Istri Untuk Alan

Istri Untuk Alan
Semua cara


__ADS_3

🌹VOTE🌹


Tidak ada satu pun barang yang dibawa Inanti kecuali pakaian miliknya saja. Untuk pakaian milik Nadia saja, kerabat Inanti menahannya dan memilih untuk mengambilnya untuk cucunya.


Mereka berada di dalam mobil, dengan Mang Asep yang mengendarai. Inanti terdiam lama, dia tidak memiliki pilihan untuk diam dan memilih ikut bersama Alan. 


Sesekali Inanti melirik Alan yang menggendong Nadia yang terbangun.


"Kok gak tidur tidur ya, Nan?"


"Baru juga bangun," ucap Inanti mengusap kening Nadia yang tersorot cahaya matahari.


Banyak cercaan kalimat yang ingin Inanti lontarkan pada Alan. Tapi Inanti membaca situasi, di sini ada Mang Asep.


"Sep, kita ke mall dulu ya."


"Baik, Tuan."


Inanti hanya diam, dia tidak banyak bicara dan hanya mengikuti setiap instruksi Alan.


Termasuk untuk ikut turun dan berbelanja ke dalam mall.


"Bawa trolli, Nan."


Inanti mengikuti saja, dia melihat Nadia yang tidak ingin lepas dari ayahnya.


"Matanya melek terus ya?"


"Kalau merem terus ya horror!"


"Deuh, mulai keluar tuh juteknya."


"Jangan noel noel ih!" Ucap Inanti saat Alan menyentuh dagunya. "Alan!"


"Loh, kok manggil nama? Gak sopan tau, Nan. Kamu bisa dilaknat malaikat. Kan tadi juga manggilnya mas, manis banget."


"Itu pas saya terdesak, kali ini enggak."


"Ya gak boleh gitu, kan kita mau mulai semuanya dari awal. Kamu panggil saya mas, biar manis."


"Siapa yang mau mulai lagi? Balikan sama kamu?"


Alan sengaja mengalihkan perhatian dengan mengatakan, "Ambil keperluan buat Nadia dulu, Nan."


"Apa?"


"Lha, kamu yang tau, mulai dari bedak, baju, popok, sama apa aja sih."


Inanti diam, dia membutuhkan itu.

__ADS_1


"Jangan malu malu, kan Mas Alan ini suami kamu."


"Apasih ih narsis banget, liat aja, saya akan ngabisin uang kamu."


"Abisin, Nan," ucap Alan sambil tertawa melihat Inanti yang bergerak pergi.


Alan menatap Nadia. "Dede ngopi aja ya sama Papa, biar Mama yang belanja."


Saat Alan menunggu di jajaran makanan, Inanti berbelanja kebutuhan Nadia selengkap lengkapnya. Jarang jarang dia mendapatkan uang jajan sebesar ini dari Alan, Inanti tidak akan menyia nyiakan kesempatan.


Dan setelah satu troli penuh oleh kebutuhan Nadia, Inanti mencari keberadaan Alan. Sampai dia menemukannya, Inanti mendekat.


"Udah," ucap Inanti.


Inanti mengerutkan keningnya saat melihat Nadia tidur dalam kereta bayi berwana pink. "Dari man ini?"


"Beli lah, masa maling, Nan."


Inanti melihat Nadia yang tidur nyenyak. Aneh jika Nadia tidur tanpa menyusu pada ibunya.


"Ambil troli lain, Nan. Beli makanan buat di apartemen."


Inanti diam, dia merasa haus.


"Mau minum? Nih, kopinya enak."


Yang benar saja bekas Alan. Inanti menjadi gengsi dan ingin menjunjung harga dirinya di depan Alan, jadi dia pergi begitu saja.


"Apalagi sih ih?"


"Tenang dulu napa, sini."


"Apaan?"


"Sini bentar."


Terpaksa Inanti mendekat.


"Apa?"


"Beliin saya boxer ya."


🌹🌹🌹


Inanti malu malu pergi ke bagian pakaian pria, dia mana tau ukuran Alan, jadi mengambil yang dia lihat saja. Rasanya sangat malu, apalagi ada pelayan yang bertanya banyak padanya.


"Nan?"


"Astagfirullah," ucap Inanti memegang dadanya. "Jangan muncul tiba tiba!"

__ADS_1


"Siapa yang muncul tiba tiba? Emang saya jin? Ha ha ha."


"Tuh udah."


"Masa…., inimah se*pak, Nan. Gimana sih?"


"Ya saya mana tau, sana belanja sendiri. Biar saya yang pegang Nadia," ucap Inanti memaksa mengambil alih kereta bayi Nadia.


"Galak amat mama ya, De."


"Gausah ngomong, Nadia lagi tidur."


"Beli mie yu, Nan."


"Beli aja sendiri."


"Saya kan gak tau kamu sukanya apa aja, ya kali nanti saya beli keju, eh kamunya suka singkong."


"Kamu ledek saya?!"


"Enggak, Nan. Gak usah marah marah, nanti cepet tua. Ya, De, ya?" Tanya Alan disertai gurauan.


"Troli yang tadi mana?"


"Udah di handle sama si asep."


"Panggilnya 'Mang.' kali, dia lebih tua dari kamu."


"Berarti kamu juga harus manggil saya Mas, dong. Saya lebih tua dari kamu."


Inanti berdecak. "Kata Mas dari saya itu mahal, kamu gak akan dapet gitu aja," ucap Inanti lalu berjalan lebih dulu.


Alan tertawa di sana, dia melangkah menyusul. "Mau disogok pake apa segala mahal gitu? Duit? Emas? Rumah? Bilang aja nanti saya kasih."


Dan tanpa diduga, Inanti bergumam pelan, "Mas batangan."


Dan Alan menndengarnya. Seketika dia menelpon Karl yang tidak lain adalah sekretarisnya yang kini mengambil alih tugasnya di perusahaan jika Alan kuliah.


Pria paruh baya itu mengangkat telponnya. "Ada apa, Tuan?"


"Belikan saya lima puluh mas batangan. Bawa ke apartemen."


"Baik, Tuan."


Setelah menutup telpon, Alan kembali menyusul Inanti. "Naannn… tau gak?"


"Gak tau ih! Jauh jauh sana ih!"


🌹🌹🌹

__ADS_1


TBC


__ADS_2