluar dan bekerja, semua ijazah pendidikannya ada di rumahnya di Bandung. Dan rumah itu dikuasai oleh kerabatnya yakni tante tante dan om om nya. Vanessa malas kembali ke sana, apalagi di sana ada ibu tirinya.
Sebelum keluar dari kamar, Vanessa mandi dahulu.
Saat keluar, Vanessa tidak mendapati siapa pun kecuali pelayan.
"Anda ingin sarapan apa, Nyonya?"
"Beri aku susu dan roti."
"Baik."
Kepala pelayan itu memberi isyarat pada anak buahnya.
Vanessa masih menatap sekeliling. "Di mana semua orang? Apa pergi ke luar lagi?"
"Tuan Judi sudah berangkat ke kantor, Nyonya Metry juga sudah berangkat ke butiknya. Nyonya Besar pergi ke luar beberapa jam yang lalu."
Vanessa mengangguk angguk mengerti, dia mulai memakan sarapannya.
Dan setelah selesai, Vanessa mendengar suara langkah yang tidak asing.
"Udah bangun, Van?"
"Eh, kok Tante di sini? Enggak keluar?"
"Abis nganter Ibu," ucap Tante Metry yang membuat Vanessa sadar jika wanita berjilbab lebar itu menuntun seseorang di sampingnya.
Oma Asih berdeham. "Dia di situ, Oma mau bicara."
__ADS_1
Vanessa mengangguk.Â
Oma Asih duduk di depannya, dengan Tante Metry berada di belakangnya tersenyum.
"Vanny…."
"Namanya Vanessa, Bu. Bukan Vanny."
Oma Asih berdecak. "Namanya terlalu panjang, Metry."
"Bukan hal baik merubah nama orang, Bu. Panggil saja Van kalau begitu."
"Itu terdengar seperti memanggil mobil."
Vanessa diam menatap keduanya berdebat.
Oma Asih mengibaskan tangannya. "Urus saja urusanmu, Metry."
"Astaga, Ibu….."
Dan saat itu Oma Asih kembali menatap Vanessa. "Van, Oma mau minta maaf kemarin marah marah."
"Iya, Oma."
"Loh, kok iya?"
"Lah, harusnya gimana?" Tanya Vanessa dengan wajah polosnya.
"Kamu juga harus minta maaf lah, darah Oma tinggi lagi gara gara marah sama kamu."
Vanessa mengangguk. "Iya, Oma."
"Astaga," gumam Oma Asih. "Sudahlah, ini untukmu."
"Apa ini, Oma?"
"Hadiah untukmu."
Dan saa Vanessa membukanya, ternyata isinya adalah daster dengan motif motif khas ibu ibu. Membuat kening Vanessa berkerut, mereknya saja aneh.
"Iya, Oma tau kamu bahagia. Daster adalah senjata rahasia agar pria bisa nyaman di rumah."
"Kenapa begitu, Oma?" Tanya Vanessa.
Yang membuat Oma Asih diam, dia juga bingung kenapa. "Ck! Pakai saja dan jangan banyak tanya."
"Baik, Oma."
"Setelah ini akan Oma ajarkan kau memasak. Supaya Judi tidak makan arang lagi."
🌹🌹🌹
TBC.
__ADS_1